Lulus Semua, Siapkah Semua?

Ilustrasi AI/ sumber: pinterest

Oleh: Ali Achmadi, Praktisi Pendidikan, Peminat Masalah Sosial, tinggal di Pati

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Tanggal 4 Mei 2026, ribuan siswa SMA dan MA membuka ponsel petang ini. Bukan membuka buku. Bukan menunggu amplop. Bukan berdiri berdesakan di depan papan pengumuman sekolah.

Mereka menunggu satu hal: portal sekolah masing-masing. Username. Password. Klik login. Lalu muncul satu kata: LULUS. Selesai.
Tak ada tangan gemetar. Tak ada jantung berdebar keras.

Tak ada teman yang menangis di halaman sekolah. Tak ada pelukan massal. Tak ada drama. Pengumuman kelulusan kini terasa seperti mengecek resi paket. Padahal dulu tidak begitu.

Era 90-an, hari pengumuman kelulusan adalah hari besar. Hari yang benar-benar menegangkan. Sebab nilai ujian negara sangat menentukan nasib. Salah sedikit, bisa tertunda setahun. Kurang siap, bisa tinggal kelas. Gagal, harus mengulang perjuangan dari awal.

Karena itu siswa belajar sungguh-sungguh. Bukan karena rajin semata. Tapi karena sistem memaksa mereka serius. Malam sebelum pengumuman, banyak rumah susah tidur. Orang tua ikut cemas. Anak mondar-mandir. Tetangga bertanya, “Besok pengumuman ya, kira-kira lulus ngga?

Sekarang? Kegelisahan hari ini bukan soal lulus atau tidak, melainkan server error atau tidak.. Tentu digitalisasi memberi kemudahan. Lebih praktis. Lebih cepat. Lebih tertib. Tidak perlu kerumunan. Tidak perlu corat-coret seragam di jalan. Tidak perlu konvoi berlebihan.

Namun ada sesuatu yang ikut hilang: rasa perjuangan, rasa tegang. Rasa bahwa kelulusan adalah hasil pertarungan panjang. Ketika kelulusan hampir pasti datang, maka maknanya ikut menipis.

Inilah yang banyak dirasakan masyarakat hari ini. Lulusan kelas 12 sekarang secara umum dinilai berbeda jauh dibanding generasi era 90-an. Bukan semata soal kecerdasan, tapi daya tahan belajar, kedisiplinan, kemampuan dasar akademik, serta mental menghadapi tekanan.

Dulu siswa dibentuk oleh target yang jelas. Ada ujian penentu. Ada standar minimal. Ada risiko gagal. Sekarang sistem evaluasi lebih lunak. Lebih ramah. Lebih manusiawi, kata sebagian orang. Tetapi di sisi lain, batas antara siap dan belum siap menjadi kabur. Semua naik kelas. Semua lulus.

Sekolah akhirnya seperti bandara Tugasnya memastikan semua penumpang berangkat tepat waktu.

Bukan memastikan semua siap terbang.
Ini bukan salah siswa. Mereka hanya tumbuh dalam sistem yang berbeda. Sistem yang terlalu takut memberi tekanan, tetapi kadang lupa bahwa tekanan tertentu justru membentuk kualitas.

Hari ini ribuan anak dinyatakan lulus lewat layar. Selamat tentu harus diberikan. Masa depan tetap terbuka lebar. Namun bangsa ini perlu bertanya jujur: Apakah kita sedang mencetak lulusan,a tau sekadar mengumumkan kelulusan? (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like