Setelah Indonesia, Malaysia, dan Thailand, Kini Vietnam Resmi Gabung BRICS: Selamat Datang!

- Penulis

Kamis, 19 Juni 2025 - 00:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Vietnam. (Sumber: freepik)

Bendera Vietnam. (Sumber: freepik)

SUARAMUDA, SEMARANG – Akhirnya, Vietnam secara resmi bergabung BRICS sebagai negara mitra. Bergabungnya Vietnam itu menandai langkah strategis dalam memperkuat posisi geopolitik dan memperluas hubungan perdagangan lintas kawasan.

Vietnam adalah negara ASEAN keempat yang terlibat secara formal dalam BRICS setelah Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Strategi Hanoi ini dinilai sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada perdagangan dengan Amerika Serikat serta meningkatkan investasi dan hubungan ekonomi dengan negara-negara berkembang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para analis menyebut keputusan tersebut mencerminkan respons Vietnam terhadap risiko global, terutama yang terkait kebijakan perdagangan proteksionis AS.

Pengumuman resmi disampaikan oleh Brasil selaku ketua bergilir BRICS pada Jumat (13/6/2025), menyusul konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri Vietnam akhir pekan lalu.

Perluasan Keanggotaan BRICS

Masuknya Vietnam memperluas keanggotaan BRICS, yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.

“Vietnam ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka mampu dan bersedia menyelaraskan pilihannya dengan kepentingan nasional, baik dalam pembangunan ekonomi maupun keamanan eksternal,” ujar Le Truong Giang, analis Control Risks yang berbasis di London dikutip dari The Business Times, Selasa (17/6/2025).

Baca Juga :  Begini Rusia Bangun Krimea Paska Gabung dalam Wilayah Federasi

Menurut Pemerintah Brasil, Vietnam merupakan aktor penting di Asia yang menunjukkan komitmen terhadap kerja sama Selatan-Selatan dan pembangunan berkelanjutan, dua agenda utama dalam misi BRICS.

Bergabung dengan BRICS dinilai akan membuka jalan bagi Vietnam untuk mendiversifikasi pasar ekspor, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan otonomi politik luar negerinya.

Lavanya Venkateswaran, ekonom senior ASEAN di OCBC, menyebutkan meski ekspor Vietnam ke negara BRICS selain China masih rendah: India 2,2 persen, Rusia 0,6 persen, dan Afrika Selatan 0,2 persen, namun potensi pertumbuhannya sangat besar.

Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan dan pariwisata juga dapat diperluas, termasuk insentif visa dan program pertukaran pelajar

Akan tetapi, proses Vietnam menjadi mitra BRICS memerlukan waktu hampir satu tahun sejak pertama kali menyatakan minatnya.

Salah satu penghambat utamanya adalah ketegangan dagang dengan AS, termasuk ancaman tarif balasan sebesar 46 persen yang sempat dilontarkan mantan Presiden Donald Trump.

Baca Juga :  China Buka Pasar Kopi untuk Brasil, Hindari Tarif Tinggi AS?

Dalam beberapa bulan terakhir, Vietnam berupaya keras menjalin kompromi dengan Washington.

Putaran ketiga diskusi perdagangan dengan AS ditutup pada 12 Juni lalu, dengan pernyataan bahwa kedua negara telah “mempersempit kesenjangan” di berbagai isu penting.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick sebelumnya menyatakan masih ada ruang dialog, selama Vietnam mengurangi ketergantungannya pada impor dari China dan memperkecil surplus perdagangannya dengan AS.

Tahun lalu, surplus Vietnam dengan AS mencapai USD123 miliar terbesar ketiga setelah China dan Meksiko.

Venkateswaran menegaskan bahwa agenda diversifikasi perdagangan Vietnam tetap sejalan dengan negosiasi bilateral bersama AS.

Menurutnya, penyelesaian isu transhipment dan asal barang akan menentukan keberhasilan Vietnam mempertahankan statusnya sebagai salah satu mitra ekspor utama bagi AS.

Meski demikian, penguatan posisi Vietnam dalam BRICS memberi sinyal bahwa negara tersebut tidak hanya bergantung pada satu mitra strategis.

Aliansi dengan negara-negara Global Selatan ini membuka babak baru dalam arah kebijakan luar negeri dan ekonomi Vietnam di tengah lanskap global yang semakin dinamis. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Senin, 22 Juni 2026 - 17:13 WIB

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB