‘Macan Ternak’ Sudah Masuk Kampung

"Fenomena "Macan Ternak" tak lagi hanya milik sekolah elite kota besar. Di kampung-kampung, pagar sekolah perlahan berubah menjadi arena gengsi sosial yang membuat biaya pendidikan terasa semakin mahal"

- Penulis

Senin, 15 Juni 2026 - 08:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sumber gambar: pinterest. (Foto di atas hanyalah ilustrasi, yang dipublish ulang tanpa maksud apapun)

Sumber gambar: pinterest. (Foto di atas hanyalah ilustrasi, yang dipublish ulang tanpa maksud apapun)

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan dan pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dulu, yang mengantar anak ke PAUD atau TK itu ya orang tua biasa. Ada yang naik sepeda motor sambil masih mengenakan daster.

Ada yang buru-buru karena harus ke sawah atau ke pasar. Ada yang habis menyapu halaman lalu langsung berangkat mengantar anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fokusnya satu: anak sekolah. Sekarang situasinya mulai berubah.

Pelan-pelan. Tapi pasti. Fenomena yang dulu hanya ditemukan di PAUD, TK, dan RA elite di kota-kota besar kini sudah merambah ke kampung-kampung.

Namanya: Macan Ternak. Mama Cantik Anter Anak. Istilah yang awalnya hanya guyonan. Lama-lama menjadi kenyataan sosial.

Jam tujuh pagi. Gerbang sekolah dibuka. Anak-anak turun dari motor atau mobil.

Tapi yang menarik perhatian justru bukan anak-anaknya. Melainkan para mama bundaya (panggilan ibu, apalagi emak sekarang sudah ngga laku)

Lipstik sudah sempurna. Alis sudah presisi.
Parfum tercium bahkan sebelum kendaraan berhenti.

Tas yang dibawa kadang lebih mahal daripada uang masuk sekolah anaknya.
Sepatu mengkilap.
Kacamata hitam.

Seolah yang sedang hadir bukan orang tua murid yang lagi nganter anak sekolah, melainkan pembukaan butik baru.

Anak-anak masuk kelas. Para ibu belum pulang. Masih ada agenda penting. Ngobrol. Ngegosip. Update status. Foto-foto. Dan tentu saja… saling mengamati.

Karena di dunia Macan Ternak, absensi bukan diukur dari kehadiran. Tetapi dari penampilan.

Yang lebih menarik, mereka mulai membentuk habitatnya sendiri.

Ada kubu motor matic premium. Ada kubu mobil keluarga. Ada kubu istri pengusaha. Ada kubu istri pejabat. Ada kubu yang merasa calon pejabat.

Baca Juga :  Membumisasi Nilai-nilai Pancasila di Ruang Digital

Ada pula kubu yang belum jelas apa-apa tetapi sudah bergaya seperti pemilik setengah kecamatan. Mereka berkumpul berdasarkan frekuensi sosial yang sama.

Yang tasnya selevel, nongkrongnya selevel. Yang arisannya selevel, ngobrolnya selevel.
Yang cicilannya selevel, curhatnya juga selevel.

Sementara ibu-ibu biasa?
Sering kali memilih diam.
Duduk di sudut. Atau langsung pulang setelah mengantar anak.

Bukan karena tidak ramah.
Tetapi karena merasa tidak masuk dalam lingkaran pergaulan tersebut.

Tanpa disadari, pagar sekolah berubah menjadi arena stratifikasi sosial. Padahal yang sekolah anak-anak. Yang berlomba justru orang tuanya.

Lucunya lagi, persaingan itu sering tidak diakui. Kalau ditanya, semua akan menjawab: “Kami biasa saja kok.”

Kalimat “biasa saja” itu biasanya diucapkan sambil membawa tas yang harganya setara satu ekor kambing.

Atau sambil memamerkan foto ketika jalan-di mall. Atau sambil membahas tempat les anak yang biaya bulanannya hampir sama dengan cicilan rumah tipe 21.

Semua tampak biasa.
Sampai suaminya melihat mutasi rekening. Barulah terlihat luar biasanya.

Di sinilah biaya pendidikan diam-diam ikut naik. Bukan karena sekolah menaikkan SPP. Bukan karena guru meminta tambahan uang.

Melainkan karena muncul biaya-biaya sosial yang tidak tertulis. Biaya menjaga gengsi. Biaya menjaga citra. Biaya agar tidak dianggap ketinggalan. Biaya agar tidak merasa kalah.

Biaya yang tidak pernah tercantum dalam brosur penerimaan siswa baru. Tetapi justru paling menguras dompet keluarga.

Anak minta pensil. Yang dibeli satu paket karakter impor. Anak minta botol minum. Yang datang botol limited edition. Anak butuh tas. Yang dibeli tas yang lebih cocok dipakai influencer.

Akhirnya sekolah belum mahal. Tapi gaya hidup di sekitar sekolah yang membuatnya terasa mahal.

Baca Juga :  Membakar Sampah, Membakar Harapan: Saatnya Berubah!

Yang paling kasihan tentu para ayah. Mereka berangkat pagi. Pulang sore. Berjuang menghadapi target pekerjaan. Bergelut dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Lalu sesampainya di rumah mendapat laporan:
Yah, si Fulan tasnya baru.”
“Yah, si Anu anaknya ikut les ini.”
“Yah, ibu itu pakai mobil baru.”

Awalnya hanya informasi.
Besoknya berubah menjadi usulan.
Lusa menjadi permintaan.
Minggu depan menjadi tagihan.

Ayah pun mulai memahami satu kenyataan pahit. Ternyata biaya pendidikan anak sekarang tidak hanya terdiri dari SPP, seragam, dan buku.

Ada satu komponen baru yang jauh lebih mahal. Namanya: kompetisi orang tua.

Tentu tidak semua mama muda seperti itu. Masih banyak ibu yang datang sederhana. Yang fokusnya benar-benar pendidikan anak.

Yang datang ke sekolah untuk mendukung proses belajar, bukan untuk mengikuti peragaan busana harian.

Merekalah yang sering terlupakan. Padahal justru mereka yang paling mengerti hakikat pendidikan. Bahwa sekolah bukan panggung sosial. Bukan arena adu status. Bukan tempat memamerkan isi dompet.

Sekolah adalah tempat anak belajar. Bukan tempat orang tua berlomba.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan masa depan anak bukan merek tas mamanya. Bukan jenis parfum bundanya. Bukan ukuran geng sosial orang tuanya.

Melainkan karakter, ilmu, dan nilai-nilai yang ditanamkan setiap hari. Karena anak-anak tidak pernah peduli ibunya tergabung dalam geng mana. Mereka hanya peduli satu hal: “Hari ini Mama menemaniku atau tidak?” (Red)

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 90 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru