Sukses Digelar, Pementasan “Topeng Wayang Limbah Kertas” Padukan Pesan Ekologis dan Semangat Inklusi di Taman Budaya Sukoharjo

- Penulis

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Panggung Taman Budaya Sukoharjo menjadi saksi lahirnya sebuah mahakarya pertunjukan seni teater yang memukau pada Sabtu (9/5/2026).

Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia sukses menyelenggarakan pergelaran puncak bertajuk “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam dan Budaya”.

Pementasan kolosal ini melibatkan 50 aktor muda yang terdiri dari anak-anak reguler dan sahabat penyandang disabilitas, menyuguhkan sebuah teater gerak yang berhasil memukau ratusan pasang mata yang hadir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengusung tema fabel ekologis, pertunjukan ini bukan sekadar unjuk kebolehan seni peran, melainkan medium kampanye pelestarian lingkungan hidup yang disuarakan langsung oleh generasi penerus.

Secara artistik, seluruh pemeran tampil mengenakan properti topeng berkarakter satwa penjaga hutan yang diproduksi secara mandiri menggunakan teknik daur ulang limbah kertas.

Narasi yang dibangun mengkritik tajam fenomena kerusakan alam akibat keserakahan manusia, namun disampaikan melalui pendekatan budaya yang halus, elegan, dan penuh dengan makna filosofis Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia).

Kesuksesan pergelaran seni berskala masif ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah. Pementasan ini merupakan luaran utama dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Baca Juga :  MAN 1 Sumedang Gelar Pemilihan Ketua OSIS, MPK, Dewan Ambalan, Paskibra, dan PMR

Sinergi ini menegaskan komitmen kuat negara dalam memajukan kebudayaan nasional yang bersifat inklusif, merata, serta secara aktif memberdayakan seluruh elemen masyarakat tanpa adanya diskriminasi.

Menyikapi keberhasilan pementasan agung tersebut, Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyampaikan pandangannya mengenai urgensi program ini bagi pembentukan karakter anak bangsa dan upaya penyelamatan bumi.

“Pementasan ‘Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam dan Budaya‘ ini merupakan wujud komitmen kita bersama dalam merawat dua warisan terpenting bangsa: kebudayaan dan alam semesta,” tegas Fadhel dalam sambutan resminya.

Ia melanjutkan, melalui dukungan nyata dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pihaknya berhasil membuktikan bahwa seni inklusif mampu menjadi medium edukasi dan transformasi yang sangat efektif.

“Anak-anak dan sahabat penyandang disabilitas ini telah mengubah limbah yang tidak bernilai menjadi medium diplomasi budaya, menyuarakan kritik yang elegan sekaligus harapan besar bagi kelestarian lingkungan kita di masa depan, “ujarnya.

Baca Juga :  Hadiri Peresmian Kampung Pramuka Kwarcab Kab. Tasikmalaya Ke-22, Utusan Kwarda DKI Jakarta Beri Apresiasi Luar Biasa!

Secara proses kreatif, pementasan ini merupakan kulminasi dari serangkaian lokakarya dan latihan intensif yang telah berjalan selama berbulan-bulan. Naskah pementasan (grand script) dirumuskan murni dari imajinasi kolektif para peserta, tanpa adanya intervensi pemikiran dari orang dewasa, sehingga menjaga kemurnian pesan anak-anak.

Di atas panggung, kemandirian ke-50 aktor tersebut teruji dengan sangat luar biasa. Mereka mampu mengeksekusi bloking spasial, merespons isyarat pergantian tempo musik, dan membangun kemistri (buddy-system) antara peserta reguler dan disabilitas secara organik tanpa panduan fisik langsung dari sutradara.

Manajemen tata panggung, tata cahaya (lighting), dan tata suara juga dieksekusi dengan standar profesional, menciptakan atmosfer teatrikal yang mendalam.

Sorak-sorai dan apresiasi standing ovation dari penonton yang memadati Taman Budaya Sukoharjo pada akhir acara menjadi bukti sahih bahwa pesan kesetaraan dan pelestarian alam sukses tersampaikan dengan sangat komunikatif.

Pergelaran agung ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tontonan satu malam, melainkan menjadi rujukan strategis bagi pengembangan program pemajuan kebudayaan ke depannya, sebuah gerakan seni yang adaptif, ramah lingkungan, dan senantiasa menjunjung tinggi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB