SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Usianya baru 18 tahun. Tapi, suara Soumaya Sarré sudah terdengar jauh melampaui ruang kelas.
Lewat video-video singkat di Instagram, perempuan muda asal Bondy, pinggiran Paris, ini ikut menyuarakan keresahan pelajar Prancis soal kondisi sekolah, kekurangan guru, fasilitas pendidikan yang buruk hingga dugaan kekerasan polisi dalam gelombang demonstrasi pelajar yang membesar sejak akhir September 2026.
Bukan sekadar ikut-ikutan turun ke jalan, Soumaya punya cerita sendiri tentang dunia pendidikan yang sedang ia kritik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat masih duduk di Lycée Jean-Renoir, Bondy, ia melihat langsung kelas yang padat, guru yang absen, hingga kondisi bangunan sekolah yang menurutnya memprihatinkan.
“Semua melihatnya, tapi kami merasa tidak cukup banyak untuk bertindak,” begitu gambaran yang ia sampaikan mengenai kondisi di sekolahnya. Dan dari situlah keberaniannya mulai tumbuh.
Dari Bondy, Naik Panggung
Soumaya bukan sosok yang baru belajar bicara di depan publik. Pada Mei 2026, ia memenangkan kompetisi pidato yang digelar Mémorial de la Shoah dan mempertemukan pelajar dari tiga wilayah akademik di kawasan Paris.
Dalam pidatonya, ia mengutip tokoh pemburu penjahat Nazi, Beate Klarsfeld. Kemampuan berbicaranya kemudian menjadi salah satu kekuatannya ketika menyuarakan isu-isu sosial.
Pada Juli 2026, Soumaya lulus SMA dengan predikat très bien atau sangat baik. Ia mengambil bidang sejarah, geopolitik, dan ilmu politik.
Kini, ia melanjutkan kuliah di Sorbonne dengan mengambil dua bidang sekaligus: sejarah dan bahasa Arab. Rutinitasnya pun tak ringan.
Ia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam setiap hari antara kampusnya di Paris dan rumahnya di Bondy.
Instagram Jadi Senjatanya
Soumaya kemudian memanfaatkan media sosial untuk membawa isu pendidikan keluar dari pagar sekolah.
Dalam salah satu videonya, ia mengkritik pemerintah Prancis karena dinilai cepat mengatur soal pakaian, tetapi dianggap lambat memastikan kondisi belajar yang layak.
Video lainnya yang membahas dugaan kekerasan polisi bahkan mendapat lebih dari 45 ribu likes.
Gaya komunikasinya sederhana: kamera, wajahnya, lalu suara anak muda yang merasa punya sesuatu untuk dikatakan.
Dari layar ponsel, pesannya kemudian ikut menemukan audiens yang lebih luas.
Tak Berhenti di Pendidikan
Aktivisme Soumaya juga merambah isu diskriminasi. Pada musim semi 2026, ia bersama sejumlah teman membentuk High School Anti-Racist Movement, sebuah kelompok yang menyuarakan persoalan rasisme di lingkungan sekolah. Pihak sekolah sendiri membantah tuduhan tersebut.
Kelompok itu memang kecil. Namun, menurut Soumaya, jumlah pengikut mereka di media sosial jauh lebih besar dibanding jumlah anggota langsungnya.
Di sinilah terlihat bagaimana aktivisme anak muda Prancis kini tak hanya berlangsung di jalanan. Media sosial menjadi ruang konsolidasi baru.
Dari Camus hingga Politik
Soumaya juga punya sisi intelektual yang cukup kuat. Ia mengaku terpengaruh karya Albert Camus, termasuk The Stranger dan The Plague. Ia juga membaca pidato-pidato politik, termasuk pidato Robert Badinter mengenai hukuman mati.
Ketertarikannya pada politik kemudian membawanya lebih jauh. Ia menjadi juru bicara RED Jeunes, kelompok yang mendorong anak muda dari kawasan kelas pekerja agar lebih aktif dalam politik dan ikut mengambil tempat dalam perdebatan publik.
Ia juga menghadiri konferensi musim panas partai kiri La France Insoumise pada Agustus 2026.
Pada 4 Oktober 2026, Soumaya bahkan tampil di depan sekitar 350 orang dalam sebuah aksi di Saint-Denis.
Pesannya jelas, bahwa gerakan tersebut, menurutnya, adalah ruang bagi anak muda untuk menyuarakan kemarahan dan tuntutan mereka sendiri.
Bukan Sekadar Wajah Demo
Nama Soumaya Sarré mencuat di tengah gelombang demonstrasi pelajar yang kini menjadi salah satu aksi pendidikan terbesar di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, kisah Soumaya sebenarnya lebih panjang dari sekadar demonstrasi. Ia adalah gambaran tentang generasi muda yang tumbuh bersama ruang kelas, buku, kamera ponsel, media sosial, dan kegelisahan politik.
Dari Bondy ke Sorbonne, dari lomba pidato ke Instagram, Soumaya menunjukkan satu hal: usia muda tidak selalu berarti suara harus menunggu giliran.
Dan ketika suara itu menemukan ribuan pendengar, sebuah keresahan pribadi bisa berubah menjadi percakapan publik. (Red)













Komentar