Diakui Dunia Internasional, Siapa Sebenarnya Gus Baha?

- Penulis

Rabu, 25 Desember 2024 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ulama muda yang sangat berpengaruh, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)/ sumber gambar: pinterest

Ulama muda yang sangat berpengaruh, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)/ sumber gambar: pinterest

Oleh: Asrof Farouq Ahmad Farizzi*)

SUARAMUDA, SEMARANG — KH. Ahmad Bahauddin Nursalim yang akrab disapa Gus Baha, telah menempatkan dirinya sebagai salah satu ulama paling berpengaruh di Indonesia dan dunia.

Melalui pendekatan dakwah yang moderat dan penuh substansi, Gus Baha tidak hanya menjadi tokoh agama yang dihormati di dalam negeri tetapi juga mendapat pengakuan di panggung internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gus Baha lahir di Desa Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah pada 29 September 1970. Ayahnya KH. Nursalim al-Hafizh, adalah pendiri Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan Al-Qur’an terkemuka di Indonesia. Gus Baha kecil pun dididik langsung oleh sang ayah untuk menghafal Al-Qur’an beserta tafsirnya.

Pendidikan formal dan nonformal Gus Baha berlanjut di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang di bawah bimbingan KH. Maimoen Zubair. Di pesantren ini, ia mendalami berbagai cabang ilmu Keislaman termasuk fikih, tafsir, dan hadis.

Gus Baha bahkan dikenal mampu menghafal kitab Sahih Muslim secara lengkap, mencakup matan, sanad, dan rawi—kemampuan langka yang hanya dimiliki segelintir ulama.

Dakwah Santai, Tapi Penuh Makna

Dakwah Gus Baha dikenal dengan pendekatan yang santai namun penuh makna. Dalam berbagai ceramahnya, ia sering menekankan pentingnya agama sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, bukan sekadar dogma.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Kholid, Nelayan dari Serang yang Viral Gegara Bongkar Kasus Pagar Laut
Ulama muda yang sangat berpengaruh, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha)/ sumber gambar: pinterest

“Islam harus membawa solusi, bukan menjadi beban,” tegasnya dalam salah satu ceramah yang kini banyak diakses di platform digital seperti YouTube.

Dengan gaya penyampaian yang mudah dipahami dan sering kali diselingi humor, Gus Baha berhasil menarik perhatian generasi muda.

Ceramah-ceramahnya telah ditonton jutaan kali dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Inggris, Arab, Prancis, dan Urdu. Pesan-pesan Gus Baha tentang moderasi Islam juga menjadi referensi bagi akademisi dan masyarakat global yang mencari wajah Islam yang damai dan inklusif.

Diakui Dunia Internasional

Kiprah Gus Baha tidak hanya diakui di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Salah satu pengakuan penting datang dari Universitas Al-Azhar, Mesir, di mana Gus Baha diundang sebagai pembicara dalam sebuah konferensi internasional yang mempertemukan ulama dari berbagai negara.

Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pencerahan yang mampu melampaui batas agama, budaya, dan negara. Grand Syaikh Al-Azhar memuji pandangan Gus Baha sebagai relevan dengan tantangan global di era modern.

Di Eropa, Gus Baha pernah berpartisipasi dalam diskusi panel di Jerman yang diinisiasi oleh lembaga riset agama dan multikulturalisme. Dalam diskusi tersebut, beliau menyampaikan gagasan tentang harmoni sosial dalam masyarakat multikultural berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an.

Menurut laporan Middle East Eye, Gus Baha dianggap sebagai salah satu ulama Asia Tenggara yang berhasil menghubungkan Islam tradisional dengan modernitas, memberikan perspektif segar dalam dialog lintas budaya.

Baca Juga :  Muhammad Ikhlas Thamrin: Sang Peracik Energi dari Jerami

Di Asia Tenggara, pemikiran Gus Baha juga diakui oleh institusi pendidikan Islam di Malaysia, Singapura, dan Brunei. Beberapa ceramahnya yang diterjemahkan ke bahasa Melayu digunakan sebagai bahan ajar di universitas Islam seperti International Islamic University Malaysia (IIUM).

Media lokal juga melaporkan bahwa Gus Baha sering diundang untuk berbicara tentang tafsir Al-Qur’an dan penerapannya dalam konteks modern.

Di balik popularitas dan pengakuannya di tingkat global, Gus Baha tetap mempertahankan gaya hidup yang sederhana. Dalam berbagai kesempatan, ia sering menolak fasilitas mewah dan memilih hidup sesuai dengan prinsip kesederhanaan yang diajarkan Islam. Sikap ini memperkuat pesan dakwahnya bahwa Islam mengutamakan substansi daripada simbol.

Pengaruh Gus Baha yang melampaui batas geografis membuktikan bahwa Islam yang moderat dan berbasis ilmu dapat menjadi jembatan untuk menciptakan perdamaian global.

Dengan pendekatan yang inklusif dan pemikiran yang mendalam, Gus Baha tidak hanya menjadi figur ulama yang dihormati tetapi juga inspirasi bagi generasi muda untuk memahami agama secara bijak dan relevan. (Red)

*) Penulis: Asrof Farouq Ahmad Farizzi, aktivis mahasiswa pada Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Wahid Hasyim Semarang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti
Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin
Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea
Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia
Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang
Bocah Purworejo Ini Siap Terbang ke Jerman! Jago Matematika Berkat Metode Jari Aljabar
Jadikan Prestasi sebagai Kompas, Danisha Resmi Pimpin IPM Ranting MTs Muhammadiyah 20 Menongo
Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM
Berita ini 296 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WIB

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti

Rabu, 9 September 2026 - 07:39 WIB

Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia

Senin, 3 Agustus 2026 - 08:11 WIB

Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB