Mengenal Sosok Kholid, Nelayan dari Serang yang Viral Gegara Bongkar Kasus Pagar Laut

- Penulis

Selasa, 28 Januari 2025 - 05:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nelayan Kholid/ sumber: Times Indonesia

Nelayan Kholid/ sumber: Times Indonesia

SUARAMUDA, SEMARANG – Ada hal yang jarang terjadi di forum sekelas Indonesia Lawyers Club (ILC), seorang nelayan dari Serang Utara, Kholid namanya, tampil di panggung itu dengan penuh keberanian.

Bukan hanya membawa suara hati, tetapi juga segudang data. Ia bukan pengamat, bukan akademisi, dan tentu bukan pejabat, melainkan seorang pencari ikan yang hidup dari laut.

Namun malam itu, Kholid menjadi penggugat. Lawannya? Tembok baja oligarki sepanjang 30 kilometer yang disebut pagar laut di perairan Tangerang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kholid mengawali penampilannya dengan sederhana. Namun, seperti ombak kecil yang bisa berubah jadi gelombang besar, suaranya perlahan mengguncang studio. Dalam forum yang dipandu Karni Ilyas itu, Kholid bukan hanya bicara, ia menuding.

“Kalau masyarakat kecil salah, bahkan mencuri kayu untuk bikin rumah saja, langsung dihukum. Tapi ini, pagar sepanjang 30 kilometer, kok dibiarkan? Negara diam. Nunggu apa? Kalau negara takut, saya tidak. Saya lawan!” suara Kholid bergetar, menahan marah sekaligus berusaha tegas.

Publik terpana. Biasanya, suara-suara seperti ini tenggelam di tengah arus diskusi yang penuh basa-basi. Tapi Kholid, dengan data di tangannya, berhasil membalikkan panggung.

Ia berbicara tentang dampak pagar laut itu pada mata pencaharian para nelayan. Ruang gerak mereka terbatas. Laut yang selama ini jadi dapur mereka, kini seperti kandang yang dikunci dari luar.

Baca Juga :  Meski Jalan Longsor, Semangat Belajar Siswa RA At-Tarbiyah Asal Harentang Pantang Berhenti

Yang membuat forum semakin panas adalah ketika Kholid dengan berani menyebut nama-nama besar yang ia duga terlibat dalam kasus itu.

Ia menyebut nama seorang pengusaha ternama, Aguan, bersama dua bawahannya, Ali Hanafiah dan Engcun.

Sejenak, forum hening. Tiga nama itu seperti pisau tajam yang dilempar ke tengah ruang.

Publikasi langsung gaduh, tetapi moderator segera mengalihkan diskusi ke pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Kendati demikian, publik tahu, kata-kata Kholid sudah menancap di kepala siapa saja yang menyaksikan malam itu.

Ketidakadilan yang Terasa Nyata

Kholid tidak berhenti di situ. Ia bicara lebih dalam soal hukum yang seringkali berat sebelah. Untuk masyarakat kecil, aturan seperti tombak; salah sedikit, langsung kena. Namun bagi pemilik kekuasaan, hukum justru sering jadi perisai.

“Pemanfaatan ruang laut itu ada aturannya. Tanpa izin, jelas melanggar hukum. Tapi, kenapa hukum seperti lupa arah kompas kalau berhadapan dengan orang besar?” tegasnya.

Kholid tidak hanya bicara soal hukum. Ia bicara tentang hidup. Tentang perut nelayan yang kosong karena akses ke laut dihalangi.

Ia bicara soal keadilan yang, entah kenapa, selalu berjalan lebih lambat saat berhadapan dengan mereka yang punya uang.

Baca Juga :  Poster "Ndasmu" Ada di Semarang! Ribuan Mahasiswa Gelar Demo #IndonesiaGelap

Publik Berdiri di Samping Kholid

Keberanian Kholid menuai simpati. Media sosial ramai dengan dukungan. Kholid disebut-sebut sebagai suara yang selama ini hilang dari layar televisi: suara rakyat kecil.

Namun, dukungan itu juga datang dengan catatan. Beberapa pihak mengingatkan, penyebutan nama tanpa bukti kuat bisa jadi bumerang bagi Kholid.

Tapi bagi Kholid, risiko itu tidak menggentarkan. Baginya, perjuangan ini bukan untuk dirinya sendiri.

“Laut ini bukan milik mereka yang punya tembok tinggi. Laut ini milik kita semua, milik anak-anak kami,” katanya.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Kasus pagar laut ini telah menjadi perhatian nasional. Berbagai pihak, dari LSM hingga masyarakat umum, mendesak pemerintah untuk menyelidiki dugaan pelanggaran ini.

Namun, di sisi lain, belum ada tindakan nyata yang dilakukan. Pemerintah, seperti kata Kholid, seolah nunggu apa.

Kholid sendiri tetap melaut, seperti biasa. Namun kini, ia bukan sekadar nelayan. Ia adalah simbol perlawanan. Seorang pria sederhana yang, dengan kail kecilnya, mencoba menangkap ikan besar dalam kolam kekuasaan.

Catatan ini bukan hanya soal laut yang terpasung, tetapi juga tentang keberanian seorang nelayan melawan arus. Kholid telah membuktikan, suara kecil pun bisa membelah keheningan tembok besar. (Red)

*) Artikel ini dikutip langsung dari Times Indonesia

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 28 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WIB

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB