SUARAMUDA.NET, WONOSOBO — Kabupaten Wonosobo sering kali disebut-sebut berada di “zona merah” dalam peta pendidikan. Di tengah keterbatasan ekonomi dan akses yang belum merata, impian anak-anak daerah untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi sering kali harus kandas di tengah jalan.
Namun, di tengah kecemasan itu, sebuah gerakan sosial keumatan lahir dari rahim kepedulian para kader Nahdlatul Ulama (NU). Gerakan itu bernama Stuc General.
Awalnya, Stuc General diinisiasi sebagai wadah untuk menampung siswa-siswi yang punya tekad kuat menggapai bangku kuliah, khususnya bagi mereka yang terbentur masalah finansial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kendati lahir dari pemikiran kader NU demi kemaslahatan umat, komunitas ini tidak pernah eksklusif.
Nilai-nilai keterbukaan yang dibawa para muasis (pendiri) justru menciptakan ruang yang hangat dan ramah bagi seluruh pelajar tanpa memandang latar belakang.
Menempa Fokus di Sunyinya Lereng Gunung
Salah satu keunikan terbesar dari Stuc General adalah lokasinya. Proses belajar-mengajar sengaja ditempatkan di lereng Gunung Sindoro.
Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, diselimuti udara dingin yang menusuk tulang, dan minim akses internet.
Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin dianggap sebagai hambatan. Namun bagi Stuc General, keterbatasan itulah yang diubah menjadi ruang inkubasi terbaik.
Tanpa distorsi dunia digital dan bisingnya kota, para peserta justru bisa masuk ke mode fokus yang mendalam untuk menatap masa depan mereka.
Perjuangan tersebut diramu dalam dua program utama. Pertama, Intensif Mingguan yakni berupa kegiatan rutin yang dilaksanakan jauh-jauh hari menjelang UTBK sebagai fondasi awal bimbingan belajar.
Kedua, KISS (Karantina Intensitas Sukses SNBT). Ini merupakan program pemungkas di mana para peserta wajib menetap (mondok) selama kurang lebih 2 bulan di basecamp lereng gunung, terus menempa diri hingga dua hari menjelang hari-H UTBK.
Satu Dekade yang Melahirkan “Keajaiban”
Lebih dari 10 tahun berjalan, Stuc General bukan lagi sekadar tempat bimbingan belajar alternatif. Gerakan ini telah bertransformasi menjadi pabrik pencetak generasi tangguh.
Banyak orang luar mengira apa yang dicapai komunitas ini adalah sebuah keajaiban, padahal ini adalah buah dari kerja keras yang konsisten.
Dalam waktu satu dekade lebih, ratusan alumni Stuc General telah berhasil menembus berbagai perguruan tinggi bergengsi di Indonesia, baik negeri maupun swasta.
Beberapa kampus itu di antaranya seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Ada pula Perguruan Tinggi Swasta, antara lain Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula).
Esensi Perjuangan: Melahirkan Pemimpin yang Berani
Sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, Salman Farizi, salah satu pengurus menyaksikan betul bagaimana dinamika di dalam komunitas ini berjalan.
“Dalam sebuah pergerakan, melihat orang datang dan pergi (people come and go) adalah hal yang lumrah. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa tempat ini dibentuk oleh dan untuk para pemimpin yang berani, “katanya.
Ia menambahkan, satu momen mendalam yang membekas di hati setiap anggota, ketika mendengar langsung penuturan dari para senior dan alumni Stuc General seperti Fajar, Faqih, dan Ulum.
”Man, orang-orang yang mau mengurus komunitas ini sebenarnya adalah orang-orang yang ‘gabut’ dalam artian positif mereka adalah orang-orang terpilih yang mau meluangkan hidupnya sehingga bisa bertahan sampai saat ini, “ujar Salman, menirukan penuturan para seniornya.
Sosok mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim Semarang itu juga menegaskan bahwa kalimat itu menyadarkan para pengurus.
“Bahwa memperjuangkan cara berpikir adik-adik kita agar menjadi lebih baik itu sama sekali tidak mudah. Butuh keikhlasan yang luar biasa, “ungkap Salman.
Namun, imbuhnya, para senior kembali menguatkan fondasi berpikirnya dengan sebuah prinsip yang sangat menyentuh.
”Ketika mereka sudah lolos kuliah, kita tidak boleh menuntut mereka untuk kembali dan mengurus komunitas ini. Tugas kita hanya mengantarkan dan mengawal mereka sampai pintu gerbang. Selebihnya, melihat mereka berhasil dan membuktikan bahwa mereka mampu, itulah kebanggaan terbesar sekaligus tujuan utama dari seluruh perjalanan panjang ini, “terangnya.
Stuc General bukan sekadar tentang lolos atau tidaknya seseorang dalam ujian masuk universitas. Ini adalah cerita tentang ketulusan kolektif, tentang bagaimana sebuah ruang dingin di lereng gunung bisa menyalakan api harapan yang hangat bagi masa depan anak-anak daerah. (Red)
Editor : DT Atmaja













Komentar