Lulus Semua, Siapkah Semua?

- Penulis

Senin, 4 Mei 2026 - 10:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi AI/ sumber: pinterest

Ilustrasi AI/ sumber: pinterest

Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Tanggal 4 Mei 2026, ribuan siswa SMA dan MA membuka ponsel petang ini. Bukan membuka buku. Bukan menunggu amplop. Bukan berdiri berdesakan di depan papan pengumuman sekolah.

Mereka menunggu satu hal: portal sekolah masing-masing. Username. Password. Klik login. Lalu muncul satu kata: LULUS. Selesai.
Tak ada tangan gemetar. Tak ada jantung berdebar keras.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak ada teman yang menangis di halaman sekolah. Tak ada pelukan massal. Tak ada drama. Pengumuman kelulusan kini terasa seperti mengecek resi paket. Padahal dulu tidak begitu.

Era 90-an, hari pengumuman kelulusan adalah hari besar. Hari yang benar-benar menegangkan. Sebab nilai ujian negara sangat menentukan nasib. Salah sedikit, bisa tertunda setahun. Kurang siap, bisa tinggal kelas. Gagal, harus mengulang perjuangan dari awal.

Baca Juga :  Digitalisasi UMKM di Bangka Belitung: Peluang dan Tantangan Menuju Pasar Global

Karena itu siswa belajar sungguh-sungguh. Bukan karena rajin semata. Tapi karena sistem memaksa mereka serius. Malam sebelum pengumuman, banyak rumah susah tidur. Orang tua ikut cemas. Anak mondar-mandir. Tetangga bertanya, “Besok pengumuman ya, kira-kira lulus ngga?”

Sekarang? Kegelisahan hari ini bukan soal lulus atau tidak, melainkan server error atau tidak.. Tentu digitalisasi memberi kemudahan. Lebih praktis. Lebih cepat. Lebih tertib. Tidak perlu kerumunan. Tidak perlu corat-coret seragam di jalan. Tidak perlu konvoi berlebihan.

Namun ada sesuatu yang ikut hilang: rasa perjuangan, rasa tegang. Rasa bahwa kelulusan adalah hasil pertarungan panjang. Ketika kelulusan hampir pasti datang, maka maknanya ikut menipis.

Inilah yang banyak dirasakan masyarakat hari ini. Lulusan kelas 12 sekarang secara umum dinilai berbeda jauh dibanding generasi era 90-an. Bukan semata soal kecerdasan, tapi daya tahan belajar, kedisiplinan, kemampuan dasar akademik, serta mental menghadapi tekanan.

Baca Juga :  Generasi Z dan Ekonomi Digital: Harapan Baru bagi Jember

Dulu siswa dibentuk oleh target yang jelas. Ada ujian penentu. Ada standar minimal. Ada risiko gagal. Sekarang sistem evaluasi lebih lunak. Lebih ramah. Lebih manusiawi, kata sebagian orang. Tetapi di sisi lain, batas antara siap dan belum siap menjadi kabur. Semua naik kelas. Semua lulus.

Sekolah akhirnya seperti bandara Tugasnya memastikan semua penumpang berangkat tepat waktu.

Bukan memastikan semua siap terbang.
Ini bukan salah siswa. Mereka hanya tumbuh dalam sistem yang berbeda. Sistem yang terlalu takut memberi tekanan, tetapi kadang lupa bahwa tekanan tertentu justru membentuk kualitas.

Hari ini ribuan anak dinyatakan lulus lewat layar. Selamat tentu harus diberikan. Masa depan tetap terbuka lebar. Namun bangsa ini perlu bertanya jujur: Apakah kita sedang mencetak lulusan,a tau sekadar mengumumkan kelulusan? (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB