Buat Apa Jokowi Sibuk Melakukan Safari?

"Di balik agenda kunjungan mantan presiden ke berbagai daerah, publik mempertanyakan: sekadar silaturahmi atau upaya mempertahankan pengaruh politik pasca lengser dari Istana?"

- Penulis

Senin, 29 Juni 2026 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat sedang melakukan safari politik. (Dok istimewa)

Mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat sedang melakukan safari politik. (Dok istimewa)

Oleh: Didik T. Atmaja, Pemimpin Redaksi suaramuda.net

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Belakangan ini narasi mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang sedang melakukan safari politik menyesaki dinding dan ruang-ruang media, baik media cetak, media daring (online), maupun media sosial.

Bagi sebagian orang, langkah safari politik Jokowi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Bagaimanapun, ia tetap memiliki hak politik sebagai warga negara setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, ada yang menilai kehadirannya di berbagai daerah masih membawa pengaruh positif, baik bagi masyarakat maupun stabilitas politik nasional.

Namun, bagi sebagian lainnya, gerak-gerik Jokowi justru memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: buat apa Jokowi sibuk melakukan safari politik?

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan lahir dari kebencian. Justru sebaliknya, pertanyaan itu muncul karena publik masih mengingat satu narasi yang pernah berulang kali disampaikan Jokowi menjelang akhir masa jabatannya. Ia mengatakan ingin kembali ke Solo. Menjadi warga biasa.

Menikmati hari-hari bersama keluarga dan cucu tanpa protokol negara, tanpa rapat kabinet, tanpa hiruk-pikuk politik yang selama sepuluh tahun mengelilinginya.

Narasi tersebut kala itu terasa sederhana sekaligus menenangkan. Seolah Jokowi ingin menunjukkan bahwa kekuasaan memiliki titik akhir, dan setelah itu seorang pemimpin akan kembali menjadi rakyat biasa.

Namun, politik rupanya lebih sulit ditinggalkan daripada meninggalkan Istana. Kali ini, Solo tampaknya hanya menjadi alamat tempat tinggal, bukan tujuan akhir perjalanan politik.

Alih-alih menikmati masa pensiun, Jokowi justru memulai menyusun agenda mengunjungi berbagai daerah. Ia bertemu kepala daerah, tokoh masyarakat, relawan, elite partai, hingga menghadiri berbagai agenda yang sarat dengan simbol dan pesan politik.

Baca Juga :  Didorong Penulis Buku 100 KBI, Gerakan Koperasi Medan Siap Bentuk Asosiasi

Setiap kunjungannya bakal menjadi berita. Setiap pertemuannya memancing tafsir. Dan setiap langkahnya selalu memunculkan spekulasi baru. Lantas, apa sebenarnya yang sedang dicari Jokowi?

Jawaban pertama yang paling masuk akal adalah menjaga pengaruh politik. Dalam politik, jabatan memang memiliki masa berlaku. Akan tetapi, pengaruh tidak mengenal masa pensiun.

Seorang mantan presiden tetap memiliki modal politik berupa jaringan kekuasaan, loyalitas pendukung, akses kepada elite, dan legitimasi yang tidak dimiliki oleh politisi biasa.

Safari politik dapat dibaca sebagai cara menjaga agar modal tersebut tidak hilang begitu saja setelah lengser dari kursi kekuasaan.

Jawaban kedua adalah merawat warisan politik. Selama satu dekade memimpin Indonesia, Jokowi membangun berbagai program, melahirkan banyak kebijakan, sekaligus membentuk jejaring politik yang luas.

Tidak sedikit mantan kepala negara di berbagai belahan dunia yang tetap aktif di ruang publik untuk memastikan gagasan dan arah kebijakan yang pernah mereka bangun tidak berhenti begitu saja ketika masa jabatan berakhir.

Namun, dalam konteks Indonesia, pembacaan publik tidak berhenti sampai di situ. Safari politik Jokowi juga sulit dipisahkan dari dinamika menuju Pemilu 2029.

Meskipun pemilu masih beberapa tahun lagi, politik Indonesia nyaris tidak pernah mengenal masa istirahat.

Begitu satu kontestasi selesai, persiapan menuju kontestasi berikutnya perlahan dimulai. Bertemu kepala daerah, tokoh masyarakat, relawan, maupun elite partai bukan sekadar silaturahmi.

Semua itu dapat menjadi investasi politik jangka panjang untuk mempertahankan posisi sebagai figur yang tetap diperhitungkan dalam menentukan arah kekuasaan nasional. Di sinilah ironi itu muncul.

Dulu publik disuguhi cerita tentang seorang presiden yang ingin pulang ke Solo dan menjadi rakyat biasa. Kini, yang terlihat justru seorang mantan presiden yang tetap berada di pusat orbit politik nasional.

Baca Juga :  Sosial Keagamaan Qurban

Jika dahulu ia mengatakan ingin kembali menjadi warga biasa, kini setiap langkahnya justru masih dibaca sebagai langkah seorang king maker yang memiliki pengaruh besar terhadap masa depan politik Indonesia.

Tentu tidak ada aturan yang melarang seorang mantan presiden aktif berpolitik. Hak politik melekat pada setiap warga negara, termasuk Jokowi.

Yang menjadi persoalan bukanlah aktivitas politiknya, melainkan konsistensi antara narasi yang pernah dibangun dengan kenyataan yang kini dipertontonkan kepada publik.

Sebab, dalam politik, publik bukan hanya mengingat apa yang dikerjakan seorang pemimpin. Publik juga mengingat apa yang pernah diucapkannya.

Jika sejak awal Jokowi mengatakan akan tetap aktif membangun komunikasi politik setelah lengser, mungkin safari politik hari ini tidak akan memunculkan begitu banyak pertanyaan.

Namun, ketika publik lebih dulu diyakinkan bahwa Solo akan menjadi pelabuhan terakhir perjalanan politiknya, lalu yang terjadi justru sebaliknya, maka wajar apabila muncul rasa curiga.

Pada akhirnya, pertanyaan “buat apa Jokowi sibuk melakukan safari politik?” mungkin tidak akan pernah memperoleh jawaban yang benar-benar pasti, kecuali dari Jokowi sendiri.

Namun satu hal yang jelas, dalam politik tidak ada perjalanan yang benar-benar tanpa tujuan. Setiap langkah memiliki pesan, setiap pertemuan memiliki makna, dan setiap safari hampir selalu membawa kepentingan.

Mungkin karena itulah publik terus bertanya. Jangan-jangan, yang sedang berlangsung hari ini bukan sekadar safari politik, melainkan upaya memastikan bahwa meskipun kursi presiden telah ditinggalkan, bayang-bayang kekuasaan tetap berjalan mengikuti langkah sang mantan presiden. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan
Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”
Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah
Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama
Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)
Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Berita ini 41 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:55 WIB

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”

Minggu, 27 September 2026 - 11:44 WIB

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 September 2026 - 09:31 WIB

Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama

Minggu, 27 September 2026 - 09:20 WIB

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Berita Terbaru

Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim. (Gambar: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

KABAR NUSANTARA

Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:44 WIB

LINTAS AKADEMIKA

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Minggu, 27 Sep 2026 - 09:20 WIB