Gol yang Membakar Bumi

"Di balik gegap gempita Piala Dunia 2026, turnamen sepak bola terbesar di dunia menyisakan pertanyaan serius tentang jejak karbon, krisis iklim, dan tanggung jawab ekologis FIFA serta seluruh pemangku kepentingan olahraga global."

- Penulis

Senin, 20 Juli 2026 - 21:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nashrul Mu’minin, Conten Writer Yogyakarta

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Tidak ada yang mampu menyatukan miliaran manusia seperti sepak bola. Ketika Piala Dunia berlangsung, perbedaan bahasa, agama, ras, bahkan konflik politik seolah menghilang selama sembilan puluh menit pertandingan.

Orang rela begadang, memenuhi stadion, membeli jersey, hingga terbang ribuan kilometer demi menyaksikan negaranya bertanding. Namun, di balik gegap gempita tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang jarang kita renungkan: apakah pesta terbesar sepak bola dunia sedang merayakan kemenangan olahraga atau justru mempercepat kekalahan bumi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang dirasakan setiap hari melalui suhu yang semakin panas, cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Piala Dunia 2026 menghadirkan format yang jauh lebih besar dibandingkan edisi sebelumnya. Jumlah peserta bertambah menjadi 48 negara dengan 104 pertandingan yang tersebar di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dari sisi bisnis, penyelenggaraan ini tentu menjadi keberhasilan besar. FIFA memperoleh keuntungan ekonomi yang luar biasa melalui hak siar, sponsor, penjualan tiket, hingga sektor pariwisata.

Akan tetapi, semakin besar sebuah pesta, semakin besar pula jejak lingkungan yang ditinggalkan. Di sinilah persoalan sebenarnya bermula.

Masalah terbesar bukanlah stadion yang megah ataupun teknologi pertandingan yang semakin canggih. Persoalan utama justru berasal dari mobilitas manusia yang luar biasa masif. Jutaan suporter harus berpindah dari satu kota ke kota lain menggunakan pesawat.

Tim nasional, ofisial, media internasional, sponsor, hingga tamu VIP melakukan perjalanan udara berkali-kali selama turnamen berlangsung.

Transportasi udara menjadi penyumbang emisi karbon terbesar karena menggunakan bahan bakar fosil dalam jumlah sangat besar. Semakin jauh lokasi pertandingan, semakin tinggi pula emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer.

Ironisnya, konsep penyelenggaraan lintas negara sebenarnya memperlihatkan bahwa kepentingan komersial lebih dominan dibandingkan pertimbangan lingkungan. Stadion-stadion memang sudah tersedia sehingga tidak banyak pembangunan baru

Akan tetapi, keuntungan tersebut justru dikalahkan oleh meningkatnya kebutuhan perjalanan udara antarkota yang mencapai ribuan kilometer. Apa gunanya stadion yang ramah lingkungan apabila jutaan orang harus terus-menerus terbang untuk mencapainya?

Logika keberlanjutan menjadi kehilangan makna ketika desain turnamen sendiri mendorong konsumsi energi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika sebagian petinggi olahraga justru memberikan contoh yang bertolak belakang dengan kampanye pelestarian lingkungan.

Penggunaan jet pribadi oleh para pejabat olahraga untuk menghadiri berbagai pertandingan memperlihatkan bahwa komitmen keberlanjutan masih sebatas slogan.

Baca Juga :  Kyai dan Pesantren, Pilar Peradaban yang Tak Sembarang Bisa Direduksi Media

Padahal, satu penerbangan menggunakan jet pribadi dapat menghasilkan emisi karbon berkali-kali lipat dibandingkan penerbangan komersial per penumpang.

Publik akhirnya melihat adanya kesenjangan antara pidato mengenai penyelamatan bumi dengan praktik yang dilakukan oleh para pengambil keputusan.

Permasalahan lain yang tidak kalah penting ialah hubungan erat antara industri olahraga dengan perusahaan energi berbasis bahan bakar fosil. Ketika penyelenggara turnamen menjadikan perusahaan minyak sebagai mitra strategis, muncul pertanyaan mengenai arah komitmen keberlanjutan yang sebenarnya.

Di satu sisi publik diajak mengurangi emisi karbon, sementara di sisi lain industri yang selama puluhan tahun menjadi penyumbang emisi global tetap memperoleh ruang promosi yang sangat besar melalui panggung olahraga dunia. Pesan yang diterima masyarakat menjadi membingungkan.

Dampak perubahan iklim juga mulai dirasakan langsung di lapangan pertandingan. Suhu udara yang semakin tinggi membuat pemain lebih cepat mengalami kelelahan, menurunkan intensitas permainan, serta meningkatkan risiko cedera akibat tekanan panas.

Jika tren ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin pertandingan sepak bola di masa depan harus dipindahkan ke malam hari, bahkan bergeser ke musim yang berbeda. Artinya, perubahan iklim bukan lagi isu lingkungan semata, tetapi mulai mengubah karakter olahraga itu sendiri.

Keresahan terbesar sesungguhnya bukan hanya mengenai emisi karbon Piala Dunia, melainkan mengenai arah pembangunan global yang semakin mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek dibandingkan keberlanjutan kehidupan manusia.

Kita sering berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi hijau, pembangunan berkelanjutan, dan transisi energi, tetapi praktik di lapangan menunjukkan bahwa kepentingan bisnis masih menjadi prioritas utama. Selama keuntungan finansial menjadi ukuran keberhasilan, maka lingkungan akan terus berada di posisi kedua.

Indonesia sebenarnya memiliki landasan konstitusional yang sangat kuat untuk menjaga lingkungan hidup. Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa setiap orang berhak memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Selain itu, Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 menegaskan bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Dua ketentuan konstitusi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan, termasuk penyelenggaraan kegiatan internasional, semestinya tidak boleh mengorbankan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang sehat.

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan mengenai aksi terhadap perubahan iklim.

Dunia olahraga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku masyarakat. Oleh karena itu, FIFA sebenarnya memiliki kesempatan untuk menjadi contoh kepemimpinan global dalam pengurangan emisi karbon.

Sayangnya, peluang tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena kebijakan penyelenggaraan masih menghasilkan jejak karbon yang sangat tinggi.

Baca Juga :  Menjemput Kedaulatan Tambang Aceh di Era PP 39 Tahun 2025

Banyak pihak beranggapan bahwa olahraga tidak perlu dibebani dengan persoalan lingkungan karena tugas utamanya hanyalah menghibur masyarakat. Pandangan ini menurut saya kurang tepat.

Justru karena olahraga memiliki jutaan bahkan miliaran penggemar, maka olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah budaya masyarakat.

Ketika organisasi olahraga dunia berani menerapkan kebijakan rendah karbon, menggunakan transportasi ramah lingkungan, membatasi penggunaan jet pribadi, serta memilih sponsor yang selaras dengan agenda keberlanjutan, perubahan perilaku publik akan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sekadar kampanye pemerintah.

Piala Dunia seharusnya tidak hanya menghasilkan juara baru, tetapi juga melahirkan standar baru dalam penyelenggaraan olahraga internasional.

Turnamen sebesar ini dapat menjadi laboratorium inovasi hijau melalui penggunaan energi terbarukan, sistem transportasi publik terintegrasi, pengelolaan sampah yang baik, hingga pembatasan perjalanan udara yang tidak diperlukan.

Dengan demikian, keberhasilan penyelenggaraan tidak lagi hanya diukur dari jumlah penonton atau keuntungan ekonomi, tetapi juga dari keberhasilannya menjaga bumi.

Menurut saya, persoalan terbesar Piala Dunia 2026 bukan terletak pada bertambahnya jumlah peserta ataupun semakin luasnya wilayah penyelenggaraan.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika dunia mulai menganggap emisi karbon dalam jumlah sangat besar sebagai sesuatu yang normal selama menghasilkan keuntungan ekonomi.

Normalisasi inilah yang perlahan membentuk budaya baru bahwa kerusakan lingkungan adalah harga yang wajar untuk sebuah hiburan. Jika cara berpikir seperti ini terus berkembang, maka generasi mendatang akan mewarisi bumi yang jauh lebih panas dibandingkan hari ini.

Pada akhirnya, sepak bola memang mampu menyatukan manusia dari berbagai belahan dunia. Namun, persatuan tersebut akan kehilangan makna apabila bumi yang menjadi rumah bersama terus mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia sendiri.

Tidak ada trofi yang lebih berharga daripada lingkungan hidup yang tetap lestari. Tidak ada kemenangan yang pantas dirayakan apabila dibayar dengan meningkatnya suhu bumi, rusaknya ekosistem, serta hilangnya masa depan generasi berikutnya.

Karena itu, sudah saatnya FIFA, pemerintah, sponsor, pemain, dan para penggemar memandang sepak bola dari perspektif yang lebih luas. Piala Dunia tidak boleh hanya menjadi panggung kompetisi olahraga, tetapi juga panggung tanggung jawab ekologis.

Kita tentu ingin tetap bersorak ketika gol tercipta, tetapi kita juga ingin anak cucu kelak masih dapat menikmati pertandingan di bumi yang sama-sama layak dihuni.

Sepak bola boleh menjadi permainan paling indah di dunia, tetapi menjaga bumi adalah pertandingan yang jauh lebih penting dan tidak boleh kita kalah. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa
Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum
Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi
Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama
Untuk Apa Calon Pegawai Koperasi Desa Dimiliterisasi?
Ketika Makan Bergizi Gratis Kehilangan Kepercayaan Siswa
Buat Apa Jokowi Sibuk Melakukan Safari?
Kemanusiaan di Titik Nadir: Ketika Rumah Sakit Menjadi Jarahan Perang
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 21:58 WIB

Gol yang Membakar Bumi

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:25 WIB

Jangan Besarkan Program dengan Mengecilkan Rakyat Desa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:19 WIB

Negara Hukum Tidak Boleh Dikalahkan oleh Hasrat Menegakkan Hukum

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:50 WIB

Pengaruh Afirmasi Positif Orang Tua Terhadap Motivasi Mahasiswa dalam Menyelesaikan Studi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:34 WIB

Warisan Krisis Kepercayaan: Ketika Pemerintahan Baru Masih Dibayangi Legacy Lama

Berita Terbaru

LINTAS AKADEMIKA

Mengapa Profesor China Kunjungi Fakultas Teknik ITB?

Selasa, 21 Jul 2026 - 08:14 WIB