SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Program bantuan operasional RT di Kota Semarang ternyata nggak cuma jadi angka di atas kertas. Duitnya beneran “hidup” di lapangan—mulai dari posyandu yang makin aktif, kerja bakti yang lebih rapi, sampai lingkungan yang kelihatan makin bersih.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan kalau dana ini sengaja didorong supaya dampaknya langsung terasa oleh warga, bukan sekadar buat urusan administrasi.
“Intinya sederhana: dana RT harus balik lagi ke warga. Dipakai buat lingkungan, bukan cuma laporan,” tegasnya.
Salah satu dampak paling terasa ada di posyandu. Sekarang kegiatannya makin rutin dan fasilitasnya lebih lengkap.
Timbangan bayi baru? Ada.
Makanan tambahan buat balita? Jalan.
Kegiatan kader? Lebih aktif dari sebelumnya.
RT jadi punya “amunisi” buat bikin pelayanan kesehatan dasar nggak setengah-setengah.
Kerja Bakti Nggak Modal Nekat Lagi
Kalau dulu kerja bakti sering seadanya, sekarang beda cerita. Dana RT bikin kegiatan gotong royong jadi lebih niat.
Mulai dari beli sapu, gerobak sampah, sampai cat buat ngecat fasilitas umum—semuanya bisa diwujudkan. Lingkungan pun jadi lebih rapi dan enak dipandang.
Program “Semarang Bersih” juga dikatakan ikut terdorong. Dana RT juga dipakai buat: kegiatan pilah sampah, rawat saluran air kecil, serta mengurangi titik rawan banjir. Hasilnya? Bukan cuma bersih, tapi juga lebih siap hadapi musim hujan.
Angka Tinggi, Tapi Bukan Basa-Basi
Dari total 10.621 RT, sekitar 95,6 persen sudah memanfaatkan dana ini. Artinya, lebih dari 10 ribu RT benar-benar pakai anggarannya. Yang nggak ambil? Cuma sekitar 4,4 persen—itu pun karena sudah punya kas internal yang cukup.
Sisa anggaran yang nggak terpakai juga kecil, sekitar 2,1 persen. Ini jadi sinyal kalau programnya tepat sasaran, bukan buang-buang duit.
“Kalau nggak bermanfaat, pasti banyak yang nolak. Tapi faktanya hampir semua RT pakai,” kata Agustina.
Warga: “Ini Dana yang Terasa, Bukan Ngambang”
Ketua RT 02 RW 03 Bambankerep, Sutriyoso, bilang dampaknya langsung terasa di warganya. “Sekarang kami bisa beli perlengkapan kerja bakti dan bikin lomba kebersihan. Warga jadi semangat. Ini dana yang nyata, bukan sekadar lewat,” ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan di wilayah lain. Kegiatan posyandu jadi lebih rutin dan terorganisir.
Tahun Ini? Nilainya Makin Gede
Kabar berikutnya, Pemkot Semarang lagi menyiapkan aturan baru. Tahun ini, tiap RT direncanakan bakal dapat bantuan hingga Rp25 juta.
Peraturannya ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Artinya, kalau nggak ada halangan, “tenaga tambahan” buat RT bakal segera cair lagi.
Singkatnya, ini bukan program yang cuma bagus di proposal. Di Semarang, dana RT sudah berubah jadi aksi nyata—dan warga jadi aktor utamanya. (Red)