SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Panggung Taman Budaya Sukoharjo menjadi saksi lahirnya sebuah mahakarya pertunjukan seni teater yang memukau pada Sabtu (9/5/2026).
Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia sukses menyelenggarakan pergelaran puncak bertajuk “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam dan Budaya”.
Pementasan kolosal ini melibatkan 50 aktor muda yang terdiri dari anak-anak reguler dan sahabat penyandang disabilitas, menyuguhkan sebuah teater gerak yang berhasil memukau ratusan pasang mata yang hadir.
Mengusung tema fabel ekologis, pertunjukan ini bukan sekadar unjuk kebolehan seni peran, melainkan medium kampanye pelestarian lingkungan hidup yang disuarakan langsung oleh generasi penerus.
Secara artistik, seluruh pemeran tampil mengenakan properti topeng berkarakter satwa penjaga hutan yang diproduksi secara mandiri menggunakan teknik daur ulang limbah kertas.
Narasi yang dibangun mengkritik tajam fenomena kerusakan alam akibat keserakahan manusia, namun disampaikan melalui pendekatan budaya yang halus, elegan, dan penuh dengan makna filosofis Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia).
Kesuksesan pergelaran seni berskala masif ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah. Pementasan ini merupakan luaran utama dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan yang difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sinergi ini menegaskan komitmen kuat negara dalam memajukan kebudayaan nasional yang bersifat inklusif, merata, serta secara aktif memberdayakan seluruh elemen masyarakat tanpa adanya diskriminasi.
Menyikapi keberhasilan pementasan agung tersebut, Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menyampaikan pandangannya mengenai urgensi program ini bagi pembentukan karakter anak bangsa dan upaya penyelamatan bumi.
“Pementasan ‘Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam dan Budaya‘ ini merupakan wujud komitmen kita bersama dalam merawat dua warisan terpenting bangsa: kebudayaan dan alam semesta,” tegas Fadhel dalam sambutan resminya.
Ia melanjutkan, melalui dukungan nyata dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, pihaknya berhasil membuktikan bahwa seni inklusif mampu menjadi medium edukasi dan transformasi yang sangat efektif.
“Anak-anak dan sahabat penyandang disabilitas ini telah mengubah limbah yang tidak bernilai menjadi medium diplomasi budaya, menyuarakan kritik yang elegan sekaligus harapan besar bagi kelestarian lingkungan kita di masa depan, “ujarnya.
Secara proses kreatif, pementasan ini merupakan kulminasi dari serangkaian lokakarya dan latihan intensif yang telah berjalan selama berbulan-bulan. Naskah pementasan (grand script) dirumuskan murni dari imajinasi kolektif para peserta, tanpa adanya intervensi pemikiran dari orang dewasa, sehingga menjaga kemurnian pesan anak-anak.
Di atas panggung, kemandirian ke-50 aktor tersebut teruji dengan sangat luar biasa. Mereka mampu mengeksekusi bloking spasial, merespons isyarat pergantian tempo musik, dan membangun kemistri (buddy-system) antara peserta reguler dan disabilitas secara organik tanpa panduan fisik langsung dari sutradara.
Manajemen tata panggung, tata cahaya (lighting), dan tata suara juga dieksekusi dengan standar profesional, menciptakan atmosfer teatrikal yang mendalam.
Sorak-sorai dan apresiasi standing ovation dari penonton yang memadati Taman Budaya Sukoharjo pada akhir acara menjadi bukti sahih bahwa pesan kesetaraan dan pelestarian alam sukses tersampaikan dengan sangat komunikatif.
Pergelaran agung ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tontonan satu malam, melainkan menjadi rujukan strategis bagi pengembangan program pemajuan kebudayaan ke depannya, sebuah gerakan seni yang adaptif, ramah lingkungan, dan senantiasa menjunjung tinggi pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. (Red)