Pacaran Remaja: Antara Ekspresi Kasih Sayang dan Jerat Pelanggaran

"Di tengah derasnya pengaruh media digital dan pergeseran nilai sosial, pacaran remaja menghadapi dilema antara menjadi ruang pembelajaran cinta yang sehat atau pintu masuk berbagai pelanggaran norma, moral, dan masa depan"

- Penulis

Jumat, 12 Juni 2026 - 00:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Grelantina Nurani, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fenomena berpacaran sejatinya adalah salah satu fase pencarian jati diri yang paling lumrah dalam kehidupan remaja Indonesia masa kini.

Di atas kertas, konsepnya sederhana namun indah: sebuah proses saling mengenal, belajar berbagi, dan mendewasakan emosi antar-manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mencintai dan dicintai. Namun, kenyataan di lapangan bercerita lain, dan ceritanya jauh lebih pahit dari sekadar patah hati remaja.

Mari kita lihat realitasnya terlebih dahulu. Berpacaran kini bukan lagi sekadar bumbu penyemangat sekolah, melainkan telah bergeser menjadi ajang pelanggaran norma, moral, agama, dan bahkan hukum.

Pengaruh budaya asing melalui film, media sosial, dan platform hiburan digital secara drastis menggeser persepsi anak muda tentang apa yang dianggap “normal” dalam sebuah hubungan.

Kombinasi antara kebebasan tanpa batas, minimnya pengawasan, dan tekanan lingkungan, hampir selalu berakhir dengan satu kata: kebablasan.

Baca Juga :  NU Satu Abad: Lahir dari Doa, Tradisi, dan Perlawanan

Dan itulah yang terjadi. Kontak fisik yang berlebihan, yn tanpa privasi, hingga tekanan melanggar kesucian diri kini dikemas rapi atas nama pembuktian cinta. Celakanya, masalah ini bukan karena ketidaktahuan.

Mayoritas remaja kita mengaku beragama dan memahami larangan hubungan intim di luar pernikahan. Agama Katolik dengan tegas melarang berzina (berduaan di tempat sepi), begitu pula agama lainnya yang menempatkan kesucian tubuh sebagai anugerah.

Jadi, lampu merah sudah menyala sejak lama. Tapi siapa yang peduli? Pelanggaran terjadi bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena pilihan sadar untuk mengorbankan prinsip demi kepuasan sesaat.

Dampak dari kelalaian kolektif ini sangat konkret dan mengerikan. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan angka kehamilan di luar nikah di kalangan remaja Indonesia terus meroket dari tahun ke tahun.

Ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah potret nyata remaja yang terpaksa putus sekolah, kehilangan masa depan, dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan.

Baca Juga :  55 Juta untuk Kursi Empuk, Jalan Berlubang Tetap Menganga

Belum lagi jerat Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), di mana salah satu pihak—mayoritas perempuan—menjadi korban manipulasi dan paksaan karena telanjur terjebak terlalu jauh tanpa jalan keluar.

Ada anomali berpikir yang kerap digunakan untuk membenarkan fenomena ini: bahwa semuanya sah-sah saja selama dilakukan atas dasar suka sama suka.

Namun, mari kita bersikap jujur: cinta yang sesungguhnya tidak pernah menuntut seseorang untuk merusak kehormatan diri atau menghancurkan masa depannya.

Itu bukan cinta, melainkan nafsu yang dibungkus dengan kata-kata manis. Cinta sejati justru ditandai oleh rasa hormat yang ketat terhadap batasan agama, norma, dan harga diri pasangannya.

Pacaran yang kebablasan adalah krisis nyata yang tidak bisa lagi kita abaikan. Dibutuhkan keberanian kolektif dari keluarga, institusi pendidikan, hingga tokoh masyarakat untuk menyuarakan kebenaran ini secara lantang.

Kita harus tegas menegakkan batas, bukan karena kita anti-cinta, melainkan karena kita ingin melindungi generasi muda agar mendapatkan hubungan yang sehat, membangun, dan memuliakan martabat mereka. (Red)

 

Penulis : DT Atmaja

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
Berita ini 52 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB