Belajar Demokrasi Tanpa Keteladanan

- Penulis

Rabu, 13 Mei 2026 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR dari SMAN 1 Pontianak. (dok istimewa)

Peserta Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR dari SMAN 1 Pontianak. (dok istimewa)

Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Lomba itu namanya megah: Cerdas Cermat Empat Pilar. Isinya juga tidak main-main. Tentang kebangsaan. Tentang demokrasi. Tentang konstitusi. Tentang nilai luhur negeri ini.

Tetapi yang viral justru bukan kecerdasan pesertanya. Melainkan juri dan MC-nya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia memang kadang unik. Yang belajar anak-anak. Yang tidak siap dikoreksi orang dewasa. Video itu beredar cepat. Seorang peserta menjawab. Dinyatakan salah. Lalu jawaban yang sama persis oleh peserta lain dinyatakan benar. Peserta dengan santun protes.

Wajar. Namanya juga lomba. Bukan tempat menebak-nebak benar salah sesuka hati. Tetapi yang membuat publik panas bukan semata soal salah nilai. Salah itu manusiawi.

Juri juga bisa keliru. MC juga bisa khilaf. Masalahnya ada pada satu penyakit yang makin sering muncul di negeri ini: gengsi mengakui kesalahan.

Baca Juga :  KUHP Baru Segera Berlaku, Revisi KUHAP Tak Kunjung Rampung: Ancaman Inkonsistensi dan Krisis Kepastian Hukum

Ketika peserta mencoba meminta kejelasan, respons yang muncul justru terasa defensif. Nada bicara lebih sibuk menjaga wibawa daripada menjaga keadilan.

Padahal dalam dunia pendidikan, wibawa tidak lahir dari suara keras. Wibawa lahir dari keberanian berkata: “Ya maaf, kami keliru.”

Sulit? Ternyata sangat sulit. Apalagi jika mikrofon sudah di tangan. Di negeri ini, begitu memegang mikrofon, sebagian orang mendadak merasa selalu benar.

Dari ruang seminar, forum organisasi, rapat, sampai lomba pelajar. Mikrofon kadang bukan lagi alat komunikasi. Tapi alat mempertahankan ego.

Ironisnya, ini lomba Empat Pilar. Pilar itu bicara tentang demokrasi. Tentang keadilan. Tentang menghargai suara orang lain. Tetapi praktiknya justru memperlihatkan sesuatu yang berlawanan: anti koreksi.

Anak-anak diajari Pancasila. Tetapi yang mereka lihat justru contoh kecil bagaimana kekuasaan enggan mengaku salah. Padahal pendidikan paling efektif bukan materi di kelas ataupun platform pembelajaran. Melainkan keteladanan.

Baca Juga :  Kalkulasi Tersembunyi AS: Mengapa Amerika Berburu Pengaruh di Asia Tengah?

Satu permintaan maaf yang tulus akan lebih mendidik daripada satu jam ceramah tentang moral dan etika. Publik akhirnya ramai. Media sosial gaduh.

Potongan video berputar di mana-mana. Netizen bekerja seperti biasa: lebih cepat daripada tim evaluasi mana pun. Akhirnya MPR meminta maaf. Juri dan MC dinonaktifkan.

Selesai? Belum tentu. Karena masalah sebenarnya bukan pada satu lomba. Ini hanya cuplikan kecil dari budaya besar yang sudah lama hidup: budaya anti salah.

Budaya yang membuat banyak orang lebih takut terlihat keliru daripada takut berlaku tidak adil.

Padahal menjadi juri itu bukan menjadi manusia paling benar. Menjadi MC juga bukan berarti menjadi pemilik kebenaran panggung.

Kadang yang paling dibutuhkan dalam sebuah acara bukan kecerdasan. Tapi kerendahan hati. Dan sayangnya, itulah yang sering paling langka di ‘negara Konoha’. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB