Soumaya Sarré, Suara 18 Tahun yang Bikin Pelajar Prancis Bergerak

Dari ruang kelas di Bondy hingga panggung aksi di Prancis, Soumaya Sarré menjelma menjadi salah satu suara muda yang ikut mewarnai gelombang protes pelajar 2026

- Penulis

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Soumaya Sarré, penggerak demo pelajar di Paris. (Foto: AFP/ CNN Indonesia)

Soumaya Sarré, penggerak demo pelajar di Paris. (Foto: AFP/ CNN Indonesia)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Usianya baru 18 tahun. Tapi, suara Soumaya Sarré sudah terdengar jauh melampaui ruang kelas.

Lewat video-video singkat di Instagram, perempuan muda asal Bondy, pinggiran Paris, ini ikut menyuarakan keresahan pelajar Prancis soal kondisi sekolah, kekurangan guru, fasilitas pendidikan yang buruk hingga dugaan kekerasan polisi dalam gelombang demonstrasi pelajar yang membesar sejak akhir September 2026.

Bukan sekadar ikut-ikutan turun ke jalan, Soumaya punya cerita sendiri tentang dunia pendidikan yang sedang ia kritik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat masih duduk di Lycée Jean-Renoir, Bondy, ia melihat langsung kelas yang padat, guru yang absen, hingga kondisi bangunan sekolah yang menurutnya memprihatinkan.

“Semua melihatnya, tapi kami merasa tidak cukup banyak untuk bertindak,” begitu gambaran yang ia sampaikan mengenai kondisi di sekolahnya. Dan dari situlah keberaniannya mulai tumbuh.

Dari Bondy, Naik Panggung

Soumaya bukan sosok yang baru belajar bicara di depan publik. Pada Mei 2026, ia memenangkan kompetisi pidato yang digelar Mémorial de la Shoah dan mempertemukan pelajar dari tiga wilayah akademik di kawasan Paris.

Dalam pidatonya, ia mengutip tokoh pemburu penjahat Nazi, Beate Klarsfeld. Kemampuan berbicaranya kemudian menjadi salah satu kekuatannya ketika menyuarakan isu-isu sosial.

Pada Juli 2026, Soumaya lulus SMA dengan predikat très bien atau sangat baik. Ia mengambil bidang sejarah, geopolitik, dan ilmu politik.

Baca Juga :  Kisah Haru Devit Febriansyah: Siswa Kurang Mampu Asal Sumatera Barat ini Lolos Masuk ITB, Dijemput Langsung Oleh Rektor

Kini, ia melanjutkan kuliah di Sorbonne dengan mengambil dua bidang sekaligus: sejarah dan bahasa Arab. Rutinitasnya pun tak ringan.

Ia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam setiap hari antara kampusnya di Paris dan rumahnya di Bondy.

Instagram Jadi Senjatanya

Soumaya kemudian memanfaatkan media sosial untuk membawa isu pendidikan keluar dari pagar sekolah.

Dalam salah satu videonya, ia mengkritik pemerintah Prancis karena dinilai cepat mengatur soal pakaian, tetapi dianggap lambat memastikan kondisi belajar yang layak.

Video lainnya yang membahas dugaan kekerasan polisi bahkan mendapat lebih dari 45 ribu likes.

Gaya komunikasinya sederhana: kamera, wajahnya, lalu suara anak muda yang merasa punya sesuatu untuk dikatakan.

Dari layar ponsel, pesannya kemudian ikut menemukan audiens yang lebih luas.

Tak Berhenti di Pendidikan

Aktivisme Soumaya juga merambah isu diskriminasi. Pada musim semi 2026, ia bersama sejumlah teman membentuk High School Anti-Racist Movement, sebuah kelompok yang menyuarakan persoalan rasisme di lingkungan sekolah. Pihak sekolah sendiri membantah tuduhan tersebut.

Kelompok itu memang kecil. Namun, menurut Soumaya, jumlah pengikut mereka di media sosial jauh lebih besar dibanding jumlah anggota langsungnya.

Di sinilah terlihat bagaimana aktivisme anak muda Prancis kini tak hanya berlangsung di jalanan. Media sosial menjadi ruang konsolidasi baru.

Dari Camus hingga Politik

Soumaya juga punya sisi intelektual yang cukup kuat. Ia mengaku terpengaruh karya Albert Camus, termasuk The Stranger dan The Plague. Ia juga membaca pidato-pidato politik, termasuk pidato Robert Badinter mengenai hukuman mati.

Baca Juga :  Rektor UIN Banten Prof. Ishom Dinobatkan Jadi “Santri of The Year 2025”, Ungkap Rahasia Suksesnya: Barokah Kiai!

Ketertarikannya pada politik kemudian membawanya lebih jauh. Ia menjadi juru bicara RED Jeunes, kelompok yang mendorong anak muda dari kawasan kelas pekerja agar lebih aktif dalam politik dan ikut mengambil tempat dalam perdebatan publik.

Ia juga menghadiri konferensi musim panas partai kiri La France Insoumise pada Agustus 2026.

Pada 4 Oktober 2026, Soumaya bahkan tampil di depan sekitar 350 orang dalam sebuah aksi di Saint-Denis.

Pesannya jelas, bahwa gerakan tersebut, menurutnya, adalah ruang bagi anak muda untuk menyuarakan kemarahan dan tuntutan mereka sendiri.

Bukan Sekadar Wajah Demo

Nama Soumaya Sarré mencuat di tengah gelombang demonstrasi pelajar yang kini menjadi salah satu aksi pendidikan terbesar di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, kisah Soumaya sebenarnya lebih panjang dari sekadar demonstrasi. Ia adalah gambaran tentang generasi muda yang tumbuh bersama ruang kelas, buku, kamera ponsel, media sosial, dan kegelisahan politik.

Dari Bondy ke Sorbonne, dari lomba pidato ke Instagram, Soumaya menunjukkan satu hal: usia muda tidak selalu berarti suara harus menunggu giliran.

Dan ketika suara itu menemukan ribuan pendengar, sebuah keresahan pribadi bisa berubah menjadi percakapan publik. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti
Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin
Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea
Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia
Kisah Nathan: Remaja 18 Tahun Pecahkan Rekor Profesor Termuda Dunia, Rekor 306 Tahun Tumbang
Bocah Purworejo Ini Siap Terbang ke Jerman! Jago Matematika Berkat Metode Jari Aljabar
Jadikan Prestasi sebagai Kompas, Danisha Resmi Pimpin IPM Ranting MTs Muhammadiyah 20 Menongo
Profil Tiyo Ardianto: Dari Jalur Paket C hingga Jadi Suara Kritis Mahasiswa UGM
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Soumaya Sarré, Suara 18 Tahun yang Bikin Pelajar Prancis Bergerak

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WIB

4,65 Detik dan Emas Pertama Robby: Saat Mental Berubah, Prestasi Mengikuti

Rabu, 9 September 2026 - 07:39 WIB

Hong Kong Berduka, Tung Chee-hwa Meninggal Dunia: Dari Taipan Kapal ke Kursi Pemimpin

Minggu, 30 Agustus 2026 - 10:19 WIB

Farhan, Anak Sopir Truk yang Tak Takut Bermimpi: Lulus ITB dengan IPK 3,98 dan Raih Beasiswa S2 ke Korea

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:04 WIB

Jonatan Christie, Sang Pewaris Takhta Taufik Hidayat: 26 Tahun Kemudian, Indonesia Punya Nomor 1 Dunia

Berita Terbaru

Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S

KABAR NUSANTARA

Temuan MK: Gibran Tak Punya Ijazah SMA

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:15 WIB