Bukan Sekadar Wacana, FORPELA Dorong Perempuan Semarang Jadi Garda Depan Toleransi

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ngomongin toleransi ternyata nggak cukup hanya di wacana. Harus ada gerakan nyata. Itu yang coba didorong Forum Perempuan Lintas Agama (FORPELA) Kota Semarang bareng Kesbangpol lewat seminar bertema “Signifikansi Ormas Perempuan dalam Pembangunan Kota yang Toleran dan Inklusif” di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Selasa (28/4).

Acara ini jadi ajang kumpul sekaligus kolaborasi perempuan lintas agama buat memperkuat peran mereka dalam membangun kota yang adem, rukun, dan adil buat semua.

Ketua panitia, Suyatmi Nengah, S.Sos., menjelaskan kalau FORPELA sudah aktif sejak 2021 sebagai ruang berkumpul perempuan dari enam agama, dan resmi dibentuk pada 2026. “Ini bukan sekadar forum, tapi ruang bareng untuk bergerak,” kira-kira begitu semangatnya.

Seminar ini juga dihadiri berbagai organisasi perempuan, baik yang tergabung dalam GOW maupun komunitas independen di Semarang.

Perwakilan FKUB Kota Semarang, Prof. Sulthon, M.Ag., menegaskan harapannya agar FORPELA bisa jadi motor penggerak perempuan dalam membangun kota yang harmonis.

Ia menyoroti pentingnya konsep inklusif—artinya, semua kelompok harus ikut merasakan dampak pembangunan, tanpa ada yang tertinggal.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua FKUB, I Nengah Wirta Darmayana, S.H., M.H. Menurutnya, toleransi itu bukan cuma soal menerima perbedaan, tapi juga menghormati tanpa diskriminasi.

Ia juga menekankan posisi penting perempuan sebagai “jembatan sosial”—mulai dari keluarga sampai masyarakat luas.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kota Semarang, Dr. Bambang Pramusinto, mengingatkan bahwa meski Semarang sudah tiga kali berturut-turut masuk kota tertoleran nomor tiga, kerja belum selesai.

“Masih bisa ditingkatkan, apalagi lewat peran aktif di media sosial,” ujarnya.

Di sinilah FORPELA jadi penting. Perempuan dinilai punya peran besar dalam pemberdayaan masyarakat, perlindungan sosial, sampai menciptakan ruang publik yang aman dan setara.

Ketua FORPELA, Prof. Dr. Hj. Arikhah, M.Ag., bahkan menegaskan kalau organisasi perempuan bukan sekadar pelengkap. “Justru mereka penggerak utama perubahan sosial,” tegasnya.

Dengan jumlah perempuan yang mencapai lebih dari separuh populasi dan adanya 29 organisasi perempuan di Semarang, potensi untuk membangun budaya toleransi dan pemberdayaan dinilai sangat besar.

FORPELA sendiri punya visi membentuk perempuan yang toleran, cerdas, santun, mandiri, dan menjunjung tinggi moderasi beragama serta budaya.

Forum ini juga ingin jadi ruang perjumpaan lintas agama untuk memperkuat dialog dan perdamaian, baik di level lokal maupun nasional.

Di sesi diskusi, obrolan makin seru. Peserta mengangkat berbagai isu nyata—dari toleransi dalam keluarga, peran anak muda, tantangan media sosial, sampai konflik pendirian rumah ibadah.

Kesimpulannya? Toleransi harus terus dirawat lewat dialog, edukasi lintas agama, dan penyebaran konten positif di dunia digital.

Lewat seminar ini, FORPELA menegaskan diri sebagai partner strategis Pemkot Semarang untuk mendorong kota yang makin inklusif, damai, dan berkeadaban. Karena pada akhirnya, toleransi bukan cuma slogan—tapi aksi nyata. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like