Jalan Rusak, Harapan Terputus: Potret Ketimpangan Infrastruktur dari Dusun Renek

- Penulis

Sabtu, 25 April 2026 - 12:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mariana Onalesa Tai, mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama)

Mariana Onalesa Tai, mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama)

Oleh: Mariana Onalesa Tai, mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Apa yang terlihat dari kondisi jalan di Dusun Renek, Desa Debululik, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, seharusnya tidak lagi dibaca sebagai sekadar kerusakan fisik biasa.

Lebih dari itu, ia adalah cermin nyata dari ketimpangan pembangunan yang masih menghantui wilayah-wilayah pinggiran Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jalur penghubung antara sisi Fatuberal dan Desa Debululik sejatinya bukan jalan alternatif. Ia adalah akses utama yang menopang mobilitas warga—urat nadi yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.

Namun ironisnya, kondisi jalan yang terputus akibat longsor, berlumpur, dan nyaris tak bisa dilalui justru memperlihatkan betapa rapuhnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah ini.

Di titik lain, keberadaan jembatan darurat dari kayu dan bambu semakin menegaskan situasi yang memprihatinkan. Infrastruktur seadanya itu bukan hanya tidak layak, tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi keselamatan warga. Setiap langkah yang diambil di atasnya bukan sekadar perjalanan, melainkan pertaruhan.

Baca Juga :  Standar Pendidikan Akademi Militer

Sudah saatnya narasi “faktor alam” tidak lagi dijadikan alasan utama untuk membenarkan kondisi ini. Memang benar, wilayah seperti Lamaknen Selatan memiliki tantangan geografis yang tidak ringan.

POV: kondisi jalan di Dusun Renek, Desa Debululik, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. (Dok istimewa)

Namun justru di situlah letak tanggung jawab perencanaan pembangunan yang lebih matang—yang adaptif, berkelanjutan, dan berpihak pada keselamatan masyarakat.

Ketika masyarakat masih harus bergantung pada akses yang tidak layak, di situlah terlihat adanya kesenjangan perhatian yang nyata.

Pembangunan yang seharusnya merata justru terasa timpang, meninggalkan sebagian wilayah dalam keterbatasan yang berkepanjangan.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Jalan yang rusak bukan hanya menghambat mobilitas, tetapi juga mempersempit peluang hidup.

Distribusi hasil pertanian tersendat, biaya transportasi melonjak, dan akses terhadap pasar menjadi terbatas. Anak-anak menghadapi risiko dalam perjalanan ke sekolah, sementara warga yang sakit harus berpacu dengan waktu di tengah akses yang tidak mendukung.

Baca Juga :  Media Sosial, Propaganda dan Demokrasi

Ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan persoalan keadilan. Jalan dan jembatan di Dusun Renek bukan hanya soal beton dan aspal, tetapi tentang hak dasar warga negara untuk hidup dengan aman, layak, dan bermartabat.

Kondisi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan. Sudah waktunya langkah konkret diambil, bukan sekadar janji yang berulang. Pembangunan infrastruktur yang memadai di wilayah ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Tulisan ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan—agar suara dari Dusun Renek tidak terus terpinggirkan. Karena sejatinya, pembangunan yang adil bukan diukur dari seberapa megah kota berdiri, tetapi dari seberapa jauh negara hadir di wilayah yang paling membutuhkan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB