SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Rencana besar pelestarian budaya berbasis ekologi di Kabupaten Sukoharjo mulai bergulir. Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia sukses menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama para mitra strategis pada Sabtu (17/1/2026) di Sekretariat Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia.
Pertemuan krusial ini dilaksanakan guna mematangkan detail eksekusi program bertajuk “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam dan Budaya”.
Proyek yang secara resmi mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui skema Dana Indonesiana untuk Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif ini mengusung format kolaborasi kolektif.
Dalam pelaksanaannya, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia menggandeng Omah Topeng Langdhawur, serta Pimpinan Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Kabupaten Sukoharjo.
Sinergi ini ditujukan untuk merancang serangkaian lokakarya yang akan mengajak 50 peserta muda menyulap tumpukan sampah kertas menjadi karya seni pertunjukan yang bernilai tinggi.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyatakan bahwa penyatuan persepsi antarlembaga merupakan fondasi paling penting sebelum program menyentuh masyarakat.
“Pekerjaan rumah kita adalah mengubah mental membuang sampah menjadi mental mencipta karya yang berakar pada tradisi. Untuk mencapai itu, kami sadar tidak bisa bergerak sendirian. Dukungan penuh dari Omah Topeng sebagai pengarah seni, serta IPNU dan IPPNU sebagai dinamisator pemuda, membuat kami sangat yakin program ini akan berjalan lancar, tepat sasaran, dan membawa dampak positif yang luas,” kata Fadhel.
Respons antusias datang dari Ketua Omah Topeng Langdhawur, Rus Hardjanto, yang akan memimpin langsung aspek produksi artistiknya di lapangan.
“Kami bersiap mengawal anak-anak meracik bahan sisa menjadi mahakarya. Tantangannya tentu bukan sekadar mendidik mereka membuat visual topeng Kancil atau Garuda yang indah dipandang. Lebih dari itu, kami ingin proses penciptaan ini mampu mentransfer nilai-nilai luhur dan kebanggaan pada identitas mitologi Jawa ke dalam jiwa para peserta,” jelas Rus.
Keterlibatan aktif generasi muda Nahdlatul Ulama dipastikan akan menjadi ujung tombak mobilisasi. Ketua PC IPNU Sukoharjo, Aditya Yuliyanto, menegaskan kesiapan jajarannya untuk turun ke lapangan.
“Proyek ini merupakan ruang pembuktian yang sangat luar biasa bagi para pelajar di Sukoharjo. Kami siap mengorganisasi kawan-kawan dari berbagai ranting untuk turut serta, membuktikan bahwa pemuda tidak melulu terjebak dalam kehidupan maya, tetapi juga memiliki kepedulian yang nyata terhadap krisis lingkungan dan kelestarian budaya bangsa,” ucap Aditya.
Di sisi lain, jaminan akan hadirnya ruang yang aman dan inklusif menjadi prioritas utama. Ketua PC IPPNU Sukoharjo, Dewi Novita Sari, menuturkan komitmen organisasinya dalam mengawal aksesibilitas program ini.
“Fokus kami adalah memastikan ruang belajar dan berkesenian ini benar-benar setara bagi semua kalangan, tak terkecuali bagi teman-teman penyandang disabilitas. Nilai-nilai empati, perdamaian, dan gotong royong dari dongeng fabel Nusantara ini harus tercermin langsung secara nyata dari cara kita berinteraksi di ruang workshop nanti,” tegas Dewi.
Melalui rakor yang berlangsung interaktif ini, seluruh elemen menyepakati linimasa kerja dan pembagian tugas yang terukur.
Langkah terdekat yang akan segera direalisasikan adalah pembukaan pendaftaran dan seleksi peserta, disusul dengan agenda pelatihan intensif yang akan bermuara pada pergelaran teater fabel di ruang publik pada Mei 2026. (Red)