Dukung SDG 4 dan SDG 8: Program Bina Desa UPN Veteran Jawa Timur Hadirkan Inovasi Pengolahan Limbah untuk Tingkatkan Ekonomi Warga Desa Segorotambak

SUARAMUDA.NET, SIDOARJO — Program Bina Desa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Kimia dan Teknik Mesin, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, didukung penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Jawa Timur secara resmi dibuka pada 6 Mei 2026.

Kegiatan pembukaan berlangsung di balai desa setempat dan dihadiri oleh Kepala Desa Segorotambak beserta perangkat desa, perwakilan warga, serta tim mahasiswa yang terdiri dari empat belas mahasiswa dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Maudy Pratiwi Novia Matovanni, S.T., M.T. dan Beta Pratiwi, S.T., M.T.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Segorotambak, Anik Mahmudah, S.AP., M.M., menyambut hangat kehadiran tim mahasiswa dan berharap program ini dapat memberikan dampak nyata bagi warga, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya lokal yang selama ini belum terkelola secara maksimal.

Anik menegaskan bahwa Desa Segorotambak memiliki potensi besar di sektor perikanan dan tambak, namun masih memerlukan sentuhan inovasi untuk mengolah berbagai limbah hasil laut agar bernilai ekonomi tinggi.

Setelah seremoni pembukaan, tim mahasiswa langsung melakukan kegiatan survei lapangan dengan mendatangi sejumlah titik strategis di desa, meliputi kawasan kolam tambak ikan, area pesisir, serta beberapa unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pengolahan hasil laut yang dikelola oleh warga setempat.

Survei dilakukan melalui metode observasi langsung dan wawancara mendalam dengan warga, nelayan, petani tambak, serta pelaku UMKM. Tidak kurang dari tiga permasalahan utama berhasil diidentifikasi tim selama kegiatan survei berlangsung.

Permasalahan pertama yang langsung terlihat saat tim mengunjungi kawasan tambak adalah pertumbuhan ganggang atau alga yang masif di beberapa kolam ikan milik warga. Permukaan air kolam tampak ditutupi lapisan hijau pekat dari ganggang yang tumbuh tidak terkendali.

Para petani tambak menuturkan bahwa keberadaan ganggang ini menjadi masalah serius bagi produktivitas budidaya mereka, sebab ikan cenderung enggan makan selama ganggang tersebut belum membusuk dan terurai.

Akibatnya, siklus pemberian pakan menjadi tidak efisien dan pertumbuhan ikan pun berjalan jauh lebih lambat dari yang seharusnya, sehingga masa panen ikut mundur dan pendapatan petani ikut terdampak.

“Ikan-ikan di kolam saya susah makan kalau ganggang masih banyak. Terpaksa nunggu ganggang itu membusuk dulu, baru ikannya mau makan lagi. Jadi tumbuhnya lama, panennya telat,” cerita salah seorang petani tambak kepada tim saat survei berlangsung.

Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar petani tambak belum mengetahui cara penanganan ganggang yang efektif dan terjangkau, sehingga mereka hanya bisa menunggu tanpa bisa berbuat banyak.

Permasalahan kedua yang tak kalah mencolok ditemukan di sepanjang area pesisir desa. Tim mendapati tumpukan limbah cangkang kerang dalam jumlah yang sangat besar berserakan di berbagai sudut lingkungan, mulai dari tepian tambak, pinggir jalan, hingga lahan kosong di sekitar permukiman warga.

Limbah ini merupakan sisa dari aktivitas pengolahan kerang yang menjadi salah satu mata pencaharian utama warga Segorotambak. Sayangnya, selama ini cangkang kerang tersebut hanya dibuang begitu saja setelah dagingnya diambil, tanpa ada upaya pemanfaatan lebih lanjut.

Penumpukan yang terus-menerus lambat laun mulai mengganggu estetika lingkungan desa, menimbulkan bau tidak sedap di musim hujan, serta berpotensi mencemari tanah dan saluran air di sekitarnya. Padahal, menurut penuturan warga sendiri, volume limbah cangkang kerang yang dihasilkan setiap harinya sangat besar.

Ironisnya, potensi kandungan kalsium dan kitosan dalam cangkang kerang yang sesungguhnya dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi sama sekali belum pernah tersentuh oleh warga.

Permasalahan ketiga dijumpai pada sisi usaha pengolahan hasil laut. Beberapa pelaku UMKM di Desa Segorotambak sejatinya telah memproduksi olahan hasil laut seperti kerupuk ikan, ikan kering, dan terasi dengan kualitas yang cukup baik dan cita rasa yang sudah teruji di lidah pelanggan setempat.

Namun, mereka mengakui bahwa jangkauan pemasaran produk masih sangat terbatas umumnya hanya dijual kepada tetangga, pasar tradisional terdekat, atau dititipkan di warung-warung kecil sekitar desa. Minimnya kemampuan promosi digital menjadi hambatan utama.

Sebagian besar pelaku UMKM belum memiliki akun media sosial yang aktif, belum menggunakan platform e-commerce, dan kemasan produk yang digunakan masih sangat sederhana sehingga kurang menarik di mata konsumen modern.

Kondisi ini membuat produk lokal Segorotambak sulit bersaing dengan produk sejenis dari daerah lain yang sudah lebih dulu memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran, meskipun dari sisi kualitas produk warga Segorotambak tidak kalah bersaing.

Berbekal temuan dari survei minggu pertama ini, tim Bina Desa UPN Veteran Jawa Timur akan menyusun strategi pelaksanaan proker yang lebih terukur dan tepat sasaran.

Kegiatan sosialisasi kepada warga dan kelompok UMKM dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya, mencakup penyampaian tujuan program, pembagian brosur edukasi, serta diskusi terbuka mengenai potensi pemanfaatan limbah cangkang kerang dan plastik yang selama ini diabaikan.

Temuan dari survei lapangan ini sangat berharga. Data dan kendala nyata yang ditemukan di lapangan akan menjadi dasar mahasiswa dalam merancang intervensi yang benarbenar dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar program formalitas.

Program Bina Desa ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus skema MBKM yang mendorong mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat, mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dalam menyelesaikan permasalahan riil di lapangan.

Program ini selaras dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan gizi pangan, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan UMKM, serta SDG 14 (Ekosistem Lautan) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengurangan limbah pesisir.

Dengan semangat kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, tim berharap program ini mampu meninggalkan dampak yang berkelanjutan bagi Desa Segorotambak.

Informasi lebih lanjut mengenai program ini juga dapat diakses melalui laman resmi Program Studi Teknik Kimia UPN “Veteran” Jawa Timur (https://www.tekkim.upnjatim.ac.id) dan LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur (https://lppm.upnjatim.ac.id).

Ditulis oleh: Fotina Imelda Lareina dan Maudy Pratiwi Novia Matovanni, S.T., M.T.

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like