Oleh: Windy Kiswha Cahlendra — masyarakat umum yang gemar membaca dan menulis, aktif sebagai anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Kota Batu, Jawa Timur
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Senin (14/9/2026), Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan. Kursi itu kemudian diserahkan kepada Suahasil Nazara.
Yang menarik bukan reshuffle-nya, melainkan reaksi Purbaya sendiri. Saat diwawancarai awak media pasca pencopotan, ia hanya menjawab santai, “Mau mancing.” Lalu ia menambahkan sambil tertawa, “Mancing ikan mujaer, nila, gue punya kolam di belakang jadi bisa mancing sambil ngelamun, kenapa di pecat? haha.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketenangan Bukan Berarti Acuh
Respons itu menampar kesadaran saya: terlalu serius menghadapi segala hal justru sering membuat kita lelah sendiri. Hidup ini dinamis, penuh hal di luar kendali — dan kalau terus dipikirkan mendalam, yang ada malah stres berlebih.
Bersikap santai bukan berarti tidak peduli atau lepas tanggung jawab. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk perlindungan diri agar mental tetap sehat.
Ketika kita punya kendali atas cara merespons perilaku orang lain, dan tidak menganggap setiap kegagalan kecil sebagai akhir dunia, cara pandang kita terhadap masalah jadi jauh lebih jernih.
Humor dan sedikit jarak emosional memberi ruang untuk berpikir rasional — dan sering kali, kekhawatiran yang membebani pikiran kita hari ini ternyata tidak lagi relevan besok.
Meredakan ketegangan dengan menertawakan situasi yang absurd adalah salah satu cara terbaik untuk bertahan. Tanpa beban ekspektasi yang terlalu berat, kita bisa menjalani hidup dengan lebih ringan dan bahagia.
Tidak semua hal butuh respons berat — beberapa cukup dihadapi dengan senyuman, lalu dilepaskan.
Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya dirasakan Purbaya. Tapi sosoknya mengajarkan satu hal: santai di tengah situasi kacau bukan bentuk kepasrahan, melainkan cara menjaga kestabilan mental.
Saat tekanan, ketidakadilan, atau perlakuan tak menyenangkan datang bertubi-tubi, merespons dengan amarah berlebih justru sering memperkeruh suasana dan menguras energi. Humor menjadi survival mechanism yang efektif untuk meredakan ketegangan itu.
Sikap semacam ini penting untuk dilatih, karena memberi ruang bagi otak untuk berpikir objektif, alih-alih bertindak impulsif karena emosi sesaat.
Ketenangan juga menular secara positif — lingkungan sekitar jadi tidak terlalu tegang, sehingga komunikasi dan resolusi konflik berjalan lebih mulus.
Tapi Marah Juga Manusiawi
Namun, akan naif jika berharap semua orang bisa seperti Purbaya. Ketika seseorang mengalami situasi serupa lalu bereaksi impulsif, marah, atau menyerang balik secara emosional — itu semua respons alami yang bisa terjadi pada siapa saja.
Amarah dan perilaku impulsif sering dipandang negatif, padahal keduanya adalah respons manusiawi yang wajar ketika seseorang berhadapan dengan ketidakadilan.
Saat hak dialihkan secara paksa, kejujuran dikhianati, atau keadilan dilanggar, sistem emosional bereaksi secara alami. Emosi tidak muncul tanpa sebab — ia adalah sinyal alarm bahwa ada yang salah.
Di luar sikap santai dan humor, rasa marah sebenarnya adalah dorongan alami untuk melindungi diri dan mempertahankan martabat. Tanpa rasa marah, manusia cenderung pasif dan membiarkan penindasan terus berlangsung.
Dorongan impulsif pun sering menjadi reaksi spontan ketika pikiran logis kewalahan menampung rasa sakit akibat situasi yang tidak adil.
Dalam batas tertentu, gejolak emosi semacam ini justru menunjukkan bahwa seseorang masih punya kepekaan moral.
Meski begitu, memahami bahwa amarah itu manusiawi bukan berarti membenarkan tindakan destruktif. Perilaku impulsif yang tak terkontrol bisa merugikan diri sendiri dan melukai orang lain.
Tantangan sebenarnya bukan menekan atau memadamkan amarah, melainkan mengalirkan energinya menjadi tindakan yang konstruktif.
Mental Baja Ala Purbaya
Pada akhirnya, Purbaya mengajarkan bahwa bersikap tenang dan santai saat menghadapi konflik adalah cerminan mental baja.
Ketangguhan mental tidak diukur dari seberapa keras seseorang berteriak atau membalas serangan, melainkan dari sejauh mana ia mampu berdiri kokoh, berpikir jernih, dan “haha-hihi” menyelesaikan masalah tanpa kehilangan kendali diri.
Ketenangan di tengah badai konflik bukan tanda kelemahan — ia adalah bentuk tertinggi dari keberanian dan kedewasaan karakter. Persis seperti yang dicontohkan Purbaya di hadapan awak media, disaksikan jutaan orang di seluruh penjuru dunia. (Red)













Komentar