Menyayangkan Rendahnya Partisipasi Pemilih dalam Pilwakot Depok 2024

- Penulis

Jumat, 13 Desember 2024 - 21:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Eka Nurjanah & Muhamad Ihsan Gunawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang

Eka Nurjanah & Muhamad Ihsan Gunawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang

SUARAMUDA, SEMARANG — Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak 2024 telah berakhir. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan hasil dari pemilihan bupati dan wakil bupati dan/ pemilihan wali kota dan wakil wali kota serta pemilihan gubernur dan wakil gubernur di seluruh Indonesia.

Tak terkecuali pemilu di Kota Depok, Jawa Barat, yang dimeriahkan oleh dua pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Depok.

Kedua pasangan itu adalah Imam Budi Hartono-Ririn Farabi A Rafiq, paslon 1 dan Supian Suri-Chandra Rahmansyah, paslon 2. (Kompas, 27/11/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Usai kontestasi, menetapkan calon wali kota dan wakil wali kota Supian Suri-Chandra Rahmansyah sebagai pemenang Pilkada Depok 2024 setelah unggul dari Imam Budi Hartono-Ririn Farabi Arafiq.

Berdasarkan rekapitulasi KPU, paslon 2 Supian-Chandra berhasil mengantongi 451.785 suara atau 53,24 persen. Sedangkan paslon 1 Imam-Ririn yang diusung PKS-Golkar memperoleh 396.863 suara atau 46,76 persen. (CNN, 6/12/2024).

Pilkada Depok 2024 kali ini, selain membuktikan tumbangnya dominasi PKS yang beberapa kali pemilu selalu keluar sebagai ‘Jawara’, juga menyisakan problem demokrasi di aras lokal.

Sumber foto: KPU Kota Depok 2024

Golput 38 Persen

Betapa tidak, dari total 1.427.674 jumlah pemilih di Kota Depok, sekitar 38,29 persen warga kota ini yang golput.

Baca Juga :  Keluarga di Tengah Ironi Perdagangan Orang

Berdasarkan data KPU, total pemilih 881.012 dari DPT (Daftar Pemilih Tetap), sehingga diketahui ada sekitar 500.000 pemilih yang tidak menggunakan hak pilih.(Tempo.co, 3/12/2024).

Pemilu sebagai pesta demokrasi seharusnya dapat dijadikan sebagai momentum untuk menentukan arah politik dan pembangunan kota dalam lima tahun ke depan.

Masyarakat sebagai partisipan pemilih, sudah semestinya lebih memperhatian visi, misi dan gagasan terutama dalam pembangunan infrastruktur, pendidikan yang lebih inklusif, kesehatan yang layak, dan pengembangan ekonomi yang lebih merata.

Pentingnya Partisipasi Masyarakat

Partisipasi aktif masyarakat dalam proses pemilu sangat penting untuk memastikan bahwa pilihan yang diambil benar-benar mencerminkan keinginan rakyat.

Masyarakat juga harus memanfaatkan hak suaranya dengan bijak, mempertimbangkan visi dan misi calon walikota, serta track record mereka dalam menangani isu-isu yang relevan.

Selain itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif melalui diskusi publik, debat, dan media sosial untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja calon walikota yang lampau.

Sayangnya, partisipasi masyarakat justru merosot, mencapai angka 38 persen. Padahal, merujuk Ramlan Surbakti dan Didik Supriyanto (2008), gelaran Pilkada menunjukan ciri demokrasi dimana rakyat secara langsung dilibatkan dalam proses menentukan arah dan kebijakan politik negara, untuk menentukan nasib dari sebuah negara selama lima tahun ke depan.

Baca Juga :  BRICS dan Peluang Indonesia dalam Lompatan Sebagai Negara Maju

Kini Pilwakot Depok telah berakhir, dan paslon Supian-Chandra secara sah menjadi pasangan wali kota dan wakil wali kota untuk lima tahun mendatang.

Namun PR demokrasi kita adalah, memberikan pemahaman masyarakat akan pentingnya peran partisipasi masyarakat secara langsung dalam perpolitikan.

Bukankah Amin Rais (2020) telah mengingatkan kita, bahwa suatu kegiatan negara yang dilaksanakan oleh rakyat juga atas persetujuan dari rakyat itu sendiri? Karena sesungguhnya, kedaulatan tertinggi ada ditangan rakyat.

Dan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pemilu adalah kunci untuk memastikan bahwa pilihan yang diambil benar-benar mencerminkan keinginan rakyat serta membawa manfaat bagi semua warga Depok. (Red)

*) Penulis: Eka Nurjanah & Muhamad Ihsan Gunawan, mahasiswa Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Universitas Pamulang
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Politik, Dosen pengampu: Dr. Herdi Wisman Jaya

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru