Lulusan Banyak, Lowongan Ada, Kok Masih Susah Dapat Kerja?

Pengangguran memang menurun, tetapi anak muda dan lulusan SMK masih menghadapi tantangan besar. Jangan-jangan, masalahnya bukan sekadar kurangnya lapangan kerja, melainkan keterampilan yang belum sesuai kebutuhan industri

- Penulis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Lowongan Kerja. (Gambar: pinterest)

Ilustrasi Lowongan Kerja. (Gambar: pinterest)

Oleh: Nurul Soleha, Mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Pernah melihat lowongan kerja yang tak kunjung terisi, sementara teman sendiri sudah berbulan-bulan mengirim lamaran tanpa mendapat panggilan?

Situasi seperti ini ternyata bukan hal langka. Seorang pelaku usaha manufaktur kecil pernah bercerita tentang kesulitannya mencari operator mesin. Lowongan sudah dibuka berbulan-bulan, pelamar berdatangan, tetapi kandidat yang benar-benar sesuai kriteria bisa dihitung dengan jari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, ada lulusan SMK yang sudah setahun melamar ke berbagai perusahaan, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Aneh, ya? Perusahaan butuh pekerja, pencari kerja butuh pekerjaan, tetapi keduanya seperti berjalan di jalur berbeda.

Di sinilah persoalan perencanaan sumber daya manusia (SDM) perlu mendapat perhatian. Sebab, punya banyak lulusan dan membuka banyak lowongan saja ternyata belum cukup.

Pengangguran Turun, Tapi Jangan Keburu Puas

Kita mulai dari kabar baiknya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam naskah ini, jumlah pengangguran pada Februari 2026 mencapai 7,24 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen.

Angka TPT pada Mei 2026 kemudian tercatat 4,65 persen, yang disebut sebagai tingkat terendah sejak 1994. Tentu, ini perkembangan yang patut diapresiasi. Artinya, pasar kerja menunjukkan perbaikan. Namun, ada satu hal yang perlu diingat: angka rata-rata tidak selalu menceritakan seluruh kenyataan.

Ketika kita melihat kondisi anak muda yang baru lulus sekolah atau kuliah, ceritanya bisa berbeda. Sebagian masih harus mengirim puluhan lamaran, mengikuti seleksi berkali-kali, bahkan mengambil pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan mereka.

Jadi, penurunan angka pengangguran memang kabar baik. Namun, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang sudah mendapatkan manfaat dari perbaikan tersebut?

Lulusan SMK Kok Malah Paling Sulit Dapat Kerja?

Data yang disajikan dalam naskah ini menunjukkan bahwa TPT kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,36 persen. Sementara itu, lulusan SMK mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,74 persen, tertinggi menurut jenjang pendidikan.

Fakta ini cukup menggelitik. SMK sejak awal dirancang untuk menyiapkan lulusan dengan keterampilan praktis agar lebih siap memasuki dunia kerja. Namun, mengapa justru kelompok ini menghadapi tantangan pengangguran yang besar?

Salah satu jawabannya adalah ketidaksesuaian keterampilan. Dunia industri terus berubah. Mesin semakin otomatis, teknologi digital makin banyak digunakan, dan kebutuhan perusahaan ikut bergeser.

Sementara itu, keterampilan yang dipelajari di bangku sekolah belum tentu selalu sejalan dengan kebutuhan terbaru di tempat kerja. Akibatnya, ijazah memang sudah di tangan, tetapi keterampilan yang dibutuhkan perusahaan belum tentu sepenuhnya dikuasai.

Ini bukan berarti lulusan SMK tidak kompeten. Persoalannya lebih luas daripada kemampuan individu. Sekolah, industri, pemerintah, dan lembaga pelatihan perlu memastikan bahwa pendidikan dan kebutuhan dunia kerja tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sudah Bekerja Belum Tentu Hidup Sejahtera

Ada persoalan lain yang juga perlu diperhatikan, yakni kualitas pekerjaan. Seseorang mungkin sudah bekerja, tetapi penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada pula yang bekerja dengan jam kerja terbatas dan masih membutuhkan pekerjaan tambahan.

Baca Juga :  Tupperware dan Pentingnya Akuntansi Manajerial Agar Tetap Survive

Dalam catatan penulis, data BPS mencatat tingkat setengah pengangguran sebesar 7,27 persen. Sementara itu, proporsi pekerja formal pada Mei 2026 baru mencapai 40,70 persen.

Angka tersebut mengingatkan kita bahwa keberhasilan pasar kerja tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang bekerja.

Kita juga perlu melihat apakah pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang layak, kepastian kerja, kesempatan berkembang, dan perlindungan bagi pekerja.

Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang punya pekerjaan, melainkan membuka peluang agar mereka bisa hidup lebih baik.

Dunia Kerja Berubah, Keterampilan Juga Harus Berubah

Perubahan teknologi menjadi salah satu tantangan terbesar pasar kerja saat ini. World Economic Forum (WEF), melalui Future of Jobs Report 2025, memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah hingga 2030.

Artinya, keterampilan yang dianggap penting hari ini bisa saja perlu diperbarui dalam beberapa tahun ke depan.

Data LinkedIn yang dikutip Fortune Indonesia dalam naskah ini juga menggambarkan tantangan tersebut. Keterampilan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) disebut menjadi salah satu kemampuan yang sulit ditemukan pada kandidat Indonesia, disusul keterampilan teknis dan teknologi informasi, serta kemampuan nonteknis seperti komunikasi dan pemecahan masalah.

Pesannya cukup jelas, bahwa dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang punya ijazah, tetapi juga orang yang mampu beradaptasi.

Kemampuan menggunakan teknologi memang penting. Namun, jangan sampai kita menganggap bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dengan AI.

Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah tetap dibutuhkan. Bahkan, ketika teknologi semakin canggih, kemampuan manusiawi seperti inilah yang bisa menjadi pembeda.

Jadi, kalau sekarang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, jangan hanya mengejar nilai dan gelar. Bangun juga keterampilan praktis, pengalaman organisasi, kemampuan digital, serta kebiasaan belajar hal baru.

Perencanaan SDM Bukan Sekadar Urusan HRD

Istilah perencanaan SDM mungkin terdengar seperti bahasa rapat perusahaan. Padahal, persoalannya dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sederhananya, perencanaan SDM menjawab empat pertanyaan: perusahaan membutuhkan berapa orang, dengan keterampilan apa, kapan mereka dibutuhkan, dan bagaimana menyiapkan orang-orang tersebut?

Bagi perusahaan, perencanaan ini berarti memahami arah bisnis dan perubahan teknologi sebelum merekrut pekerja. Jangan sampai perusahaan baru sibuk mencari tenaga ahli ketika kebutuhan sudah mendesak.

Bagi pemerintah dan lembaga pendidikan, perencanaan SDM berarti membaca kebutuhan industri dan mempersiapkan tenaga kerja yang relevan.

Misalnya, jika industri tertentu membutuhkan operator mesin modern, teknisi otomasi, atau tenaga yang menguasai teknologi digital, sekolah vokasi perlu memiliki jalur pembelajaran yang sesuai.

Industri pun perlu membuka kesempatan magang, berbagi pengetahuan, dan membantu memperbarui kurikulum. Dengan begitu, lulusan tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami situasi nyata di tempat kerja.

Kalau perusahaan mencari tenaga siap pakai, sekolah mencetak lulusan dengan keterampilan yang berbeda, dan pemerintah tidak memiliki peta kebutuhan tenaga kerja yang terintegrasi, jangan heran jika lowongan dan pencari kerja terus gagal bertemu.

Baca Juga :  Urgensi Pancasila dalam Menghadapi Tantangan Globali

Empat Hal yang Perlu Dibenahi

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Setidaknya ada empat langkah yang layak menjadi perhatian bersama.

Pertama, pertemukan kebutuhan industri dengan pendidikan. Pemerintah, perusahaan, sekolah, dan kampus perlu berbagi informasi mengenai keterampilan yang dibutuhkan.

Data tersebut bisa menjadi dasar untuk memperbarui kurikulum, membuka program pelatihan, dan membantu anak muda memilih jalur karier.

Kedua, jangan berhenti belajar setelah lulus. Perusahaan perlu memberi kesempatan kepada pekerja untuk meningkatkan keterampilan atau upskilling dan mempelajari kemampuan baru atau reskilling.

Bagi anak muda, pelatihan singkat, sertifikasi, proyek mandiri, dan pengalaman magang bisa menjadi bekal tambahan untuk memasuki pasar kerja.

Ijazah tetap penting, tetapi kemampuan membuktikan apa yang bisa kita kerjakan juga tidak kalah penting.

Ketiga, perkuat keterampilan manusiawi. Kemampuan digital memang dibutuhkan, tetapi komunikasi, kepemimpinan, kreativitas, dan pemecahan masalah tetap menjadi modal penting.

Anak muda perlu mengembangkan keduanya agar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bisa bekerja sama dan mengambil keputusan dengan baik.

Keempat, ukur keberhasilan dari kualitas pekerjaan. Penurunan pengangguran perlu dibarengi dengan semakin banyaknya pekerjaan formal yang layak, berkurangnya setengah pengangguran, serta terbukanya kesempatan bagi pekerja untuk meningkatkan kemampuan dan penghasilan.

Sebab, pekerjaan yang layak bukan sekadar soal mendapatkan gaji pada akhir bulan. Ada pula kepastian, perlindungan, dan masa depan yang perlu diperhitungkan.

Jangan Biarkan Anak Muda Berjuang Sendirian

Pada akhirnya, pengangguran yang menurun adalah kabar baik, tetapi bukan garis finis. Selama perusahaan masih kesulitan menemukan pekerja yang sesuai dan anak muda masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, ada persoalan yang harus diselesaikan bersama.

Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan lulusan karena dianggap kurang kompeten. Sebaliknya, kita juga tidak bisa berharap perusahaan menerima semua pelamar tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan yang diperlukan.

Yang dibutuhkan adalah jembatan antara pendidikan, pelatihan, dan dunia industri. Jembatan yang membuat keterampilan lulusan lebih relevan, kebutuhan perusahaan lebih mudah dipetakan, dan kesempatan kerja lebih terbuka.

Bagi anak muda, satu hal yang perlu diingat: belajar tidak berhenti ketika wisuda selesai. Dunia kerja akan terus berubah, dan kemampuan untuk terus belajar bisa menjadi salah satu modal paling berharga.

Namun, tanggung jawab itu bukan milik anak muda saja. Perusahaan, sekolah, kampus, dan pemerintah juga harus ikut memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan untuk berkembang.

Sekarang, coba lihat pengalamanmu sendiri. Apakah keterampilan yang kamu pelajari di sekolah atau kampus masih relevan dengan pekerjaan yang kamu jalani hari ini? Atau justru ada banyak hal yang baru kamu pelajari setelah masuk dunia kerja?

Boleh jadi, jawaban dari pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita memahami mengapa lowongan ada, lulusan banyak, tetapi mencari kerja masih terasa sulit. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia di Era Prabowo-Gibran: Negara Bilang Aman, Rakyat Masih Berjuang
Fenomena Karhutla dan Hak atas Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat
73 Tahun KPU, Saatnya Berhenti Mengukur Demokrasi dari Pemilu Semata
Manado Mengantre, Negara Dipertanyakan: Ketika BBM Menjadi Krisis Tata Kelola
Setelah Hutan Terbakar, Terbitlah Bisnis Oksigen?
Aglomerasi Kedu Raya: Gagasan Pembangunan Regional atau Sekadar Imajinasi Politik?
Indonesia Dikepung Api, Udara Bersih Jadi Taruhan: Siapa yang Menanggung Harga Kerusakan Lingkungan?
Ruang Aman bagi Perokok Pasif: Hak Asasi yang Wajib Dilindungi Negara
Berita ini 40 kali dibaca

3 Komentar

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:33 WIB

Indonesia di Era Prabowo-Gibran: Negara Bilang Aman, Rakyat Masih Berjuang

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:29 WIB

Fenomena Karhutla dan Hak atas Lingkungan Hidup yang Baik dan Sehat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:10 WIB

73 Tahun KPU, Saatnya Berhenti Mengukur Demokrasi dari Pemilu Semata

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Lulusan Banyak, Lowongan Ada, Kok Masih Susah Dapat Kerja?

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:33 WIB

Manado Mengantre, Negara Dipertanyakan: Ketika BBM Menjadi Krisis Tata Kelola

Berita Terbaru

KILAS GLOBAL

Diplomasi Kuliner Indonesia Menggoyang Tver, UMKM Bidik Pasar Rusia

Sabtu, 24 Okt 2026 - 14:28 WIB