SUARAMUDA.NET, WONOSOBO — Jagat kampus lagi panas. Mahasiswa Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq) Wonosobo kompak turun aksi, memprotes kebijakan yang dianggap “ngegas tanpa rem”: akun Sistem Informasi Mahasiswa (SIMA) dinonaktifkan dan ancaman cuti paksa bagi yang belum melunasi Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Aksi ini langsung ramai dibicarakan karena dianggap muncul tiba-tiba. Kebijakan pelunasan UKT penuh hingga 30 April 2026 baru diumumkan lewat surat edaran tertanggal 8 April 2026—padahal semester sudah berjalan. Mahasiswa pun merasa “dikejar deadline” tanpa aba-aba.
“Rasanya kayak bayar UKT dua kali dalam waktu mepet,” ungkap Maulana Irwan Saputra, mahasiswa semester VI, di sela aksi.
Selama ini, pembayaran UKT bisa dicicil hingga akhir semester. Tapi kini? Harus lunas lebih cepat. Kalau nggak, siap-siap akun SIMA mati dan status akademik bisa dicutikan.
“Cari uang dalam sebulan itu dari mana? Kalau dari awal dikasih tahu, kami bisa siap-siap,” lanjutnya.
Masalah makin pelik karena nominal UKT nggak kecil. Di Fakultas Kesehatan misalnya, mahasiswa harus bayar sekitar Rp10 juta per semester. Kebayang kalau harus lunas dalam waktu singkat—apalagi bagi mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah.
Data yang dihimpun mahasiswa menyebut sekitar 2.000 dari total 7.000 mahasiswa terdampak langsung. Artinya, ribuan mahasiswa terancam kehilangan akses akademik hanya gara-gara belum bisa melunasi biaya.
Belum lagi urusan pengajuan penangguhan yang dibilang ribet. Prosesnya harus lewat Wakil Rektor II, dengan alur tanda tangan, unggah dokumen, sampai verifikasi yang bisa makan waktu hingga seminggu.
“Yang ngajuin penangguhan malah merasa dipersulit,” kata Maulana.
Nggak cuma soal UKT, aksi ini juga sekalian “curhat massal”. Mahasiswa menyinggung isu lain: transparansi anggaran, dosen yang sering nggak masuk, hingga fasilitas kampus yang dinilai belum maksimal.
Menanggapi aksi tersebut, Rektor Zaenal Sukawi akhirnya buka suara. Ia menyatakan kampus bakal menindaklanjuti tuntutan mahasiswa.
Salah satu keputusan yang langsung diumumkan: status mahasiswa yang sempat terancam cuti akan diaktifkan kembali.
“Kita akan menghidupkan kembali tentang pencutian menjadi tidak cuti,” ujar Zaenal di hadapan massa.
Ia juga menjanjikan sistem kampus yang lebih transparan dan adil, serta membuka opsi pembayaran UKT yang lebih fleksibel—termasuk skema cicilan dua sampai tiga kali dalam satu semester.
Aksi pun berakhir setelah audiensi dengan pihak rektorat. Tapi mahasiswa belum sepenuhnya lega.
Mereka menegaskan: ini belum selesai. Janji kampus akan terus dikawal sampai benar-benar terealisasi. (Red)