Gema Orasi di OLS UM: Saat Akademisi dan Mahasiswa UM Gelar Refleksi & Orasi

- Penulis

Minggu, 10 Mei 2026 - 20:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, MALANG — Pagi itu, Senin (4/5/2026), suasana di Outdoor Learning Space (OLS) Universitas Negeri Malang terasa berbeda dari biasanya.

Di bawah Gedung Kuliah Bersama, mahasiswa duduk melingkar, sebagian membawa poster kecil, sebagian lainnya sibuk merekam suasana lewat ponsel mereka.

Tidak ada hingar-bingar acara seremonial kampus. Yang terdengar justru suara-suara refleksi, keresahan, dan keberanian untuk berbicara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melalui forum bertajuk “Refleksi & Orasi Kebangsaan: Merayakan Ruang Akademik, Merawat Republik”, akademisi dan mahasiswa berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang belakangan semakin jarang terdengar di ruang kampus: keberanian menjaga akal sehat.

Kampus Tak Boleh Kehilangan Ruhnya

Salah satu momen yang paling menyita perhatian datang saat Prof. Syaad menyampaikan orasinya. Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa kampus bukan sekadar tempat mengejar nilai, presensi, atau gelar akademik.

“Ruang akademik bukan untuk diam,” ujarnya lantang di hadapan peserta.

Kalimat itu langsung mengubah suasana menjadi lebih hening. Bagi banyak mahasiswa yang hadir, pernyataan tersebut terasa seperti tamparan keras terhadap budaya akademik yang perlahan mulai kehilangan daya kritisnya.

Dalam orasinya, kampus digambarkan bukan sebagai “museum pengetahuan” yang hanya menyimpan teori dan hafalan, melainkan arena perjuangan intelektual. Tempat di mana keberanian berpikir dan bersuara seharusnya terus hidup.

Kegelisahan itu muncul karena semakin banyak intelektual muda yang memilih aman. Tak sedikit mahasiswa maupun akademisi yang enggan menyampaikan kritik karena takut terhadap konsekuensi administratif, tekanan birokrasi, atau sekadar takut keluar dari zona nyaman.

Padahal, ketika kampus kehilangan keberanian moralnya, pendidikan hanya akan melahirkan lulusan yang pintar secara teknis tetapi tumpul secara nurani.

Baca Juga :  Cara Mudah Kirim Tulisan dan Rilis Berita di Media Online, Dimuat 100% dan Gratis!

Pendidikan yang Kian Berjarak dari Mahasiswa

Diskusi kemudian bergerak pada persoalan yang lebih luas: komersialisasi pendidikan tinggi. Momentum pasca Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional membuat isu tersebut terasa semakin relevan.

Dalam forum itu, muncul keresahan bahwa pendidikan perlahan berubah menjadi industri besar yang terlalu sibuk menghitung angka dibanding memanusiakan manusia.

“Mahasiswa bukan objek komersialisasi pendidikan,” seru salah satu peserta forum. Pernyataan itupun disambut tepuk tangan panjang.

Status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) ikut menjadi sorotan. Banyak peserta menilai sistem tersebut membuat kampus semakin dekat dengan logika industri dan perlahan menjauh dari prinsip keadilan sosial.

Biaya pendidikan yang terus meningkat, transparansi anggaran yang dipertanyakan, hingga orientasi kampus yang semakin berfokus pada pasar kerja menjadi kritik yang terus mengemuka.

Keresahan lain muncul ketika beberapa jurusan dianggap “tidak relevan” dengan kebutuhan industri. Bagi peserta forum, cara berpikir semacam itu berbahaya karena ilmu pengetahuan akhirnya hanya diukur dari nilai ekonominya.

Jika semuanya harus tunduk pada pasar, lalu di mana tempat bagi ilmu-ilmu yang membentuk kesadaran kritis, kemanusiaan, dan peradaban?

Ketika Kampus Belum Menjadi Ruang Aman

Di tengah pembahasan tentang pendidikan, isu keamanan kampus menjadi bagian yang paling emosional dalam forum tersebut.

Peserta menyoroti masih maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus, baik verbal maupun non-verbal. Ironisnya, kampus yang seharusnya menjadi ruang paling aman untuk bertumbuh justru masih menyisakan rasa takut bagi sebagian mahasiswanya.

Baca Juga :  Sepucuk Surat Musim Panas dari Rusia

Kritik diarahkan pada efektivitas lembaga maupun satuan tugas penanganan kekerasan seksual yang dinilai belum mampu memberikan rasa aman secara nyata.

Selama ini, istilah “prosedural” dan “kode etik” dianggap terlalu sering dipakai sebagai alasan birokratis yang membuat penanganan kasus berjalan lambat dan tidak transparan.

Mahasiswa, menurut mereka, tidak membutuhkan simbol keamanan semata. Mereka membutuhkan keberpihakan yang benar-benar terasa.

Sebab kampus yang megah secara fisik tidak akan berarti banyak jika penghuninya masih merasa tidak aman secara batin.

Melampaui Sekadar Angka IPK

Menjelang akhir acara, suasana refleksi berubah menjadi lebih personal. Forum itu seperti sedang berbicara langsung kepada setiap mahasiswa yang hadir. Pesannya sederhana, tetapi kuat: jangan menjadi generasi penonton.

Mahasiswa diajak untuk tidak hanya aktif di media sosial atau sibuk mengejar IPK tinggi tanpa memiliki keberanian moral untuk peduli terhadap keadaan sekitar.

Republik ini, kata mereka, tidak hanya membutuhkan sarjana yang mahir membuat jurnal ilmiah, tetapi juga manusia yang berani menyuarakan kebenaran.

Sebab sejarah bangsa selalu menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari ruang-ruang akademik yang menolak untuk diam.

Pagi di OLS UM hari itu akhirnya bukan sekadar forum orasi biasa. Ia menjadi pengingat bahwa kampus seharusnya tetap menjadi rumah bagi kebebasan berpikir, keberanian bersuara, dan perjuangan menjaga nurani publik.

Di tengah dunia pendidikan yang semakin sibuk mengejar reputasi dan prestise, suara-suara dari ruang kecil di sudut kampus itu seakan mengingatkan satu hal penting: kampus tidak boleh kehilangan rohnya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi
Mahasiswa KKN Unika Santu Paulus Ruteng Berikan Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMP Negeri 2 Borong
Gerak Jalan MTs Muhammadiyah 20 Menongo Makin Solid Jelang HUT RI ke-81
Soliditas Pramuka Tasikmalaya Warnai Parade Batik Sukapura, Dukung Hari Jadi ke-394
IAILM Suryalaya Istiqamah Cetak Pembina Pramuka Berkarakter Lewat KMD dan KML
Madrasah Ramah Anak! MIN 9 Langkat Hadirkan Sekolah Aman, Nyaman, dan Bebas Bullying
Kamu Wajib Tahu! Prabowo Bikin Kampus Baru, Namanya Universitas Republik Indonesia
14 Mahasiswa KKN UIN Walisongo Resmi Mengabdi di Demak, Siap Bawa Program Inovatif untuk Warga
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:58 WIB

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:43 WIB

Mahasiswa KKN Unika Santu Paulus Ruteng Berikan Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMP Negeri 2 Borong

Senin, 27 Juli 2026 - 22:27 WIB

Gerak Jalan MTs Muhammadiyah 20 Menongo Makin Solid Jelang HUT RI ke-81

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:28 WIB

Soliditas Pramuka Tasikmalaya Warnai Parade Batik Sukapura, Dukung Hari Jadi ke-394

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:02 WIB

IAILM Suryalaya Istiqamah Cetak Pembina Pramuka Berkarakter Lewat KMD dan KML

Berita Terbaru

Gambar: Kompas.com

KABAR NUSANTARA

Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?

Sabtu, 1 Agu 2026 - 20:05 WIB

RAGAM

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:58 WIB