Janji 15 Poin IQ dan 19.000 Sapi: Ketika MBG Lebih Nyaring dari Realitas

- Penulis

Jumat, 27 Februari 2026 - 04:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ali Achmadi, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Konon, anak negeri ini akan melonjak 15 poin IQ hanya karena satu program makan. Namanya terdengar gagah: MBG. Lima belas poin. Bukan satu. Bukan dua. Lima belas. Seolah-olah kecerdasan itu seperti kuota internet: tinggal diisi paket, langsung ngebut.

Bahkan ada yang lebih heroik lagi. Tinggi badan anak Indonesia, katanya, bisa tembus 180 sentimeter. Serentak. Massal. Nasional. Kita seperti sedang menunggu angkatan baru tim basket raksasa lahir dari dapur program MBG.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap hari dipotong 19.000 ekor sapi. Angkanya terdengar ngeri. Seolah-olah rumah potong hewan berdetak seperti jantung kedua republik ini. Belum lagi satu ekor ikan lele utuh per anak. Utuh. Bukan setengah. Bukan fillet. Utuh. Kalimat-kalimatnya terdengar seperti brosur surga nutrisi.

Baca Juga :  Pemecatan Kepala BGN Momentum Penting Memperketat Tata Kelola Makan Bergizi Gratis

Dan tentu saja, ada bonus moralnya: membantu UMKM. Menggerakkan ekonomi rakyat. Menghidupkan desa. Membuat petani tersenyum. Membuat peternak bersorak. Semua terdengar sempurna. Masalahnya, kesempurnaan sering hanya hidup di podium, di meja-meja rapat.

Di lapangan, cerita berbeda. Menu yang sampai ke tangan anak-anak kadang memprihatinkan. Porsi yang jauh dari janji. Protein yang lebih mirip bayangan. Sayur yang sekadar lewat.

Anak-anak tetap makan. Karena lapar tidak pernah idealis. Tapi apakah itu cukup untuk menaikkan 15 poin IQ? IQ bukan bensin di kendaraan bermotor yang tinggal diisi lalu jarum spedo langsung naik.

Kecerdasan lahir dari gizi yang konsisten, lingkungan yang mendukung, guru yang berkualitas, dan rumah yang aman. Bukan dari satu kotak makan yang datang lalu pergi. Dan tinggi 180 sentimeter? Genetika mungkin ikut tersenyum kecil membaca klaim itu.

Baca Juga :  Ulat dan Belalang Bisa Jadi Sumber Protein untuk Makan Bergizi Gratis: Ah, Masak Gitu Sih? Yang Benar aja ....

Program sosial memang perlu optimisme. Tapi optimisme yang dilebih-lebihkan sering berubah menjadi komedi. Lebih berbahaya lagi kalau komedi itu dibiayai dengan anggaran besar dan harapan rakyat kecil.

Yang dibutuhkan anak-anak sebenarnya sederhana: makanan yang benar-benar bergizi, bukan angka-angka yang bombastis. Kalau memang tiap hari 19.000 sapi dipotong, pastikan sapinya ada dan dagingnya sampai. Kalau memang lele utuh dibagikan, pastikan bukan hanya cerita yang utuh.

Kalau memang ingin bantu UMKM, pastikan uangnya tidak berhenti di meja rapat. Negeri ini tidak kekurangan program. Yang sering kurang adalah kejujuran angka dan keberanian evaluasi.

Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan bangsa bukanlah klaim 15 poin IQ, melainkan seberapa serius kita memperlakukan sepiring nasi di tangan seorang anak. Sisanya? Biarlah jadi bahan pidato. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa
Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum
Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi
Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama
Untuk Apa Calon Pegawai Koperasi Desa Dimiliterisasi?
Ketika Makan Bergizi Gratis Kehilangan Kepercayaan Siswa
Buat Apa Jokowi Sibuk Melakukan Safari?
Kemanusiaan di Titik Nadir: Ketika Rumah Sakit Menjadi Jarahan Perang
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:25 WIB

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:19 WIB

Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:50 WIB

Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:34 WIB

Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:01 WIB

Untuk Apa Calon Pegawai Koperasi Desa Dimiliterisasi?

Berita Terbaru