SUARAMUDA.NET, KAZAN, RUSIA — Nama Indonesia turut mewarnai panggung dialog lintas budaya di Kazan, Rusia. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam International Forum “Dialog of Cultures: Russia — Islamic World” yang resmi dibuka pada 21 Oktober 2026.
Forum internasional ini terbilang istimewa. Untuk pertama kalinya digelar, kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa, peneliti muda, dan aktivis dari 19 negara untuk bertukar gagasan tentang budaya, agama, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menyatukan masyarakat dunia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program “Kazan — Cultural Capital of the Islamic World 2026“, sebuah rangkaian agenda yang menempatkan kebudayaan dan peradaban Islam sebagai ruang perjumpaan berbagai bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kehadiran UNU Yogyakarta pun menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk ikut menyuarakan pentingnya dialog antarbudaya di tengah masyarakat global yang semakin beragam.
Tak Sekadar Berdiskusi, Ada Olimpiade Ilmu Islam dan Bahasa Arab
Kemudian, ada agenda lain yang tak kalah menarik. Rangkaian kegiatan di Kazan juga diisi dengan Olimpiade Internasional IV bidang ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.
Ajang akademik ini diikuti perguruan tinggi Islam dari Rusia, negara-negara Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS), Turki, Pakistan, India, Malaysia, dan Indonesia.
Tahun ini, olimpiade semakin berwarna dengan keikutsertaan peserta dari tiga negara yang untuk pertama kalinya ambil bagian, yakni Serbia, Bosnia dan Herzegovina, serta Afrika Selatan. Secara keseluruhan, peserta olimpiade berasal dari 15 negara.
Dari kawasan Asia Tenggara, UNU Yogyakarta turut berpartisipasi bersama Universitas Putra Malaysia.
Ada empat kategori yang diperlombakan dalam olimpiade tersebut, yaitu Bahasa Arab, Dasar-Dasar Agama, Hukum Islam Mazhab Hanafi, dan Hukum Islam Mazhab Syafi’i.
Beragam kategori ini menunjukkan bahwa ajang tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan juga ruang untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus mempertemukan tradisi keilmuan dari berbagai negara.
Menjembatani Perbedaan, Meruntuhkan Stereotip
Kembali ke forum dialog budaya, pertemuan ini menghadirkan peserta dari berbagai belahan dunia, mulai dari Uni Emirat Arab dan Qatar hingga Indonesia dan Afrika Selatan.
Misinya cukup jelas, yakni menemukan nilai-nilai bersama, mengikis stereotip antarkelompok, serta membangun komunikasi yang lebih terbuka di tengah perbedaan budaya dan keyakinan.
Rektor Institut Islam Rusia (RII), Rafik Mukhametshin, mengatakan bahwa forum tersebut menghadirkan format pertemuan kaum muda dari puluhan negara untuk berdialog secara terbuka mengenai budaya, agama, dan nilai-nilai bersama.
“Kami menciptakan ruang di mana kaum muda tidak sekadar berbicara satu sama lain, tetapi juga belajar saling memahami — dan itulah dasar perdamaian dan kerukunan,” tegas Rafik Mukhametshin.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang melandasi penyelenggaraan forum. Sebab, di tengah perbedaan latar belakang, kemampuan untuk mendengarkan dan memahami perspektif orang lain menjadi modal penting untuk membangun kehidupan bersama yang damai.
Bagi kalangan muda, forum semacam ini juga membuka kesempatan untuk memperluas jejaring internasional, mengenal tradisi masyarakat lain, serta bertukar pandangan mengenai tantangan yang dihadapi generasi masa kini.
Dua Hari Penuh Dialog dan Kolaborasi Internasional
Rangkaian acara utama dimulai pada 21 Oktober 2026 di Teater Akademik Negeri Tatarstan Galiasgar Kamal, Jalan Khadi Taktasha 74, Kazan.
Agenda hari pertama diawali dengan seremoni pembukaan pada pukul 09.30 waktu setempat. Acara kemudian dilanjutkan dengan pameran manisan bertajuk “Rasa Persatuan: Manisan Bangsa-Bangsa Dunia Islam” pada pukul 10.00.
Tak hanya menyajikan kekayaan kuliner, agenda tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman tradisi masyarakat dunia Islam.
Pada pukul 10.30, kegiatan berlanjut dengan diskusi pleno bertema “Nilai-Nilai Bersama sebagai Dasar Dialog”. Sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Adham al-Asimi dari Institut Islam Damaskus, Suriah; Ahmad al-Rumhi dari Kesultanan Oman; serta Ayman Mohamed al-Zahrawi dari Republik Arab Suriah.
Memasuki 22 Oktober 2026, rangkaian kegiatan berlanjut di gedung Institut Islam Rusia.
Sejumlah diskusi meja bundar digelar untuk membahas isu-isu strategis, mulai dari peran pemuda dalam membangun perdamaian dan kerukunan, pendidikan dan mobilitas akademik, hingga media dan komunikasi digital.
Agenda kemudian ditutup dengan seremoni penutupan forum serta penandatanganan memorandum kerja sama ant perguruan tinggi.
Rangkaian kegiatan selama dua hari ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, dan pertukaran akademik antarnegara.
Bagi UNU Yogyakarta, partisipasi dalam forum internasional ini menjadi bagian dari upaya memperluas pergaulan akademik sekaligus membawa perspektif Indonesia ke ruang dialog global.
Lebih dari sekadar pertemuan lintas negara, forum di Kazan mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk saling memahami.
Justru melalui dialog, generasi muda memiliki kesempatan untuk membangun jembatan persahabatan, memperkuat toleransi, dan merawat perdamaian dunia. (Red)














Komentar