Satu Kerja, Lima Nama: Kenapa “Tugas Kelompok” Sering Berakhir Tidak Adil?

"Eksperimen Max Ringelmann mengungkap fenomena social loafing, saat tanggung jawab bersama justru membuat sebagian orang memilih pasif sementara yang lain bekerja sendirian"

- Penulis

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Pinterest

Ilustrasi: Pinterest

*) Oleh: Ali Achmadi, pemerhati masalah sosial

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ternyata, seutas tali bisa membuka tabiat manusia. Bukan tali jemuran. Bukan pula tali yang mengikat kapal. Tetapi tali tambang yang ditarik beramai-ramai dalam sebuah eksperimen lebih dari seabad lalu.

Tahun 1913. Seorang insinyur pertanian asal Prancis, Max Ringelmann, melakukan percobaan yang tampaknya sederhana. Ia meminta beberapa orang menarik seutas tali. Lalu mengukur seberapa besar tenaga yang mereka keluarkan. Hasilnya membuat banyak orang mengernyit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat seseorang menarik sendirian, tenaganya keluar penuh. Seratus persen. Ketika ditarik bertiga, tenaga masing-masing orang justru turun. Tinggal sekitar delapan puluh lima persen. Lalu saat delapan orang menarik bersama-sama, tenaga tiap orang tinggal separuhnya. Sekitar empat puluh sembilan persen.

Semakin banyak orang yang membantu, justru semakin sedikit usaha yang diberikan setiap orang. Aneh? Tidak juga. Justru sangat manusiawi.

Saya langsung teringat pada satu pemandangan yang hampir menjadi tradisi di sekolah/madrasah. Namanya: tugas kelompok. Guru membagi kelas menjadi lima kelompok. Masing-masing berisi lima anak. Semua tampak antusias ketika kelompok dibentuk. Besoknya grup WhatsApp dibuat. Lusa mulai sunyi.

Tiga hari kemudian, muncul satu pesan: “Teman-teman, tugasnya sudah saya kerjakan. Tolong dicek ya.” Yang mengirim biasanya anak yang sama. Anak yang memang tidak tega melihat pekerjaan terbengkalai. Anak yang kalau tidak dikerjakan sendiri, takut nilai kelompok jelek.

Sementara anggota lain? Ada yang sedang mabar. Ada yang sibuk latihan futsal. Ada yang sekadar memberi komentar, “Sip.” Lalu saat presentasi, semuanya berdiri sejajar di depan kelas. Nilainya sama. Padahal keringatnya berbeda.

Baca Juga :  Dramaturgi Aktivisme Mahasiswa, Topeng "Rakyat Bangkit" dan Naskah Licik di Balik Layar Pemira Unram 2025?

Psikologi punya istilah untuk fenomena ini. Social loafing. Kalau diterjemahkan secara bebas: kemalasan sosial. Bukan karena orang itu pemalas sejak lahir. Bukan pula karena karakternya buruk.

Masalahnya ada pada cara otak bekerja ketika tanggung jawab menjadi milik bersama. Saat sebuah pekerjaan diberikan kepada kelompok tanpa pembagian peran yang jelas, muncul perasaan yang nyaris tak disadari.

“Ah… pasti ada yang mengerjakan.” Kalimat itu sederhana. Tetapi dampaknya luar biasa. Tanggung jawab menguap. Usaha menurun. Inisiatif menghilang.

Psikolog menyebutnya diffusion of responsibility. Rasa tanggung jawab larut karena dibagi terlalu banyak orang. Semakin besar kelompoknya, semakin kecil rasa memiliki pekerjaan itu.

Yang sering luput justru bukan muridnya. Melainkan sistemnya. Bayangkan. Lima anak mendapat satu nilai yang sama. Nilai itu diberikan berdasarkan hasil akhir. Guru melihat presentasinya bagus.

Laporannya rapi. Slide-nya menarik. Semua mendapat angka delapan puluh lima. Padahal mungkin hanya satu orang yang benar-benar bekerja. Empat lainnya hanya menjadi penonton dan tim hore.

Sistem seperti ini tanpa sadar sedang memberi hadiah kepada mereka yang tidak berkontribusi. Sekaligus menghukum anak yang paling bertanggung jawab. Ironis. Yang rajin kelelahan. Yang pasif merasa semuanya baik-baik saja.

Kalau pola itu terus berulang, siapa yang sedang kita didik? Anak yang suka bekerja? Atau anak yang pandai bersembunyi di balik kerja keras temannya?

Padahal tujuan tugas kelompok sangat mulia. Sekolah ingin mengajarkan kolaborasi. Belajar berdiskusi. Belajar mendengar. Belajar memimpin. Belajar menyelesaikan konflik. Namun kolaborasi tidak lahir hanya karena lima orang duduk di meja yang sama.

Baca Juga :  Menyayangkan Rendahnya Partisipasi Pemilih dalam Pilwakot Depok 2024

Kolaborasi lahir ketika setiap orang memikul bagian yang jelas. Siapa mencari data. Siapa melakukan wawancara. Siapa mengolah informasi. Siapa menyusun laporan. Siapa membuat presentasi.

Lalu, yang tidak kalah penting, setiap bagian itu dinilai. Bukan hanya produk akhirnya. Tetapi juga prosesnya. Kontribusinya. Komitmennya. Karena dalam kehidupan nyata pun, dunia kerja tidak pernah hanya menilai hasil tim. Ia juga menilai siapa yang benar-benar bekerja.

Barangkali inilah pelajaran terbesar dari eksperimen Ringelmann. Kerja sama bukan berarti semua orang mengerjakan hal yang sama. Kerja sama juga bukan berarti satu orang bekerja, empat orang menonton.

Kerja sama adalah ketika setiap tangan benar-benar memegang tali. Menarik dengan kekuatan terbaiknya. Kalau ada yang hanya berpura-pura menarik, tali memang tetap bergerak. Tetapi tidak akan pernah sekuat yang seharusnya.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, sekolah bukan hanya sedang mengajarkan cara mengerjakan tugas.

Sekolah sedang membentuk karakter. Membiasakan anak bertanggung jawab. Atau sebaliknya, membiasakan mereka hidup dari kerja keras orang lain.

Pilihannya ada pada cara kita merancang sistem. Sebab pada akhirnya, masalah terbesar dalam sebuah kelompok bukanlah kurangnya orang yang cerdas.

Melainkan terlalu banyak orang yang merasa, “Kalau saya tidak bekerja, pasti masih ada yang mengerjakan.” Dan sejarah telah membuktikan, bahkan dalam urusan menarik seutas tali, pikiran seperti itu mampu mengurangi hampir separuh kekuatan manusia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Berita ini 99 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:55 WIB

Menjinakkan Api, Membiarkan Asap: Normalisasi Bencana Kebakaran dan Bom Waktu Kesehatan Perkotaan

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB