SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Suasana Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) mendadak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena jadwal kuliah, melainkan ratusan mahasiswa memadati Gedung Teater untuk mengikuti Sekolah Advokasi yang digelar kolaborasi BEM FISIP, BEM Hukum, dan BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Jumat (4/7/2026).
Mengusung tema “Suara yang Bergerak, Aksi yang Berdampak“, kegiatan ini diikuti lebih dari 100 mahasiswa yang antusias belajar tentang cara menyampaikan aspirasi secara cerdas, kritis, dan berdampak.
Acara dibuka langsung oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Dr. Hasan, serta Dekan FISIP, Dr. Ali Martin. Keduanya memberikan motivasi agar mahasiswa tidak hanya aktif di ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang bikin acara makin seru, panitia menghadirkan tiga narasumber berpengalaman di dunia organisasi dan advokasi.
Mereka adalah Kevin Priambodo selaku Presiden BEM Unissula, Muhammad Nabil Mualif selaku Ketua HMI Cabang Semarang, serta Naufal Sebastian, advokat dari Amarta Law Firm. Ketiganya juga dikenal sebagai aktivis HMI Kota Semarang.
Selama sesi diskusi, para narasumber mengajak peserta memahami bahwa menyampaikan aspirasi tidak cukup hanya bermodal keberanian. Aspirasi juga harus didukung data, fakta, serta dasar hukum agar mampu menghasilkan perubahan nyata.
Diskusi berlangsung interaktif. Para mahasiswa aktif bertanya dan berbagi pandangan mengenai berbagai persoalan yang sering ditemui, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memahami langkah-langkah advokasi yang tepat serta memiliki bekal untuk mengambil keputusan saat menyuarakan kepentingan publik secara bertanggung jawab.
Ketua BEM FISIP Unwahas, Tasya Ayu, mengatakan Sekolah Advokasi digelar untuk mengubah cara pandang mahasiswa terhadap advokasi.
“Tujuan Sekolah Advokasi adalah mengajarkan bahwa advokasi bukan sekadar keberanian berbicara. Tanpa data, fakta, dan dasar hukum, sebuah aspirasi hanya akan menjadi keluhan biasa yang sulit didengar,” ujarnya. (Red)













Komentar