Oleh: Salman Farizi, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, FISIP, Universitas Wahid Hasyim Semarang
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, berhubung ada pemeliharaan sistem, maka dilakukan pemadaman bergilir…”
Membaca pengumuman model begitu di grup WhatsApp RT atau media sosial rasanya langsung bikin tensi naik. Kalimat “di-gilir” yang harusnya terdengar tabu dan sensitif, anehnya malah jadi akrab banget di telinga kita akhir-akhir ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gak heran kalau netizen yang udah telanjur dongkol akhirnya nyeletuk ketus: “Ini listrik apa PSK, kok hobi banget digilir?”
Emang kedengarannya kasar, tapi ya mau gimana lagi? Ini adalah bentuk puncak kekesalan warga di berbagai wilayah yang aktivitasnya lumpuh gara-gara urusan setrum yang timbul tenggelam.
Ironisnya, drama giliran ini gak cuma terjadi di daerah pelosok, tapi juga berulang kali menghantam hampir dirasakan warga di Pulau Jawa yang katanya merupakan pusat ekonomi dan memiliki pasokan listrik paling megah di Indonesia.
Giliran Bayar Telat Diputus, Pas Mati Cuma Disuruh Maklum
Di zaman sekarang, hampir semua aspek hidup kita butuh listrik. Begitu listrik mati, kelar semua urusan. Konter pulsa gak bisa transaksi, warung makan pusing mikirin daging di freezer yang mulai mencair, anak kos gak bisa ngerjain tugas, belum lagi ibu-ibu yang bayinya nangis semalaman gara-gara gerah dan digigit nyamuk.
Anehnya, pemadaman bergilir ini kayak penyakit tahunan yang gak sembuh-sembuh. Logikanya, kita sebagai konsumen kalau telat bayar tagihan dikit aja, dendanya langsung jalan, bahkan ada petugas yang siap datang bawa tang buat mutus aliran.
Tapi begitu hak kita buat dapet listrik lancar gak terpenuhi, kita cuma disuruh elus dada dan maklum. Rasa keadilannya di mana?
Alasan Klasik yang Terus Berulang
Kalau masyarakat protes, jawaban yang diterima biasanya tidak jauh dari masalah teknis: mulai dari gangguan transmisi, pemeliharaan gardu berkala, beban puncak yang overload, hingga faktor cuaca buruk seperti petir atau pohon tumbang.
Namun bagi masyarakat awam, alasan-alasan tersebut lama-lama terdengar seperti pembenaran. Sebagai konsumen, masyarakat tidak mau tahu urusan dapur sedetail itu.
Yang mereka tahu adalah mereka sudah menunaikan kewajiban membayar tarif listrik yang tidak murah, sehingga wajar jika mereka menuntut stabilitas pasokan yang sama.
Harapan Rakyat: Stop Drama “Bagi-Bagi Giliran”
Masyarakat tuh sebenernya gak minta yang aneh-aneh. Gak perlu muluk-muluk pamer proyek transisi energi hijau yang anggarannya triliunan, kalau urusan dasar kayak mastiin lampu gak kedip-kedip pas jam sibuk aja belum becus.
Kita cuma pengen satu hal: bayar lancar, listriknya juga jalan lancar tanpa perlu ada drama bagi-bagi giliran kayak piala bergilir. Semoga pihak berwenang sadar, listrik itu urat nadi ekonomi rakyat kecil, bukan barang mainan yang bisa dimati-hidupkan sesuka hati. (Red)
Editor : DT Atmaja













Komentar