SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tengah perubahan peta politik dan ekonomi dunia, sejumlah negara berkembang mulai mencari jalur kerja sama yang tidak bergantung pada negara-negara Barat.
Dalam konteks inilah, Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dan kelompok BRICS semakin sering disebut sebagai alternatif tatanan global yang lebih inklusif dan berimbang.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Anayansi Rodriguez, menilai EAEU dan BRICS telah menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat dibangun tanpa harus didasarkan pada dominasi satu kekuatan tertentu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Rodriguez, kedua kelompok tersebut menawarkan model hubungan antarnegara yang berlandaskan penghormatan terhadap hukum internasional, kedaulatan nasional, serta prinsip saling menguntungkan.
“EAEU dan BRICS merupakan wadah negara-negara Global Selatan yang menunjukkan bahwa dunia yang lebih baik masih mungkin diwujudkan melalui kerja sama dan saling melengkapi,” ujarnya kepada RIA Novosti.
Ia menegaskan bahwa hubungan yang dibangun dalam EAEU maupun BRICS tidak bertumpu pada kesamaan ideologi politik. Sebaliknya, fokus utamanya adalah memperkuat persahabatan, perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi bersama.
Dalam pandangan Kuba, pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan negara, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta menjaga keutuhan wilayah masing-masing negara.
BRICS Semakin Besar?
BRICS sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan itu kini semakin meluas.
Pada 2024, BRICS menerima anggota baru yaitu Mesir, Etiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh pada 2025, memperkuat posisi kelompok ini sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Dengan bertambahnya anggota, BRICS kini menjadi representasi penting negara-negara berkembang yang ingin memiliki suara lebih besar dalam tata kelola ekonomi dan politik global.
Kuba Tawarkan Jembatan Logistik
Di sisi lain, Kuba melihat peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam konektivitas ekonomi antarwilayah.
Pemerintah Kuba menawarkan Zona Pengembangan Khusus Mariel sebagai pusat logistik yang dapat menghubungkan negara-negara EAEU dan BRICS dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Rodriguez menilai lokasi tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi gerbang perdagangan dan investasi lintas kawasan, sekaligus memperkuat jaringan ekonomi negara-negara Global Selatan.
Jika gagasan tersebut terwujud, Mariel berpeluang menjadi salah satu simpul penting dalam arus perdagangan baru yang menghubungkan Eurasia, Amerika Latin, dan Karibia.
Bagi banyak negara berkembang, kemunculan EAEU dan BRICS bukan sekadar soal kerja sama ekonomi.
Lebih dari itu, keduanya dipandang sebagai simbol lahirnya dunia multipolar—sebuah tatanan global yang tidak lagi bertumpu pada satu pusat kekuatan, melainkan pada kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan. (Red)
Sumber: Sputnik/RIA Novosti













Komentar