Oleh: Krisogonus Kusman, Mahasiswa Filsafat pada IFTK Ledalero
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Beberapa waktu lalu, beredar video dan berita mengenai Jembatan Merah Putih, atau yang dikenal sebagai Jembatan Gantung Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Jembatan tersebut ambruk saat dilintasi sejumlah pejabat pada momen peresmiannya (Kompas. id, 31 Agustus 2026).
Peristiwa ini memicu berbagai tanggapan publik. Peresmian dihadiri oleh Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, bersama Dandim 0625 Pangandaran serta sejumlah pejabat lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik ramai memperbincangkan tiga poin utama, yaitu: kualitas pembangunan, kemeriahan peresmian yang dianggap berlebihan, dan aturan yang tertera pada papan informasi di dekat jembatan.
Berdasarkan video yang beredar, jembatan mulai ambruk ketika Bupati, Dandim, dan rombongan mencoba melintas secara bersamaan setelah pemotongan pita. Tepat di bagian tengah, struktur jembatan gagal menahan beban.
Dugaan awal mengarah pada kelebihan muatan akibat banyaknya orang yang melintas secara bersamaan. Tentu ada korban dalam insiden ini. Entah itu masyarakat atau pihak pemerintah, fokus kita sebaiknya tidak hanya pada siapa korbannya, melainkan pada proses pencegahan yang seharusnya terjadi.
Menanggapi peristiwa tersebut, saya tertarik menyoroti satu aspek yang sering luput dari perhatian, yaitu papan informasi. Terlepas dari isu kualitas konstruksi atau protokol peresmian, saya ingin mencari tahu, kira-kira apa fungsi papan informasi tersebut? Jawabannya sangat jelas, untuk keselamatan.
Lalu, mengapa peristiwa itu tetap terjadi? Apakah mereka tidak melihat papan tersebut? Atau mereka melihatnya tetapi tidak membacanya? Atau mungkin mereka membacanya, namun tidak memahaminya?
Membaca untuk Memahami
Saya teringat dengan John Locke, seorang filsuf Inggris. Ia pernah berkata, “Membaca hanya menyediakan materi pengetahuan bagi kita. Berpikir dan merenunglah yang membuat apa yang kita baca menjadi milik kita.”
Saya berpendapat bahwa membaca merupakan tindakan yang sangat bermanfaat bagi manusia. Dengan membaca, seseorang bisa memiliki jalan menuju pengetahuan. Namun, membaca bukan sekadar aktivitas visual melewati deretan huruf.
Membaca harus melibatkan akal budi untuk berpikir kritis tentang apa yang sedang dibaca. Kualitas membaca tidak diukur dari seberapa banyak bahan bacaan yang diselesaikan atau seberapa panjang tulisan yang dilahap, melainkan seberapa dalam pemahaman kita terhadap makna teks tersebut. Percuma membaca teks panjang jika kita gagal menangkap maksud utamanya bagi diri kita dan orang lain.
Kembali ke kasus jembatan gantung, mengapa tulisan pendek dan singkat pada papan informasi tersebut diabaikan? Jika mereka membacanya tetapi tidak memahami implikasinya, ini menunjukkan bahwa kualitas literasi pemahaman di negara kita masih perlu diperbaiki.
Ada kemungkinan ekstrim bahwa papan informasi tersebut hanya dipasang sebagai asesori pajangan agar terlihat keren? Atau justru papan tersebut dipasang setelah peristiwa terjadi?
Saya tidak memiliki bukti pasti mengenai hal itu. Namun, asumsi terbaik adalah papan tersebut dipasang dengan niat baik: agar dibaca, dipahami, dan dipatuhi.
Memahami untuk Keselamatan
Memahami apa yang dibaca jauh lebih penting daripada sekadar membaca. Barangkali, membaca tanpa memahami menjadi sesuatu yang sia-sia, dan memahami tanpa membaca adalah hal yang mustahil. Maka, membaca dan memahami adalah satu kesatuan yang mesti diperhatikan menuju keselamatan.
Saya berkeyakinan, ambruknya jembatan gantung baru tersebut tidak akan terjadi jika semua orang yang hadir saat itu benar-benar membaca, memahami, dan (yang paling penting) mematuhi instruksi pada papan informasi. Setelah memahami, tindakan selanjutnya adalah kepatuhan. Tujuannya apa? Keselamatan.
Keselamatan tidak semata-mata turun dari langit. Tuhan memberikan akal budi kepada manusia sebagai anugerah untuk menjaga diri. Akal budi tersebut harus terus diasah, salah satunya melalui pendidikan.
Sayangnya, banyak pihak yang masih meremehkan pentingnya pendidikan dan literasi. Tidak heran jika kemampuan membaca secara kritis dan memahami instruksi keselamatan masih minim. Bukti nyatanya adalah tragedi jembatan gantung tersebut.
Oleh karena itu, sebelum melakukan suatu tindakan, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur publik, kita mesti terlebih dahulu membaca dan memahami panduan yang tersedia.
Pada kasus ini, papan informasi dengan jelas menyatakan bahwa jembatan hanya boleh dilalui oleh tiga orang sekaligus. Tidak lebih. Aturan ini terlepas dari kegunaan atau fungsi jembatan yang sebenarnya, yang secara teknis mungkin tidak punya batasan untuk dilalui. Namun, dalam konteks jembatan gantung tersebut, aturan batas beban adalah mutlak demi keselamatan.
Tragedi ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Dalam konteks apa pun itu. Bahwasanya, literasi tidak hanya soal mampu mengeja, tetapi soal keselamatan melalui pemahaman. (Red)













Komentar