SUARAMUDA.NET, LAMONGAN — Kalau kamu berada di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, jangan heran jika dini hari terasa seperti berada di daerah pegunungan. Saat sebagian orang masih terlelap, udara dingin mulai “menusuk” kulit. Inilah fenomena bediding, tamu tahunan yang selalu datang setiap puncak musim kemarau.
Memasuki Agustus 2026, bediding diperkirakan kembali mencapai puncaknya. Suhu udara pada dini hari bisa turun hingga kisaran 23–25 derajat Celsius, jauh berbeda dengan suhu siang hari yang mampu menembus 32–34 derajat Celsius.
Perbedaan suhu yang ekstrem itu membuat udara terasa lebih dingin, apalagi di wilayah Babatan yang berada di kawasan dataran lebih tinggi dibandingkan sebagian besar wilayah Lamongan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya hawa dingin yang terasa, embun tebal dan kabut tipis juga mulai rutin menyelimuti kawasan tersebut setiap pagi. Kondisi paling dingin biasanya terjadi antara pukul 02.00 hingga 05.30 WIB, saat panas bumi terlepas ke atmosfer karena langit cerah tanpa banyak awan.
Menurut penjelasan BMKG, ada tiga faktor utama yang menyebabkan fenomena bediding. Pertama, proses radiasi balik bumi saat malam hari. Kedua, masuknya angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin dari selatan. Ketiga, karakter topografi serta jenis tanah di wilayah Sugio yang lebih cepat melepas panas.
Meski tergolong fenomena alam yang terjadi hampir setiap musim kemarau, bediding tetap membawa sejumlah dampak yang perlu diwaspadai.
Bagi masyarakat, terutama bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit kronis, suhu dingin dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, batuk, pilek, hingga kambuhnya penyakit asma.
Sementara itu, para petani lahan tadah hujan juga menghadapi tantangan lain. Selain kekurangan pasokan air akibat kemarau, embun dingin berpotensi memengaruhi kondisi tanaman sehingga meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak diantisipasi.
Karena itu, warga diimbau mulai menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Menggunakan pakaian yang lebih hangat, memperbanyak konsumsi makanan bergizi dan minuman hangat seperti wedang jahe atau kencur, serta menghindari paparan udara dingin secara langsung saat dini hari menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Bagi petani, penyediaan cadangan air dan pemantauan kelembapan tanah secara berkala menjadi upaya penting untuk mengurangi dampak kekeringan. Aktivitas di lahan pertanian pada waktu udara paling dingin, sekitar pukul 04.00–06.00 WIB, juga sebaiknya dibatasi.
Di lingkungan rumah, warga disarankan menutup ventilasi pada malam hari agar udara dingin tidak mudah masuk, menggunakan selimut yang cukup tebal, serta menjemur kasur dan alas tidur pada siang hari untuk mengurangi kelembapan.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menegaskan bahwa bediding bukanlah bencana alam, melainkan fenomena tahunan yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau.
Meski begitu, perubahan suhu yang cukup tajam tetap perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan ketersediaan air, khususnya di wilayah yang belum memiliki sistem irigasi memadai.
Senada dengan itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat serta memperhatikan kondisi tubuh selama musim kemarau berlangsung.
Dengan persiapan yang baik, masyarakat Babatan dan wilayah Sugio diharapkan tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman, sehat, dan produktif meski udara dingin bediding kembali menyapa pada puncak kemarau tahun ini. (Red)
Penulis : SAMI'AN













Komentar