SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang belum lama ini sukses menggelar Kuliah Pakar bertajuk “My Body is Mine: Perspektif Gender dalam Kesehatan Reproduksi”.
Dibuka Wakil Dekan 1 FISIP UIN Walisongo, Prof. Dr. Tholkhatur Khoir, M.Ag acara ini bertempat di Selasar Lantai 2 FISIP, serta diikuti secara antusias oleh puluhan mahasiswa Sosiologi angkatan 2023.
Prof. Tholkhah, sapaan akrabnya, dalam arahannya, menekankan pentingnya peningkatan kualitas institusi melalui forum akademik.
“Fakultas dituntut untuk memberikan mutu dan kualitas dalam pembelajaran,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Lebih lanjut, ia juga menyoroti urgensi tema yang diangkat agar relevan dengan kajian keilmuan mahasiswa.
“Tubuh bukan hanya realitas biologis tapi bagian dari realitas sosial karena didalamnya ada praktek-praktek sosial. Dan kuliah pakar ini akan bermanfaat untuk kalian semua,” tambahnya.
Senada, pengampu mata kuliah Sosiologi Gender dan Resolusi Konflik, Prof. Dr. Hj. Misbah Zulfa Elizabeth, M.Hum menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari kurikulum akademik mahasiswa.
“Kuliah pakar ini merupakan forum yang terintegrasi dengan mata kuliah terutama mata kuliah sosiologi gender dan mata kuliah resolusi konflik, “jelas Prof. Misbah.
Ia pun menaruh harapan besar pada hasil pemaparan materi ini. “Kuliah pakar ini sangat bermanfaat karena akan meningkatkan masteri mereka (mahasiswa) dalam mata kuliah,” tegasnya.
Wakil Dekan 2 Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo, Dr. H. Sukendar, M.A., Ph.D., selaku moderator membuka cakrawala peserta dimengenai politik tubuh dari kacamata sosiologi.
“My body is mine. Tubuh saya adalah milik saya. Dalam sejarah munculnya fenimisme bahkan sampai sekarang tubuh adalah objek perang, tubuh dan politik tubuh subjek kuat di ilmu sosiologi gender. Kita tidak bicara tubuh dari sisi medis tapi dari sisi gender sosiologisnya,” tegas Sukendar.
Esensi Kesehatan Reproduksi
Memasuki materi inti, Direktur Eksekutif Daerah PKBI Jawa Tengah Elisabet S.A. Widyastuti, SKM, M.Kes memaparkan secara mendalam mengenai esensi kesehatan reproduksi yang seringkali disalahpahami oleh masyarakat luas. Ia memulai dengan visi PKBI bahwa keluarga adalah pilar masyarakat sejahtera.
“Apa itu sehat? Sehat itu utuh, sehat secara fisik dan juga mental. Apa itu reproduksi? Produksi menghasilkan dan re mengulang, dalam konteks manusia artinya menghasilkan keturunan, “paparnya.
Dalam konteks kesehatan reproduksi, Elisabet menuturkan bahwa kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata terbebas dari sakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, proses dan fungsi reproduksi pada laki-laki dan perempuan.
Dia juga menekankan konsep kedaulatan tubuh dengan perumpamaan sebuah rumah untuk menjelaskan batasan dan persetujuan (consent).
“Tubuh ini milik siapa? Tubuh itu punya teman-teman sendiri, saya menjadi tuan atas diri saya sendiri, ibarat rumah saya boleh mengatur batasan mana yang boleh orang lain lakukan, “ujarnya.
“Kalau ada orang masuk harus dengan persetujuan kalau ada paksaan itu namanya kekerasan, ada batasan, kode etik, ada persetujuan, diam bukan berarti setuju, dia sadar akan apa yang terjadi,” tambahnya.
Kritik tajam sempat dilontarkan Elisabet terkait sejarah praktik Keluarga Berencana (KB) di Indonesia yang dinilai masih mengabaikan otoritas tubuh perempuan.
“Persetujuan vs kekerasan dalam per KB-an Indonesia masyarakat dibodoh-bodohi memberikan KB tanpa persetujuan tubuh, manipulasi/ iming-iming/ manut patuh engga bisa mengungkapkan gamau iya dan tidak,” kritiknya.
Kuliah pakar ini memantik diskusi kritis dari mahasiswa angkatan 2023. Fani, salah satu peserta, mempertanyakan mengapa pembahasan gender cenderung berfokus pada perempuan.
Elisabet menjawab lugas, “Karena perempuan telah lama jadi korban dari kekerasan terutama kekerasan seksual.”
Sementara itu, Gibran menanyakan efektivitas pendidikan reproduksi di wilayah pedesaan yang masih menganggap isu ini tabu.
“Di desa, ngobrol tentang gender masih banyak tantangan, kesehatan reproduksi tabu itu masih, PKBI memberikan modul nya ke guru kemudian pendekatan ke komunitas remaja, apalagi dibalut dengan kesehatan, jawab Elisabet.
Elisabet menjelaskan tantangan di desa memang besar, namun PKBI terus melakukan pendekatan melalui modul ke guru dan komunitas remaja dengan balutan isu kesehatan.
Pertanyaan kritis juga datang dari Fyra mengenai motif pelaku kekerasan seksual yang mayoritas adalah laki-laki.
Elisabet merespons motif tersebut dari sisi relasi kuasa, “Kenikmatan apa yang dicari laki-laki?, kita berharap ia bisa mengelola nafsunya, belum tau, tapi mungkin berkaitan dengan maskulinitas laki-laki itu penguasa,” jawab Elisabet.
Terakhir, Anni menyoroti gerakan PKBI terhadap pekerja perempuan seperti pengupas rajungan. Elisabet menegaskan bahwa gerakan PKBI di tiap daerah memiliki analisis sendiri sesuai kondisi lapangan, namun tetap memprioritaskan kelompok yang paling membutuhkan.
Kuliah pakar ini diakhiri dengan harapan agar mahasiswa Sosiologi UIN Walisongo memiliki perspektif yang lebih inklusif dan sadar akan hak-hak reproduksi sebagai bagian dari realitas sosial yang mereka pelajari. (Red)
Reporter: Bagus Nadzar Mubarak
Penulis: Zaenal Arifin
(mahasiswa Sosiologi Fisip UIN Walisongo)