EAEU dan BRICS: Penantang Baru Dominasi Barat di Panggung Global

- Penulis

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi BRICS/ sumber; pinterest

Ilustrasi BRICS/ sumber; pinterest

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di tengah perubahan peta politik dan ekonomi dunia, sejumlah negara berkembang mulai mencari jalur kerja sama yang tidak bergantung pada negara-negara Barat.

Dalam konteks inilah, Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dan kelompok BRICS semakin sering disebut sebagai alternatif tatanan global yang lebih inklusif dan berimbang.

Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Anayansi Rodriguez, menilai EAEU dan BRICS telah menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat dibangun tanpa harus didasarkan pada dominasi satu kekuatan tertentu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Rodriguez, kedua kelompok tersebut menawarkan model hubungan antarnegara yang berlandaskan penghormatan terhadap hukum internasional, kedaulatan nasional, serta prinsip saling menguntungkan.

“EAEU dan BRICS merupakan wadah negara-negara Global Selatan yang menunjukkan bahwa dunia yang lebih baik masih mungkin diwujudkan melalui kerja sama dan saling melengkapi,” ujarnya kepada RIA Novosti.

Ia menegaskan bahwa hubungan yang dibangun dalam EAEU maupun BRICS tidak bertumpu pada kesamaan ideologi politik. Sebaliknya, fokus utamanya adalah memperkuat persahabatan, perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi bersama.

Baca Juga :  Timur Tengah Makin Membara! Kini, AS Blak-blakan Serang Iran

Dalam pandangan Kuba, pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan negara, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta menjaga keutuhan wilayah masing-masing negara.

BRICS Semakin Besar? 

BRICS sendiri terus menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan itu kini semakin meluas.

Pada 2024, BRICS menerima anggota baru yaitu Mesir, Etiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh pada 2025, memperkuat posisi kelompok ini sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

Dengan bertambahnya anggota, BRICS kini menjadi representasi penting negara-negara berkembang yang ingin memiliki suara lebih besar dalam tata kelola ekonomi dan politik global.

Baca Juga :  Dari Soekarno ke Prabowo: Kunjungan Strategis Brian Yuliarto ke Rusia Wujudkan Impian Nuklir Indonesia

Kuba Tawarkan Jembatan Logistik

Di sisi lain, Kuba melihat peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam konektivitas ekonomi antarwilayah.

Pemerintah Kuba menawarkan Zona Pengembangan Khusus Mariel sebagai pusat logistik yang dapat menghubungkan negara-negara EAEU dan BRICS dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Rodriguez menilai lokasi tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi gerbang perdagangan dan investasi lintas kawasan, sekaligus memperkuat jaringan ekonomi negara-negara Global Selatan.

Jika gagasan tersebut terwujud, Mariel berpeluang menjadi salah satu simpul penting dalam arus perdagangan baru yang menghubungkan Eurasia, Amerika Latin, dan Karibia.

Bagi banyak negara berkembang, kemunculan EAEU dan BRICS bukan sekadar soal kerja sama ekonomi.

Lebih dari itu, keduanya dipandang sebagai simbol lahirnya dunia multipolar—sebuah tatanan global yang tidak lagi bertumpu pada satu pusat kekuatan, melainkan pada kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan. (Red)

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok
EEF 2026 Resmi Dibuka di Vladivostok, Prabowo Subianto Hadir di Tengah 70 Negara
80 Negara di Vladivostok Rusia, VEF 2026 Siap Buka Babak Baru Kerja Sama Asia-Rusia
Bendera Rusia Kembali ke Podium: Isolasi Olahraga Mulai Retak di 2026
Berita ini 47 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Rabu, 9 September 2026 - 07:53 WIB

Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia

Senin, 7 September 2026 - 17:38 WIB

EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral

Jumat, 4 September 2026 - 12:13 WIB

Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas

Kamis, 3 September 2026 - 18:51 WIB

Prabowo di Rusia: Samudra Pasifik Penghubung, Indonesia Tegaskan Posisi Non-Blok

Berita Terbaru

OPINI

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 17 Sep 2026 - 08:25 WIB

RAGAM

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:44 WIB