Pegon Bangkit Lagi! Workshop di Desa Badean Bikin Anak Muda Mulai Kepo Warisan Leluhur

SUARAMUDA.NET, JEMBER — Suasana Aula Wisata Puncak Badean, Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Sabtu, 9 Mei 2026, tampak berbeda dari biasanya.

Sejumlah peserta dari berbagai kalangan tampak serius sekaligus antusias mengikuti Workshop Aksara Pegon yang digelar terbuka untuk umum.

Di tengah gempuran budaya digital dan tren media sosial, aksara Pegon yang dulu akrab di lingkungan masyarakat dan pesantren kini justru mulai asing di telinga generasi muda.

Lewat workshop ini, aksara lawas tersebut coba “dibangunkan” kembali agar tidak hilang ditelan zaman.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Achmadana Syachrizal Muzibarroehaman Firdaus, M.Ag., penerima Program Bantuan Kebudayaan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Workshop juga melibatkan Yayasan Kulit Pohon dan Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya yang selama ini aktif dalam isu pelestarian sejarah serta budaya lokal.

Bukan sekadar belajar huruf kuno, workshop ini dikemas santai agar peserta bisa lebih dekat dengan budaya sendiri. Mulai dari mengenal bentuk huruf, cara membaca, hingga praktik menulis aksara Pegon dilakukan dengan metode sederhana dan mudah dipahami.

Peserta pun diajak memahami bahwa Pegon bukan hanya tulisan jadul yang sulit dibaca. Dulu, aksara ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, terutama di lingkungan pesantren, untuk menulis ajaran agama, cerita rakyat, hingga pengetahuan sehari-hari.

“Belajar Pegon ternyata nggak sesulit yang dibayangkan,” ujar salah satu peserta usai mengikuti sesi praktik penulisan.

Workshop ini menjadi bagian dari program kebudayaan bertajuk “Lereng Selatan Gunung Hyang: Peradaban Kuno Desa Badean Kabupaten Jember.”

Melalui tema tersebut, masyarakat diajak melihat kembali bahwa Desa Badean menyimpan banyak jejak sejarah yang selama ini belum banyak diketahui publik.

Di beberapa titik wilayah desa, masih ditemukan berbagai peninggalan seperti batu kenong yang menyerupai alat musik tradisional, batu persegi berlubang yang diduga sebagai penyangga bangunan kuno, hingga pecahan gerabah yang menunjukkan adanya aktivitas masyarakat masa lampau.

Tak hanya itu, masyarakat juga masih menyimpan naskah kuno yang dikenal sebagai naskah Sunan Bonang. Keberadaan manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa tradisi literasi di wilayah itu sudah berkembang sejak lama.

Panitia berharap kegiatan ini bisa menjadi langkah awal untuk membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap aksara Pegon sekaligus membuka kesadaran bahwa warisan budaya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lewat workshop ini, peserta tidak hanya diajak belajar menulis huruf, tetapi juga memahami hubungan antara aksara, sejarah, dan identitas budaya. Sebab, mengenal aksara daerah juga berarti mengenal jejak perjalanan masyarakatnya sendiri.

Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, kegiatan seperti ini dianggap penting agar generasi muda tetap punya hubungan dengan akar budaya mereka.

Dengan cara sederhana namun membumi, Workshop Aksara Pegon di Desa Badean menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa dibuat menarik, santai, dan tetap relevan dengan zaman sekarang. (Red)

Penulis: Miftakhul Khoiri Hamdan Habibi

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like