Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

"Pemadaman listrik bergilir yang terus berulang memicu keresahan masyarakat. Di tengah kewajiban membayar tagihan tepat waktu, warga mempertanyakan kualitas pelayanan dan keadilan bagi pelanggan yang dirugikan."

- Penulis

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Salman Farizi, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, FISIP, Universitas Wahid Hasyim Semarang

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — “Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, berhubung ada pemeliharaan sistem, maka dilakukan pemadaman bergilir…”

Membaca pengumuman model begitu di grup WhatsApp RT atau media sosial rasanya langsung bikin tensi naik. Kalimat “di-gilir” yang harusnya terdengar tabu dan sensitif, anehnya malah jadi akrab banget di telinga kita akhir-akhir ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gak heran kalau netizen yang udah telanjur dongkol akhirnya nyeletuk ketus: “Ini listrik apa PSK, kok hobi banget digilir?”

Emang kedengarannya kasar, tapi ya mau gimana lagi? Ini adalah bentuk puncak kekesalan warga di berbagai wilayah yang aktivitasnya lumpuh gara-gara urusan setrum yang timbul tenggelam.

Ironisnya, drama giliran ini gak cuma terjadi di daerah pelosok, tapi juga berulang kali menghantam hampir dirasakan warga di Pulau Jawa yang katanya merupakan pusat ekonomi dan memiliki pasokan listrik paling megah di Indonesia.

Baca Juga :  Prabowo Mengampuni Para Koruptor? Bukti Prabowo Tidak Paham Makna Keadilan

Giliran Bayar Telat Diputus, Pas Mati Cuma Disuruh Maklum

Di zaman sekarang, hampir semua aspek hidup kita butuh listrik. Begitu listrik mati, kelar semua urusan. Konter pulsa gak bisa transaksi, warung makan pusing mikirin daging di freezer yang mulai mencair, anak kos gak bisa ngerjain tugas, belum lagi ibu-ibu yang bayinya nangis semalaman gara-gara gerah dan digigit nyamuk.

Anehnya, pemadaman bergilir ini kayak penyakit tahunan yang gak sembuh-sembuh. Logikanya, kita sebagai konsumen kalau telat bayar tagihan dikit aja, dendanya langsung jalan, bahkan ada petugas yang siap datang bawa tang buat mutus aliran.

Tapi begitu hak kita buat dapet listrik lancar gak terpenuhi, kita cuma disuruh elus dada dan maklum. Rasa keadilannya di mana?

Alasan Klasik yang Terus Berulang

Kalau masyarakat protes, jawaban yang diterima biasanya tidak jauh dari masalah teknis: mulai dari gangguan transmisi, pemeliharaan gardu berkala, beban puncak yang overload, hingga faktor cuaca buruk seperti petir atau pohon tumbang.

Baca Juga :  Strategi Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan Publik untuk Pembangunan Berkelanjutan

Namun bagi masyarakat awam, alasan-alasan tersebut lama-lama terdengar seperti pembenaran. Sebagai konsumen, masyarakat tidak mau tahu urusan dapur sedetail itu.

Yang mereka tahu adalah mereka sudah menunaikan kewajiban membayar tarif listrik yang tidak murah, sehingga wajar jika mereka menuntut stabilitas pasokan yang sama.

Harapan Rakyat: Stop Drama “Bagi-Bagi Giliran”

Masyarakat tuh sebenernya gak minta yang aneh-aneh. Gak perlu muluk-muluk pamer proyek transisi energi hijau yang anggarannya triliunan, kalau urusan dasar kayak mastiin lampu gak kedip-kedip pas jam sibuk aja belum becus.

Kita cuma pengen satu hal: bayar lancar, listriknya juga jalan lancar tanpa perlu ada drama bagi-bagi giliran kayak piala bergilir. Semoga pihak berwenang sadar, listrik itu urat nadi ekonomi rakyat kecil, bukan barang mainan yang bisa dimati-hidupkan sesuka hati. (Red)

 

Editor : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 81 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB