Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi

"Bukan Sekadar Uang Saku, Dukungan dan Kata-Kata Positif dari Orang Tua Terbukti Menjadi Suntikan Semangat yang Membantu Mahasiswa Perantau Bertahan Menghadapi Tekanan Kuliah hingga Menyelesaikan Studi."

- Penulis

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Haifa Nabila Humairoo, Mahasiswa Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kuliah jauh dari rumah bukan cuma soal akademik. Banyak mahasiswa yang merantau harus menghadapi dua beban sekaligus: mengejar target akademik yang berat, dan di waktu yang sama membangun ulang kehidupan sosialnya dari nol di kota asing.

Rasa rindu rumah, kesulitan beradaptasi, dan minimnya orang-orang dekat yang bisa diandalkan setiap hari, semua itu bisa perlahan menggerus semangat belajar seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan hal sepele krisis motivasi semacam ini bisa muncul kapan saja, baik di awal masa kuliah saat masih canggung dengan lingkungan baru, maupun di tingkat akhir saat tekanan skripsi dan ekspektasi menumpuk.

Di tengah situasi seperti itu, dukungan dari orang tua jadi sesuatu yang sangat berarti, terutama dalam bentuk kata-kata. Saya melihat afirmasi positif pujian, ungkapan percaya, dorongan semangat sebagai salah satu bentuk dukungan yang paling murah tapi paling berdampak.

Berbeda dengan dukungan berupa uang atau fasilitas yang terbatas oleh jarak, kata-kata penyemangat bisa sampai kapan saja, lewat telepon, chat, atau video call, tanpa terhalang jarak geografis.

Justru karena orang tua tidak bisa hadir secara fisik, kata-kata jadi jembatan emosional yang menggantikan pelukan atau kehadiran langsung.

Menurut pengamatan saya, afirmasi ini sebenarnya punya tiga wajah yang saling melengkapi. Pertama, afirmasi verbal pujian atau ucapan percaya yang sifatnya langsung dan jangka pendek, semacam “kamu pasti bisa” saat anak sedang stres menghadapi tugas.

Kedua, afirmasi emosional bentuk empati dan validasi perasaan, semacam mengakui bahwa perjuangan anak itu memang berat dan wajar merasa lelah.

Baca Juga :  Mengenal Sistem Perbankan Syariah di Era Digital Indonesia

Ketiga, afirmasi aspiratif ungkapan harapan dan keyakinan akan masa depan anak, yang memberi arah jangka panjang supaya anak tidak kehilangan tujuan di tengah rutinitas yang melelahkan.

Ketiganya berjalan bersama: yang satu menopang semangat hari itu, yang lain memberi rasa dipahami, dan yang lain lagi menjaga mata tetap fokus ke depan.

Yang menarik, afirmasi ini tidak cuma soal perasaan enak sesaat. Saya rasa efeknya lebih dalam dari itu.

Ketika seorang anak terus-menerus mendengar bahwa dirinya dipercaya dan dianggap mampu, keyakinan itu perlahan menjadi bagian dari cara dia memandang dirinya sendiri.

Rasa percaya diri semacam ini kemudian menjadi bekal saat menghadapi kegagalan entah nilai yang jatuh, revisi skripsi yang berulang, atau rasa capek menghadapi rutinitas kuliah.

Mahasiswa yang merasa didukung cenderung lebih mudah bangkit, sementara yang tidak punya bekal semacam ini lebih rentan terjerumus pada penundaan, kehilangan arah, bahkan keinginan untuk berhenti kuliah.

Saya juga melihat ada perbedaan besar antara mahasiswa yang sejak kecil punya kedekatan emosional yang aman dengan orang tuanya, dibanding yang tidak.

Mahasiswa dengan hubungan yang hangat dan aman biasanya lebih tahan menghadapi rasa rindu rumah dan tekanan hidup mandiri, karena mereka merasa selalu punya “rumah emosional” untuk kembali meski secara fisik terpisah jauh.

Sebaliknya, mahasiswa yang kelekatannya kurang aman lebih mudah goyah saat menghadapi tekanan yang sama. Ini menunjukkan bahwa pola komunikasi dan kedekatan yang dibangun sejak dulu punya pengaruh panjang, bukan cuma berlaku saat anak masih tinggal serumah.

Baca Juga :  Ketika Rupiah Menjadi Cermin Kegelisahan Publik

Satu hal yang menurut saya penting untuk digarisbawahi: dukungan sosial dari teman atau lingkungan baru memang membantu, tapi tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran orang tua.

Ada sesuatu yang khas dari dukungan keluarga rasa dipercaya oleh orang yang mengenal kita sejak lahir yang sulit ditiru oleh hubungan pertemanan sekalipun.

Karena itu saya berpendapat bahwa komunikasi rutin, meski singkat, antara orang tua dan anak yang merantau seharusnya jadi kebiasaan yang dijaga, bukan sekadar formalitas menanyakan kabar atau uang bulanan.

Dari semua ini, kesimpulan yang saya tarik adalah: menyelesaikan studi bagi mahasiswa perantau bukan cuma soal kemampuan otak atau kerja keras individu.

Ada faktor emosional yang sering diabaikan, padahal pengaruhnya nyata terhadap apakah seseorang bisa bertahan sampai lulus atau justru menyerah di tengah jalan.

Orang tua perlu menyadari bahwa kata-kata sederhana yang mereka ucapkan lewat telepon punya bobot psikologis yang jauh lebih besar dari yang mereka kira.

Dan di sisi lain, kampus juga sebaiknya tidak menutup mata terhadap sisi emosional mahasiswanya misalnya dengan membuka ruang komunikasi antara orang tua dan pihak kampus, atau program pendampingan yang melibatkan keluarga sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan cuma penonton dari jauh.

Pada akhirnya, menurut saya, keberhasilan seorang mahasiswa perantau menyelesaikan studinya adalah hasil kerja sama tiga pihak: usaha individu mahasiswa itu sendiri, kehangatan dukungan dari keluarga meski terhalang jarak, dan kepedulian institusi pendidikan terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswanya.

Ketiganya harus berjalan bersama, karena mengabaikan salah satunya bisa membuat proses kuliah terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya. (Red)

 

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa
Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum
Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama
Untuk Apa Calon Pegawai Koperasi Desa Dimiliterisasi?
Ketika Makan Bergizi Gratis Kehilangan Kepercayaan Siswa
Buat Apa Jokowi Sibuk Melakukan Safari?
Kemanusiaan di Titik Nadir: Ketika Rumah Sakit Menjadi Jarahan Perang
Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Berita ini 45 kali dibaca

2 Komentar

  • Semangat adik bungsuku yang hampir tiap hari kami video call. Semoga kuliahnya lancar, cepat lulus sehingga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

  • Lama sudah gak baca tulisan personal gini yg enak dan ngalir banget dibaca nya. Asyik dan mudah dicerna. Dan menurut saya pribadi yg tulisan beneran niat dan hampir pasti gak perlu bantuan ai buat memperhalus nya. Suka gaya tulisan gini. Terima kasih

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:25 WIB

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:19 WIB

Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:50 WIB

Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:34 WIB

Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama

Selasa, 30 Juni 2026 - 20:01 WIB

Untuk Apa Calon Pegawai Koperasi Desa Dimiliterisasi?

Berita Terbaru