Membangun Pariwisata Bangka Belitung Tanpa Merusak Jati Diri Alamnya

- Penulis

Senin, 5 Mei 2025 - 20:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Selly Yusnitasari, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Selly Yusnitasari, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung

Oleh: Selly Yusnitasari *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Selain identik dengan tambang, Bangka Belitung juga memiliki potensi alam yang luar biasa. Keindahan alamnya yang terbentang luas—pantai berpasir putih, pulau-pulau kecil nan eksotis, dan laut biru yang nyaris tak tersentuh.

Namun sayangnya, potensi pariwisata masih diperlakukan sebagai “tambahan”, bukan sebagai aset utama yang bisa jadi penggerak ekonomi masa depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya percaya bahwa pariwisata yang dikembangkan dengan baik bisa membawa perubahan yang cukup besar.

Bukan hanya soal uang atau jumlah wisatawan, tapi soal bagaimana masyarakat lokal bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus mengorbankan alam mereka sendiri.

Inilah yang disebut pariwisata berkelanjutan—yang menumbuhkan ekonomi sekaligus melindungi budaya dan lingkungan.

Namun, yang saya khawatirkan adalah jika pariwisata dikelola asal-asalan, hanya mengejar keuntungan jangka pendek.

Kita bisa lihat contohnya di beberapa daerah lain: terlalu banyak hotel dibangun tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, wisata massal merusak habitat, dan masyarakat lokal justru tidak mendapat manfaat langsung. Jangan sampai Bangka Belitung mengalami hal yang sama.

Baca Juga :  Bagaimana PDAM Mengelola Sumber Air Minum di Tengah Ancaman Kekeringan?

Perlu Dukungan Pemerintah

Kunci pariwisata Bangka Belitung ada pada keseimbangan: antara pengembangan dan pelestarian. Antara wisatawan dan masyarakat lokal. Dan antara modernitas dan kearifan lokal.

Pemerintah harus hadir sebagai pengarah, bukan hanya sebagai pengelola. Masyarakat harus diberdayakan, bukan hanya jadi penonton. Dan wisatawan harus diajak bertanggung jawab, bukan hanya jadi konsumen.

Contoh konkret yang bisa jadi inspirasi adalah pengembangan desa wisata seperti di Belitung Timur. Di sana, masyarakat mulai membangun homestay, menjual kerajinan tangan, dan menjadi pemandu wisata yang mengenalkan budaya lokal.

Ini adalah bukti bahwa ketika warga dilibatkan secara langsung, manfaat ekonomi lebih terasa dan pelestarian lingkungan pun menjadi bagian dari kesadaran bersama.

Baca Juga :  Urgensi Sistem Manajemen Inovasi Terhadap Persaingan di Provinsi Babel

Tantangan Pariwisata Bangka Belitung

Tantangan ke depan tentu masih banyak. Akses ke beberapa destinasi wisata di Bangka Belitung masih terbatas.

Promosi pariwisata secara digital juga belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal. Tapi justru di situlah peluangnya.

Dengan kerja sama antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan generasi muda yang kreatif, pariwisata Bangka Belitung bisa tumbuh secara lebih inklusif dan berkelanjutan.

Saya membayangkan suatu hari nanti, Bangka Belitung dikenal bukan karena hasil tambangnya, tapi karena mampu menunjukkan wajah Indonesia yang ramah, indah, dan menjaga warisan alamnya.

Pariwisata bukan sekadar tempat berlibur, tapi juga jembatan untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi semua. Semoga! (Red)

*) Selly Yusnitasari, Mahasiswa Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bangka Belitung
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas kuliah, isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru