Sedekah Bumi Kini: Tradisi yang Salah Isi?

POV: Arak-arakan pada tradisi sedekah bumi di Jawa Tengah. (Dok Pinterest)

Oleh: Ali Achmadi, praktisi pendidikan, peminat masalah sosial, tinggal di Kabupaten Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Dulu, sedekah bumi identik dengan tumpeng. Dengan doa. Dengan warga yang berkumpul penuh hormat. Sekarang, di banyak tempat, identiknya berubah. Karnaval jalanan. Sound horeg. Tim tari. Pemuda kampung larut berjoget di antara mereka.

Truk-truk besar masuk kampung. Speaker ditumpuk seperti benteng perang. Bass dihajar tanpa belas kasihan. Jalan desa bergetar. Bayi menangis. Orang tua menutup telinga. Panitia bangga. Katanya meriah.

Lalu, datang rombongan penari. Dengan pakaian makin irit bahan. Dengan gerakan yang jauh dari makna sedekah bumi. Penonton berjubel. Kamera ponsel terangkat. Sorak-sorai pecah. Katanya hiburan rakyat.

Ukuran hebat kini berubah. Semakin keras suara sound, semakin sukses acara. Semakin tinggi rok penari, semakin ramai penonton. Semakin heboh jogetan, semakin bangga panitia.

Soal nilai budaya, nanti saja. Soal makna syukur, belakangan. Soal adab, dianggap terlalu serius. Dulu orang datang mencari berkah. Sekarang datang mencari tontonan.

Dulu yang ditampilkan hasil bumi. Sekarang yang dipamerkan goyangan. Dulu warga pulang membawa rasa syukur. Sekarang pulang membawa video syur. Dari rasa syukur ke rasa ingin viral.

Tidak salah ingin meramaikan acara. Tidak salah memberi hiburan. Tapi kalau tradisi leluhur hanya dijadikan alasan untuk pesta tanpa arah, itu lain cerita.

Tidak salah menghibur rakyat. Anak muda juga butuh ruang ekspresi. Tetapi ketika seluruh isi tradisi dikorbankan demi memuaskan selera sesaat, kita patut bertanya: yang dirawat ini budaya atau sekadar euforia?

Sedekah bumi lahir dari penghormatan pada tanah. Pada panen. Pada kehidupan. Bukan untuk lomba siapa paling bising. Bukan untuk adu siapa paling vulgar.

Kalau begini terus, anak cucu nanti akan mengenal sedekah bumi bukan sebagai warisan budaya. Tapi sebagai hari ketika kampung macet, telinga pekak, dan akal sehat parkir sebentar. Sedekah bumi masih ada. Jadwalnya tetap jalan. Hanya, rohnya entah kemana. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

One thought on “Sedekah Bumi Kini: Tradisi yang Salah Isi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like