Viral! Kenapa Es Teh Jadi Minuman Sejuta Umat di Indonesia?

- Penulis

Sabtu, 7 Desember 2024 - 07:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Es Teh/ sumber: Pinterest

Ilustrasi Es Teh/ sumber: Pinterest

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG – Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah viral di media sosial lantaran mengolok-olok (menghina) penjual es teh, Sunhaji, di acara Magelang Bersholawat.

Saat kejadian, seorang pedagang es teh tersebut hadir di antara para jemaah. “Es tehmu masih banyak tidak? Masih? Ya sana jual go***!” celetuk Gus Miftah pakai bahasa Jawa yang disambut tawa mereka yang sepanggung dengan dirinya, dikutip dari YouTube PCNU Kabupaten Magelang, Selasa (3/12/2024).

Atas kasus tersebut, muncul petisi agar Miftah dicopot dari jabatan Utusan Khusus Presiden. Per Kamis (5/12/2024) pukul 16.34 WIB, petisi bertajuk “Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden” dalam laman Change.org itelah ditandatangani 49.246 orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dilansir Kompas TV, tercatat 222.410 orang telah menandatangani petisi pada Jumat (6/12/2024) pukul 08.20 WIB. Miftah pun akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya itu.

Es Teh Jumbo/ gambar: Pinterest

Fenomena Es Teh

Eh teh memang seakan menjadi minuman favorit bangsa ini. Mulai dari warung angkringan, hingga restoran selalu saja menyediakan es teh.

Baca Juga :  CEO Maxy Academy Harapkan Hal Ini dari Mahasiswa di Semarang

Terbaru, kehadiran es teh secara bombastis lewat “serangan” Es Teh Jmbo belakangan ini memang di sisi lain menghadirkan pekerjaan baru sebagaimana Sunhaji, yang menjajakan es dagangannya dalam pengajian itu.

Lantas mengapa es teh begitu fenomenal bagi lidah orang Indonesia?

Banyak alasan yang membuat minuman sederhana ini jadi begitu nikmat di lidah masyarakat Indonesia. Mulai dari menyegarkan, manis, hingga minuman pelepas dahaga yang murah-meriah. Satu cup ‘Es Teh Jumbo’ saja hanya dibanderol Rp 3000-7000 saja.

Dikutip dari Kumparan, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito mengatakan, minuman ‘teh’ secara ekstensif dikenal masyarakat Indonesia sejak Belanda masuk ke Pulau Jawa; yang datang melalui jalur Maluku saat hendak berdagang rempah-rempah.

Namun, kemudian, Belanda tertarik dengan keindahan dan kesuburan tanah Jawa serta Sumatera. Sehingga pada saat itu, tepatnya abad 17 atau sekitar tahun 1600-an, Belanda membawa tanaman teh ke Batavia (Jawa) melalui Pantai Sukabumi.

Baca Juga :  Bukan Kaleng-kaleng, Begini Profil dan Spek Layanan Maskapai Baru "Indonesia Airlines"

Di sana, ditanamlah tanaman teh yang kemudian menurut ajaran bangsa India, sangat cocok dikembangkan di Jawa Barat.

Sementara di Jawa Tengah, masyarakat begitu kreatif—berhasil memadukan teh dengan bunga melati. Sehingga kita mengenalnya kini dengan sebutan teh wangi atau jasmin tea dalam bahasa Inggris.

Lalu, seiring dengan kemajuan teknologi terkait pembuatan es, orang-orang Jawa kemudian mengenal sajian minuman dingin—dan salah satunya es teh manis—yang sangat cocok untuk masyarakat daerah tropis. Rasa minuman dingin ini dinilai lebih menyegarkan.

Es teh manis hingga kini hadir sebagai minuman yang disukai oleh seluruh masyarakat Indonesia; dengan konsumsi teh tertinggi masih dipegang oleh masyarakat Pulau Jawa.

Meskipun begitu, seperti yang kita ketahui, seluruh daerah di Indonesia mengonsumsi teh sebagai minuman sehari-hari. Inilah pula yang membuat varian teh khas Tanah Air kian beragam; yang menurut Prof. Murdijati jumlah variasinya ada puluhan jenis. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 385 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

OPINI

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 17 Sep 2026 - 08:25 WIB

RAGAM

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:44 WIB