SUARAMUDA.NET, DENPASAR — Kabar membanggakan datang dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Dua mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES), Achmad Khalis Rabbani dan Akhmad Muhshoni, sukses mencuri perhatian dalam ajang Sustainable International Community Services (SICS) Bali 2026.
Bukan cuma hadir sebagai peserta, keduanya dipercaya menjadi pembicara dalam sesi Student-to-Student Sustainable Forum yang mengangkat tema berbagi best practices antarkampus (A Cross Campuses Forum).
Kegiatan internasional yang berlangsung di Sheraton Hotel, Denpasar, pada 29 Juni–1 Juli 2026 ini diikuti berbagai perguruan tinggi dari Indonesia maupun mancanegara. Delegasi Unwahas hadir didampingi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Ratih Pratiwi, S.Pd., M.Si., MM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
SICS Bali diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta sebagai co-host, serta melibatkan Universitas PGRI Semarang dan Universitas PGRI Yogyakarta.
Forum ini bertujuan memperkuat kolaborasi internasional dalam pengabdian kepada masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kompetensi global mahasiswa serta dosen.
Ajang bergengsi tersebut juga menghadirkan panelis dari berbagai negara, mulai dari Malaysia, Vietnam, Filipina, Inggris, Prancis, hingga Arab Saudi, yang bersama-sama membahas penguatan komunitas lokal melalui kolaborasi lintas negara.
Mengusung tema “Strengthening Local Communities in Bali: Advancing SDGs through Community Empowerment“, SICS Bali mengintegrasikan peran perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri dalam mendorong pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Beragam agenda digelar, mulai dari penelitian kolaboratif, penyusunan baseline data destinasi wisata, pelatihan pengelolaan homestay dan sampah, peningkatan layanan pariwisata, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis hasil riset.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ratih Pratiwi menegaskan keikutsertaan Unwahas merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah untuk berkontribusi dalam pembangunan melalui kolaborasi internasional.
“Kami tidak hanya membawa nama universitas, tetapi juga membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah yang menekankan moderasi, keseimbangan, toleransi, keadilan, dan kemaslahatan,” ujar Ratih.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mereka yang memiliki latar belakang berbeda.
Ia menambahkan, jaringan masyarakat Nahdlatul Ulama merupakan mitra strategis bagi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Yang paling membanggakan, Achmad Khalis Rabbani dan Akhmad Muhshoni tampil sebagai panelis pada sesi Sharing Best Practices A Cross Campuses Forum.
Mereka mempresentasikan dua topik, yakni “DPM Universitas Wahid Hasyim: Bridging Student Voices into Collaborative Actions” dan “External Positioning: DPM sebagai Jembatan Kampus dengan Masyarakat Nahdlatul Ulama.”
Menariknya lagi, Achmad Khalis Rabbani memaparkan materi menggunakan bahasa Arab, sedangkan Akhmad Muhshoni melanjutkan presentasi dalam bahasa Inggris. Penampilan keduanya menunjukkan mahasiswa Unwahas mampu bersaing dan percaya diri di forum internasional.
Muhshoni menjelaskan, DPM Universitas memiliki peran penting sebagai penghubung antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat sehingga mampu melahirkan program pengabdian yang relevan, inovatif, dan berkelanjutan.
“Kolaborasi tersebut memungkinkan lahirnya program pengabdian yang lebih relevan, inovatif, dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Achmad Khalis Rabbani menegaskan DPM Universitas merupakan bagian dari ekosistem besar Nahdlatul Ulama yang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial. Kampus harus hadir sebagai pusat lahirnya solusi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai forum SICS Bali membuka perspektif baru bahwa jejaring masyarakat NU di tingkat lokal dapat dipadukan dengan jaringan internasional perguruan tinggi.
Menurutnya, praktik-praktik baik yang lahir dari masyarakat dapat diperkenalkan ke dunia internasional, sekaligus memperkaya komunitas lokal melalui pertukaran pengalaman dan inovasi dari berbagai negara.
“Inilah bentuk internasionalisasi yang berakar pada kearifan lokal. Global dalam jejaring, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat. Modern dalam pendekatan, namun tetap menjaga nilai dan identitas,” pungkasnya. (Red)















Komentar