Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Bikin Kecewa, Gak Pernah Muncul Saat Demo Mahasiswa!

"Empat kali aksi digelar sepanjang Juni 2026, mahasiswa kecewa karena tak satu pun perwakilan Pemprov Jateng menemui massa yang membawa kajian akademik dan aspirasi masyarakat"

- Penulis

Jumat, 19 Juni 2026 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau kendaraan listrik usai penandatanganan kerja sama antara PT KIA Kendal dan PT New Generation Mobility (NGM), serta PT NGM dengan PT China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).(Pemprov Jateng)

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau kendaraan listrik usai penandatanganan kerja sama antara PT KIA Kendal dan PT New Generation Mobility (NGM), serta PT NGM dengan PT China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).(Pemprov Jateng)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Gelombang aksi demonstrasi yang berkali-kali mengguncang Jawa Tengah akhirnya mendapat respons langsung dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Namun, jawaban yang dilontarkan orang nomor satu di Jateng itu justru memantik sorotan.

Sepanjang Juni 2026, sedikitnya empat aksi unjuk rasa digelar mahasiswa dan masyarakat sipil. Meski demikian, tak satu pun demonstrasi tersebut dihadiri atau ditemui langsung oleh pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Saat ditemui usai pengukuhan petugas Sensus Ekonomi 2026 di Lapangan Simpang Lima Semarang, Kamis (18/6/2026), Ahmad Luthfi ditanya mengenai kemungkinan dirinya menemui massa aksi yang selama ini menunggu respons pemerintah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alih-alih menjawab panjang lebar, Luthfi memberikan respons singkat. “Ya, tanyakan yang pengusaha (pendemo), Anda yang demo atau Anda yang wawancara? Kamu bukan yang demo kan? Ditanyakan yang demo, bukan tanya ke saya,” ujar Luthfi.

Ketika kembali ditanya soal keinginan massa aksi untuk bertemu langsung dengannya dan menyampaikan aspirasi, Luthfi kembali menjawab singkat. “Yo, kita temui,” katanya.

Baca Juga :  Dicurhati Soal Solar, Gubernur Ahmad Luthfi Upayakan SPBU Khusus Nelayan

Diketahui, rangkaian demonstrasi dimulai pada 5 Juni 2026 di depan Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah. Aksi kemudian berlanjut di kawasan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada 12 Juni, 15 Juni, dan 17 Juni 2026.

Menanggapi maraknya aksi tersebut, Luthfi menegaskan bahwa penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak warga negara yang dijamin undang-undang.

“Saya mengharapkan seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan pendapat dengan tertib, tidak melanggar hukum, tidak mengganggu kepentingan umum, dan dilakukan dengan santun,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena demonstrasi bukan hanya terjadi di Jawa Tengah, melainkan juga di berbagai daerah lain di Indonesia.

Ia memastikan pemerintah akan menerima setiap masukan dan kritik yang disampaikan masyarakat.

“Pihak kita akan menerima dan semuanya akan kita reduksi, kita terima terkait apa yang disampaikan. Dan tidak hanya di Jawa Tengah, termasuk daerah lain,” lanjutnya.

Luthfi juga menilai berbagai aspirasi yang muncul dalam aksi demonstrasi merupakan bentuk kritik yang sah dan perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah.

“Ini merupakan suatu koreksi dari masyarakat yang perlu kita lakukan antisipasi ke depan,” tambahnya.

Baca Juga :  Masyarakat Tionghoa Bersyukur Atas Kemenangan Luthfi-Yasin di Pilgub Jateng

Mahasiswa Kecewa Tak Ada yang Menemui

Di sisi lain, sikap pemerintah yang belum menemui massa aksi menuai kekecewaan dari kalangan mahasiswa.

Ketua Korps PMII Putri (Kopri) PC PMII Kota Semarang, Farda Niyahatul Ulum, menyayangkan tidak adanya perwakilan pemerintah daerah maupun DPRD yang hadir menemui peserta aksi pada demonstrasi Rabu (17/6/2026).

Menurut Farda, mahasiswa tidak datang sekadar untuk berorasi. Mereka membawa hasil kajian akademik yang disusun selama hampir dua pekan oleh 15 komisariat dan kampus di Kota Semarang.

Kajian tersebut, kata dia, merupakan hasil serapan aspirasi masyarakat di tingkat akar rumput yang ingin disampaikan langsung kepada pemerintah daerah.

“Kami sangat kecewa. Padahal kami datang dengan membawa kajian akademik dari akar rumput terhadap program pemerintah,” ungkap Farda di sela-sela aksi.

Kekecewaan itu muncul karena mahasiswa berharap pemerintah membuka ruang dialog yang lebih nyata, sehingga berbagai kritik dan rekomendasi yang telah disusun dapat didengar secara langsung oleh para pengambil kebijakan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun
Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”
Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa
Semarang Makin Dilirik, Wacana Badan Pariwisata Kembali Menguat
Hotel Hyatt Place Segera Hadir di Semarang, Pearl of Java Makin Bergengsi!
Grebeg Pakujoyo Meriahkan Perayaan Tahun Baru Islam di Gayamsari
Hi, Warga Semarang! New Pasar Maling Kini Kembali Buka di Pasar Johar
Investor China Bidik Segitiga Emas Rembang, Siap Bangun Kawasan Industri Garmen Raksasa 500 Hektare
Berita ini 30 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 09:14 WIB

Semarang Siap Jadi Kota Festival, Agustina: Seni Budaya Harus Hidup Sepanjang Tahun

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:20 WIB

Baliho Ultah Jokowi Bikin Riuh, Gerindra Solo Sentil Pemkot: “Pas Prabowo Ulang Tahun Kok Sepi?”

Selasa, 23 Juni 2026 - 17:06 WIB

Sidang Sudewo Diserbu Pendukung, Ahmad Husein Muncul Lagi dan Bikin Nazar Tak Biasa

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:09 WIB

Semarang Makin Dilirik, Wacana Badan Pariwisata Kembali Menguat

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:07 WIB

Hotel Hyatt Place Segera Hadir di Semarang, Pearl of Java Makin Bergengsi!

Berita Terbaru