SUARAMUDA.NET, SEMARANG — BRICS belum kehilangan daya tarik. Di tengah perubahan peta ekonomi dan politik global, puluhan negara berkembang justru masih melirik kelompok ekonomi ini.
Terbaru, sebanyak 45 negara disebut telah mengajukan atau menyatakan ketertarikan untuk bergabung dengan BRICS. Dari jumlah tersebut, 23 negara sudah mengajukan permohonan secara resmi, sementara 22 negara lainnya baru menyampaikan minat secara informal.
Angka tersebut menunjukkan bahwa BRICS masih menjadi salah satu forum yang diperhitungkan oleh negara-negara berkembang untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus memperkuat posisi mereka dalam perekonomian global.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar soal gabung organisasi
Ketertarikan terhadap BRICS tidak muncul begitu saja. Kelompok yang awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, dan China itu berkembang dengan masuknya Afrika Selatan.
Setelah mengalami perluasan, BRICS kini beranggotakan 11 negara, termasuk Indonesia yang resmi menjadi anggota penuh pada 2025.
Dengan komposisi tersebut, BRICS memiliki bobot ekonomi dan demografi yang cukup besar. Data Kementerian Perdagangan RI menyebut anggota BRICS pada 2025 mencakup sekitar 41,41 persen PDB dunia, 28 persen perdagangan global, dan 45 persen populasi dunia.
Tak heran jika sejumlah negara berkembang melihat BRICS sebagai ruang baru untuk memperluas hubungan perdagangan, investasi, hingga kerja sama ekonomi.
Ada peluang, tetapi pintunya tidak otomatis terbuka
Meski 45 negara tertarik, bukan berarti semuanya akan segera menjadi anggota. Menurut laporan tersebut, penerimaan anggota baru dalam waktu dekat belum tentu dilakukan.
Perluasan keanggotaan memang telah berlangsung pada 2024, sementara keputusan mengenai anggota baru maupun negara mitra tetap bergantung pada pembahasan dan persetujuan negara-negara anggota BRICS.
Artinya, mengajukan permohonan hanyalah satu langkah. Keputusan akhirnya tetap berada di tangan negara-negara BRICS.
Mengapa banyak negara melirik BRICS?
Salah satu alasannya adalah keinginan memperluas ruang kerja sama ekonomi di luar struktur ekonomi global yang selama ini banyak dipengaruhi negara-negara Barat.
BRICS menawarkan forum bagi negara-negara berkembang untuk membicarakan perdagangan, investasi, pembangunan, sistem keuangan, hingga berbagai agenda ekonomi global.
Daya tarik itu juga terlihat dalam agenda BRICS belakangan ini. Pada KTT BRICS di New Delhi, 12–13 September 2026, para pemimpin membahas antara lain penguatan kerja sama ekonomi, perdagangan menggunakan mata uang lokal, serta peningkatan peran negara-negara berkembang dalam lembaga global.
Dengan kata lain, BRICS bukan lagi sekadar nama yang terdiri dari lima huruf. Ia telah berkembang menjadi salah satu ruang pertemuan penting bagi negara-negara yang ingin memperbesar pengaruh dan pilihan dalam ekonomi global.
Indonesia sudah lebih dulu masuk
Bagi Indonesia, dinamika ini tentu menarik. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 2025 dan kini duduk bersama negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Presiden Prabowo Subianto juga menghadiri KTT BRICS di New Delhi pada September 2026. Dalam forum tersebut, Indonesia membawa pesan tentang kemandirian, persatuan negara-negara Global South, serta penguatan tata kelola global yang lebih inklusif.
Jadi, ketika 45 negara masih mengetuk pintu BRICS, Indonesia justru sudah berada di dalam ruangan.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar siapa yang ingin bergabung, tetapi seberapa besar BRICS mampu mengubah ketertarikan tersebut menjadi kerja sama nyata dan memberi ruang lebih besar bagi negara-negara berkembang dalam ekonomi global. (Red)













Komentar