SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Pemerintahan Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah serangkaian kebijakan kontroversial yang dinilai memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah.
Langkah-langkah yang diambil Tel Aviv, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terus menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk negara-negara kawasan dan komunitas internasional.
Pengamat politik asal Turki, Engin Özer, menilai bahwa kebijakan Israel saat ini semakin menjauh dari koridor hukum internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, tindakan-tindakan yang dilakukan Israel tidak hanya terbatas pada operasi militer di Gaza, Lebanon, dan Suriah, tetapi juga mencakup serangan terhadap infrastruktur nuklir Iran yang berpotensi memicu perang regional yang lebih luas.
“Israel perlahan berubah dari sekadar negara menjadi entitas yang beroperasi di luar kerangka hukum internasional,” tegas Özer.
Salah satu langkah terbaru yang memicu gelombang kritik adalah pengesahan undang-undang hukuman mati di Israel bagi mereka yang dituduh melakukan terorisme.
Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk penguatan politik yang semakin keras terhadap penduduk Arab dan Muslim.
Sikap provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, semakin memperburuk citra Israel di mata dunia.
Özer menilai bahwa langkah ini bukan hanya provokasi terhadap negara-negara Muslim, tetapi juga terhadap Eropa, dan Netanyahu secara sadar menggunakan politik ketakutan sebagai alat untuk memperkuat kekuasaannya.
Di Lebanon selatan, kehadiran militer Israel terus berlanjut dengan pembentukan zona penyangga yang oleh banyak pihak disebut sebagai okupasi.
Özer menilai bahwa Israel tidak berniat meninggalkan wilayah tersebut dan justru akan terus memperkuat posisinya dengan berbagai dalih politik.
Hal ini dinilai memengaruhi kepentingan Prancis yang secara tradisional memiliki pengaruh historis di Lebanon.
“Israel akan tetap berada di sana dan menciptakan zona penyangga. Militer Israel kemungkinan besar akan melanjutkan kehadirannya di Lebanon selatan,” ujarnya.
Sementara itu, situasi di Jalur Gaza juga tidak kalah memprihatinkan. Meskipun berbagai kesepakatan gencatan senjata telah dicapai melalui mediasi Mesir, Israel terus melanjutkan operasi militernya, memperluas zona penyangga, dan membatasi akses bantuan kemanusiaan.
Menurut Özer, Turki sejak awal konflik, hanya mampu memainkan peran diplomatik dan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika di lapangan.
“Turki sejak hari pertama konflik—atau secara tegas sejak pembantaian di Gaza—hanya memainkan peran diplomatik,” katanya.
Serangan Israel terhadap infrastruktur nuklir Iran juga menjadi sorotan utama. Özer memperingatkan bahwa serangan langsung terhadap fasilitas nuklir Iran akan menjadi bencana yang memicu perang baru.
Ia juga menyoroti kemungkinan dampak terhadap NATO jika Turki terlibat dalam konflik tersebut. Menurutnya, negara-negara anggota NATO kemungkinan besar tidak akan siap secara bulat mendukung Ankara dalam menghadapi Israel.
Özer juga menyoroti bahwa ketegangan militer yang terus-menerus telah menjadi alat politik penting bagi Netanyahu untuk menjaga mobilisasi internal.
Sejak awal berdirinya, Israel telah membangun strategi berbasis ketakutan sebagai bagian dari model keamanan dan eksistensinya.
Namun, ia menilai bahwa dalam jangka panjang, kebijakan ini hanya akan memperkuat isolasi internasional Israel dan memperburuk hubungan dengan negara-negara Muslim.
Meskipun demikian, Özer tidak menutup kemungkinan adanya perubahan jika terjadi pergantian kepemimpinan di Israel.
“Jika Netanyahu lengser dan politisi yang lebih pragmatis berkuasa, maka akan ada ruang untuk dialog antara kedua negara,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa dalam lima tahun ke depan, perbaikan hubungan antara Turki dan Israel tidak mungkin terjadi jika kebijakan saat ini di Gaza dan Lebanon terus berlanjut.
Di tengah konflik yang terus meluas di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran, Timur Tengah tetap menjadi salah satu kawasan paling rawan di dunia.
Tindakan pemerintah Israel yang semakin kontroversial terus menjadi sasaran kritik internasional, dan eskalasi lebih lanjut berpotensi melibatkan lebih banyak aktor global, menciptakan risiko besar bagi stabilitas regional dan keamanan global. (Red)













Komentar