Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Banyak anak mungkin tidak terlalu cemas dengan nilai yang akan mereka terima saat pembagian rapor. Yang mereka tunggu justru hal yang lebih sederhana.
Apakah ayahnya datang. Apakah orang yang selama ini bekerja dari pagi hingga malam itu meluangkan sedikit waktunya untuk hadir di sekolah. Karena bagi seorang anak, kehadiran ayah sering kali lebih membekas daripada angka yang tertulis di lembar rapor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di banyak sekolah, terutama pada jenjang SMP/MTs dan SMA/MA/SMK, pemandangan yang lebih sering terlihat adalah ibu yang datang mengambil rapor. Ibu yang menunggu di ruang kelas. Ibu yang berbincang dengan wali kelas. Ibu yang membawa pulang hasil belajar anak.
Sementara ayah?
Sering kali sedang bekerja. Sedang di toko. Sedang di sawah. Sedang mengantar barang. Sedang mengejar target. Sedang mencari nafkah. Alasannya masuk akal. Karena memang tugas ayah adalah bekerja.
Tetapi ada satu hal yang kadang tidak disadari. Anak tidak selalu mengingat berapa banyak uang yang dibawa pulang ayah setiap bulan. Anak lebih sering mengingat kapan ayah hadir.
Mereka mengingat siapa yang duduk di sampingnya ketika dia belajar. Mereka mengingat siapa yang datang ketika mereka tampil di acara sekolah. Dan mereka juga mengingat siapa yang mengambil rapor mereka.
Bagi orang dewasa, rapor hanyalah selembar kertas berisi angka. Bagi seorang remaja, rapor sering kali lebih dari itu. Rapor adalah cerita tentang perjuangan selama satu semester.
Tentang tugas yang menumpuk. Tentang rasa takut ketika nilai ujian keluar. Tentang usaha memperbaiki nilai yang jelek. Tentang kebanggaan ketika hasilnya lebih baik dari sebelumnya.
Karena itu, ketika ayah datang mengambil rapor, sebenarnya yang diterima bukan hanya angka-angka. Yang diterima adalah cerita perjalanan anaknya. Dan ketika ayah meluangkan waktu hadir di sekolah, ada pesan yang diam-diam sampai kepada anak. “Ayah peduli.”
Tidak perlu diucapkan. Tidak perlu ditulis. Kehadiran itu sendiri sudah menjadi kalimat. Dalam dunia yang semakin sibuk, kehadiran justru menjadi barang yang mahal. Banyak orang tua mampu membelikan gawai terbaru. Mampu membayar les. Mampu memenuhi kebutuhan anak. Tetapi belum tentu mampu menyediakan waktu.
Padahal bagi remaja, waktu sering kali lebih berharga daripada barang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki keterlibatan ayah yang baik cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih kuat, kemampuan mengendalikan emosi yang lebih baik, dan lebih siap menghadapi tekanan hidup.
Logikanya sederhana. Anak yang merasa diperhatikan akan tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya berharga. Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah menghargai dirinya sendiri.
Dan anak yang percaya pada dirinya sendiri biasanya lebih siap menghadapi dunia. Itulah sebabnya kursi yang ditempati ayah saat pembagian rapor sesungguhnya bukan sekadar kursi. Ia adalah simbol.
Simbol bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah. Bukan hanya urusan guru. Bukan pula hanya urusan ibu. Pendidikan adalah kerja bersama. Guru mengajar. Ibu mendampingi. Ayah hadir. Ketiganya saling melengkapi.
Karena pada akhirnya masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh angka yang tercetak di rapor. Angka penting. Nilai penting. Prestasi juga penting. Tetapi ada sesuatu yang lebih menentukan.
Yaitu siapa saja yang memilih untuk berjalan bersama mereka dalam proses bertumbuh. Maka jika beberapa hari lagi sekolah membagikan rapor, mungkin ada baiknya para ayah meluangkan waktu.
Tutup toko sebentar. Tinggalkan pekerjaan satu atau dua jam. Datanglah ke sekolah. Ambillah rapor anak sendiri. Mungkin perjalanan itu hanya membutuhkan waktu beberapa puluh menit. Tetapi kenangan yang ditinggalkan bisa bertahan puluhan tahun.
Dan suatu hari nanti, ketika anak sudah dewasa, boleh jadi mereka tidak lagi mengingat nilai matematika atau nilai bahasa Inggris yang tertera di rapor itu. Tetapi mereka akan mengingat satu hal: “Ayah pernah datang untukku.” (Red)













Komentar