Olahraga untuk Sehat, Bukan Tempat Menghakimi Bentuk Tubuh

- Penulis

Selasa, 12 Mei 2026 - 08:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dian Puspita Yulianti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Keolahragaan, Universitas Mercu Buana Yogyakarta;

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Belakangan ini, seringkali kita mendengar kalimat-kalimat seperti ini:
Badannya terlalu besar buat olahraga.”
“Kurusan dulu baru cocok masuk gym.”
“Kayak gitu mau jadi atlet?”

Nah, kalimat seperti ini masih sering muncul di lingkungan olahraga maupun media sosial. Banyak orang menganggapnya hanya candaan biasa, padahal komentar tentang bentuk tubuh bisa meninggalkan dampak yang tidak kecil bagi seseorang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena body shaming saat ini semakin mudah ditemukan, terutama di era digital. Media sosial membuat siapa saja bebas berkomentar terhadap penampilan orang lain.

Ironisnya, ruang olahraga yang seharusnya menjadi tempat membangun kesehatan justru kadang berubah menjadi tempat saling menghakimi fisik.

Tidak sedikit orang akhirnya merasa minder untuk mulai berolahraga karena takut diejek atau dibandingkan dengan standar tubuh ideal di internet.

Padahal, setiap orang memiliki proses dan tujuan yang berbeda saat berolahraga. Ada yang ingin hidup lebih sehat, menurunkan berat badan, membangun kepercayaan diri, atau sekadar menjaga kebugaran tubuh.

Masalah ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Body shaming dapat memengaruhi kondisi mental seseorang, menurunkan rasa percaya diri, bahkan membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial.

Baca Juga :  Implementasi Sistem Akuntansi Sederhana pada Usaha Tambang Timah Rakyat di Bangka Belitung

Dalam beberapa kasus, seseorang bisa kehilangan motivasi untuk menjalani pola hidup sehat hanya karena komentar negatif dari orang lain.

Jika dikaitkan dengan nilai Pancasila, khususnya sila kedua tentang “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, perilaku body shaming jelas bertentangan dengan sikap saling menghormati dan menghargai sesama manusia.

Pancasila mengajarkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi tanpa direndahkan karena kondisi fisiknya.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan juga menjelaskan bahwa olahraga memiliki tujuan untuk meningkatkan kesehatan, membangun karakter, dan mempererat persatuan masyarakat.

Artinya, olahraga seharusnya menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua orang, bukan tempat untuk menjatuhkan orang lain karena penampilannya.

Tapi sayangnya, budaya mengejek fisik masih sering dianggap hal normal, terutama di kalangan anak muda. Konten olahraga di media sosial pun sering dipenuhi komentar yang lebih fokus pada bentuk tubuh dibanding usaha atau semangat seseorang untuk hidup sehat.

Jika kondisi ini terus dianggap biasa, lingkungan olahraga bisa menjadi semakin tidak nyaman bagi banyak orang.

Baca Juga :  Mengapa Publik Lebih Cepat Menghakimi Pencuri Ayam daripada Koruptor?

Karena itu, penting untuk mulai membangun budaya olahraga yang lebih suportif. Memberikan dukungan tentu jauh lebih berarti dibanding melontarkan komentar yang menjatuhkan.

Menghargai proses orang lain juga merupakan bagian dari sikap saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat.

Kampus, sekolah, komunitas olahraga, maupun gym juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang positif. Edukasi mengenai body shaming dan kesehatan mental perlu lebih sering disampaikan agar masyarakat memahami bahwa komentar tentang fisik bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.

Mahasiswa sebagai generasi muda pun dapat menjadi contoh dalam membangun budaya komunikasi yang lebih sehat, baik di kehidupan nyata maupun media sosial.

Hal sederhana seperti berhenti memberi komentar negatif tentang bentuk tubuh orang lain bisa menjadi langkah awal menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, olahraga bukan tentang siapa yang memiliki tubuh paling ideal. Olahraga seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh, sehat, dan membangun rasa percaya diri tanpa takut dihakimi oleh orang lain.

Sebab, tujuan utama olahraga bukan untuk memenuhi standar tubuh tertentu, melainkan untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 24 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB