Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

"Tragedi wafatnya dr. Icha menjadi refleksi atas beratnya beban tenaga kesehatan, pentingnya memahami proses pengambilan keputusan medis, serta perlunya membangun kembali empati dan kepercayaan antara masyarakat dengan para dokter."

- Penulis

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Pinterest

Ilustrasi: Pinterest

Oleh: Yohanes Soares, peneliti dan aktivis sosial; dosen STIE Sulut

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di negeri ini, dokter sering diperlakukan seolah tidak boleh salah, tidak boleh lelah, apalagi rapuh. Mereka dituntut menjadi penyelamat tanpa cela, padahal di balik jas putih itu ada manusia biasa yang juga memiliki batas fisik, emosi, dan daya tahan mental.

Kepergian dr. Icha di Kabupaten Timor Tengah Utara bukan sekadar kabar duka bagi dunia kesehatan. Ia adalah alarm keras yang seharusnya membangunkan kesadaran kita bahwa sistem kesehatan tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan fasilitas dan tenaga, tetapi juga krisis empati terhadap mereka yang setiap hari mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan nyawa orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, ada satu pelajaran penting yang perlu dipahami masyarakat yakni keputusan medis bukanlah keputusan yang lahir dari dugaan atau tekanan publik.

Ia lahir dari ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, pedoman praktik, dan pertimbangan risiko yang harus dipikul oleh seorang dokter dalam hitungan menit.

Kasus gigitan ular adalah contoh nyata bagaimana persepsi masyarakat sering kali bertabrakan dengan ilmu kedokteran. Banyak yang menganggap setiap gigitan ular harus segera diberikan Serum Anti Bisa Ular (SABA).

Padahal, ilmu kedokteran mengajarkan bahwa tidak semua gigitan ular menyebabkan racun masuk ke tubuh. Ada kondisi yang dikenal sebagai dry bite, ketika ular menggigit tanpa menyuntikkan bisa.

Karena itu, dokter tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan kepanikan keluarga, desakan massa, atau asumsi bahwa semua ular berbisa pasti mengeluarkan racun.

Seorang dokter harus menilai adanya pembengkakan progresif, nyeri hebat, gangguan pembekuan darah, kelumpuhan, gangguan napas, hingga tanda-tanda envenomasi sistemik sebelum memutuskan apakah SABA diperlukan.

Mengapa tidak semua pasien langsung disuntik?

Karena SABA bukan sekadar obat. Serum ini memiliki risiko yang tidak kecil. Selain mahal dan stoknya terbatas, SABA dapat memicu reaksi alergi berat hingga syok anafilaktik yang justru dapat mengancam keselamatan pasien.

Baca Juga :  Membangun Pariwisata Bangka Belitung Tanpa Merusak Jati Diri Alamnya

Memberikan SABA tanpa indikasi bukanlah tindakan yang lebih aman, melainkan dapat menjadi kesalahan medis. Ironisnya, keputusan yang dibuat berdasarkan ilmu sering kali dihakimi berdasarkan emosi.

Publik hanya melihat hasil akhirnya. Pasien selamat atau meninggal. Jarang ada yang melihat puluhan keputusan lain yang harus dibuat seorang dokter jaga IGD dalam waktu yang hampir bersamaan.

Di satu sisi ia harus menentukan siapa yang membutuhkan oksigen, siapa yang harus dirujuk, siapa yang membutuhkan transfusi, siapa yang memerlukan tindakan operasi, hingga spesialis mana yang harus dihubungi terlebih dahulu.

Semua dilakukan dalam kondisi ruang gawat darurat yang penuh tekanan, dengan pasien yang terus berdatangan, keluarga yang panik, keterbatasan alat, keterbatasan tenaga, bahkan ketika dokter sendiri belum sempat makan, minum, atau sekadar duduk.

Di ruang gawat darurat, keputusan tidak dibuat berdasarkan siapa yang paling keras berteriak atau siapa yang paling berpengaruh. Keputusan dibuat berdasarkan prinsip triase yakni siapa yang paling dekat dengan kematian harus ditolong lebih dahulu.

Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda. Tidak sedikit tenaga kesehatan harus menghadapi bentakan, ancaman, intimidasi, perekaman tanpa izin, hingga ancaman viral di media sosial.

Budaya menyalahkan dengan cepat telah menjadi wajah baru pelayanan kesehatan kita. Padahal, setiap kata kasar yang dilontarkan kepada tenaga kesehatan tidak berhenti di ruang IGD.

Ia ikut pulang ke rumah, menjadi beban pikiran, mengikis kepercayaan diri, dan perlahan menggerus kesehatan mental mereka.

Kematian dr. Icha mengingatkan kita bahwa burnout bukanlah istilah akademik yang hanya hidup di jurnal-jurnal kesehatan. Burnout adalah kenyataan yang dialami ribuan dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya.

Mereka bekerja dalam tekanan tinggi, dengan jam kerja panjang, tuntutan yang besar, serta ekspektasi masyarakat yang sering kali tidak realistis.

Baca Juga :  NU dan Jalan Pulang ke Khittah: Menjaga Nurani di Tengah Godaan Riswah

Kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang dipikul seseorang. Bisa jadi intimidasi yang tampak hanyalah pukulan terakhir bagi seseorang yang telah lama kelelahan secara fisik maupun mental.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap tenaga kesehatan sebagai manusia super. Dokter juga bisa mengalami depresi. Perawat juga bisa mengalami kecemasan.

Bidan juga bisa mengalami kelelahan emosional. Mereka bukan robot yang diprogram untuk selalu tersenyum, selalu kuat, dan selalu benar.

Tentu, kritik terhadap pelayanan kesehatan tetap diperlukan. Rumah sakit, puskesmas, dan tenaga kesehatan harus terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.

Namun kritik tidak boleh berubah menjadi penghinaan, ancaman, atau teror. Masyarakat berhak memperoleh pelayanan yang baik, tetapi tenaga kesehatan juga berhak diperlakukan secara manusiawi.

Yang dibutuhkan hari ini bukan hanya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga peningkatan literasi kesehatan masyarakat.

Kita perlu memahami bahwa ilmu kedokteran bukan sekadar soal hasil akhir, melainkan proses pengambilan keputusan yang kompleks, penuh tanggung jawab, dan sering kali harus dilakukan dalam situasi yang sangat sulit.

Kepergian dr. Icha seharusnya tidak berhenti menjadi berita duka yang hilang ditelan siklus media. Ia harus menjadi momentum untuk membangun kembali hubungan yang lebih sehat antara masyarakat dan tenaga kesehatan. Hubungan yang dilandasi saling percaya, saling menghormati, dan saling memahami.

Karena sesungguhnya, di balik setiap jas putih ada seorang anak, pasangan, orang tua, sahabat, dan manusia yang setiap hari berusaha menyelamatkan nyawa orang lain.

Jangan sampai, karena kehilangan empati, kita membiarkan mereka berjuang sendirian hingga akhirnya tak lagi mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Mungkin inilah pelajaran paling menyakitkan dari kepergian dr. Icha bahwa terkadang yang paling membutuhkan pertolongan bukanlah pasien yang terbaring di ranjang rumah sakit, melainkan mereka yang berdiri di sampingnya dengan stetoskop di leher, sambil diam-diam memikul luka yang tak pernah terlihat. (Red)

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB