Begini Rusia Bangun Krimea Paska Gabung dalam Wilayah Federasi

- Penulis

Rabu, 28 Mei 2025 - 04:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan Eksklusif Jurnalis Suara Muda, Amy Maulana

SUARAMUDA, KRIMEA, RUSIA — Sejak Krimea menjadi wilayah Federasi Rusia pada 2014 lalu melalui referendum, Moskow telah melakukan sejumlah proyek infrastruktur besar-besaran untuk mengintegrasikan wilayah ini secara ekonomi dan politik.

Di bawah Federasi Rusia, pembangunan di Krimea mengalami percepatan signifikan, meskipun disertai dengan sanksi internasional dan kritik dari masyarakat global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Caption: Kota Sudak, Krimea menjadi destinasi wisata favorit untuk wisatawan domestik

Saya berkesempatan menyaksikan wajah Kremia pasca menjadi wilayah Rusia dengan pembangunan-pembangunan.

Bersama dengan warga lokal bernama Aleksey Natalenko, berkeliling di beberapa tempat di Kremia, sambil menikmati keindahan semenajung Kremia dengan pemandangan gunung dan laut hitamnya.

Mengapa Banyak Warga Krimea Mendukung Bergabung dengan Rusia?

Faktor Sejarah dan Identitas Budaya adalah faktor utama dukungan kepada Rusia. Menurut Aleksey, Warga Krimea menilai bergabung dengan Rusia menandakan bahwa mereka “kembali kepada tanah airnya”.

Sekitar 60% populasi Krimea adalah etnis Rusia, yang merasa lebih terhubung dengan Moskow daripada Kiev. Krimea menjadi bagian Rusia sejak 1783 hingga 1954, dan itu membekas sampai sekarang.

Caption: Ditemani warga lokal, Aleksey menemani saya selama di Krimea

Mengutip pernyataan pejabat Krimea, Sergey Aksyonov mengatakan, “Rakyat Krimea selalu menjadi bagian dari dunia Rusia. Referendum ini adalah pemenuhan keinginan sejarah kami.”.

Setelah runtuhnya Uni Soviet (1991), banyak warga Krimea yang tidak puas dengan kebijakan Ukraina dan ingin kembali ke Rusia.

Aleksey menambahkan bahwa selama di bawah Ukraina, pembangunan infrastruktur di Krimea terbengkalai, sementara Rusia menjanjikan investasi besar.

Pembangunan Infrastruktur Transportasi Jembatan Kremia

Moskow telah melakukan sejumlah proyek infrastruktur besar-besaran untuk mengintegrasikan wilayah ini secara ekonomi dan politik.

Dibandingkan dengan masa di bawah Ukraina, pembangunan di Krimea mengalami percepatan signifikan, meskipun disertai dengan sanksi internasional dan kritik dari masyarakat global.

Baca Juga :  KBRI Tunis Gelar Shalat Id, Momentum Pererat Silaturahmi Warga Indonesia di Tunisia

Salah satunya dalah Jembatan Krimea (Jembatan Kerch) yang dibangun pada tahun 2018. Proyek megah sepanjang 19 km yang menghubungkan Krimea dengan daratan Rusia, menggantikan ketergantungan pada jalur darat melalui Ukraina.

Proyek ini menelan biaya sekitar ¥227 miliar rubel (sekitar $3,7 miliar). Mengutip pernyataan Kepala Republik Kremia, Sergey Aksyonov, “Jembatan ini adalah simbol persatuan Krimea dengan Rusia. Ini bukan hanya infrastruktur, tapi bukti komitmen kami terhadap rakyat Krimea.”

Caption: Jembatan Krimea.
Sumber: https://rosavtotransport.ru/ru/press/news/2023/09/27/news_1535.html

Saya pun mendapatkan pengalaman melewati jembatan tersebut dengan menggunakan kereta api selama 30 menit di atas jembatan.

Dengan alasan kemanan, otoritas setempat melarang untuk mengambil gambar foto atau video selama melewati jembatan tersebut.

Struktur bangunan ini terlihat kokoh dan dapat dilewati oleh dua moda transportasi yaitu kereta api dan mobil.

Pembangunan Jalan Tol Tavrida

Jalan Tol Tavrida adalah proyek infrastruktur strategis Rusia di Krimea, membentang sepanjang 250 km dari Kerch (dekat Jembatan Krimea) hingga Sevastopol, dengan lebar 4–8 lajur dan kecepatan maksimal 120 km/jam.

Caption: Jembatan tol Tavrida.
Sumber: https://www.kp.ru/russia/novosti-turizma-v-rossii/otkrytie-trassy-tavrida-v-krymu-v-2020-godu/

Dibangun antara 2017–2020 dengan anggaran sekitar $2,1 miliar, jalan ini dirancang untuk mempercepat distribusi logistik—baik barang militer dari pangkalan Rusia di Sevastopol maupun komoditas ekonomi—sekaligus mengurangi ketergantungan pada rute darat melalui Ukraina.

Proyek ini melintasi Simferopol (ibu kota Krimea) dan mencakup 17 jalan layang serta 5 terowongan, termasuk bagian yang melewati Pegunungan Krimea.

Peningkatan Pariwisata dan Ekonomi di Krimea

Investasi Besar di Sektor Pariwisata – Resor-resor baru dibangun di Yalta dan Sudak dan kota lainnya untuk menarik wisatawan Rusia, menggantikan turis Ukraina dan Eropa yang menurun akibat sanksi.

Baca Juga :  Mahasiswi Pati Indonesia Ini Terima Penghargaan dari Rusia atas Perannya dalam Organisasi BRICS Plus

Pembangunan Jalan tol ini juga meningkatkan periwisata di semenanjung Krimea, dimana menghubungkan antara kota-kota di Kriema.

Caption: Salah satu resort dengan wisata pantai laut hitam di Krimea

Kota Penting di Krimea antara lain, Simferopol sebagai Ibu kota Krimea, pusat pemerintahan dan transportasi (Bandara Simferopol), Kota Sevastopol sebagai Kota pelabuhan utama, markas Armada Laut Hitam Rusia, kaya sejarah militer.

Yalta adalah resor tepi laut terkenal era Soviet dengan peristiwa penting “Perjanjian Yalta”, destinasi pariwisata premium. Kerch – Kota di timur Krimea, penghubung ke Jembatan Krimea, memiliki situs arkeologi Yunani kuno.

Ada kota Bakhchysarai yang merupakan bekas ibu kota Khanate Krimea dibawah kekuasaan Turki Ustmani pada masanya, dengan Istana Khan yang ikonik.

Ada Feodosia yang merupakan Kota pelabuhan bersejarah dengan benteng Genoa dan pantai berpasir. Dan juga kota Sudak yang merupakan destinasi pantai populer, dikenal dengan Benteng Sudak peninggalan Genoa.

Dan ada juga kota Evpatoria sebuah Kota resor di pesisir barat, terkenal untuk terapi lumpur dan pantai.

Peningkatan Sektor Energi dan Listrik

Menurut Aleksey, salah satu peningkatan pembangun yang dirasakan adalah infrastruktur energi dan listik. Pembangunan Kabel Bawah Laut Pembangkit Listrik dibangun sejak tahun 2016.

Krimea sebelumnya bergantung pada pasokan listrik dari Ukraina, digantikan Rusia yang telah membangun jaringan kabel bawah laut dari Krasnodar Krai untuk mengamankan pasokan energi.

Selian itu, pembangkit Listrik Tenaga Gas di Simferopol dan Sevastopol yang dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Di akhri perjalanan di semanjung Krime bersama Aleksy, ia menyampaikan bahwa meskipun sampai hari ini status Krimea sering diperdebatkan di duni internasional, Rusia terus membangun di semanjung Kriema dengan dukungan warga setempat. (Amy)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trump Ngamuk Lagi! AS Kembali Serang Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global
Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional
Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan
Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya
Dari Konsultasi ke Integrasi Ekonomi: Deklarasi Kazan Buka Jalan Kerja Sama Ekonomi Rusia-ASEAN
Netanyahu dan Kebijakan Kontroversial: Israel Dianggap Abaikan Hukum Internasional dan Perluas Konflik di Timur Tengah
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 10:02 WIB

China Dorong BRICS Perkuat Kendali Mineral Strategis, Wang Yi Soroti Tantangan Global

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:23 WIB

Menteri Hukum RI dan Jaksa Agung Rusia Sepakat Perkuat Penegakan Hukum Transnasional

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:48 WIB

Paviliun Indonesia 1.500 Meter Persegi di INNOPROM 2026, Siap Pamerkan 5 Sektor Industri Unggulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:18 WIB

Timor Leste Berduka, Mantan Presiden Francisco Lu Olo Guterres Wafat

Senin, 22 Juni 2026 - 17:13 WIB

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer Mundur dari Jabatannya

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB