Oleh: Mia Dwi Utami, M. Riansyah dan Nazwa Wa’hidaini, Mahasiswa Universitas Pamulang
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Fenomena lulusan perguruan tinggi yang sulit mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu permasalahan yang banyak dibahas dalam beberapa tahun terakhir.
Pendidikan tinggi selama ini dianggap sebagai jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan pekerjaan yang layak. Namun pada kenyataannya, banyak lulusan kuliah yang justru mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan meskipun telah menyelesaikan pendidikan dengan baik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat mengenai penyebab utama sulitnya lulusan mendapatkan pekerjaan, apakah karena karakteristik Generasi Z (Gen Z) atau karena kondisi pasar kerja yang semakin sulit dan kompetitif.
Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh di era perkembangan internet dan teknologi digital. Mereka dikenal memiliki kemampuan yang baik dalam penggunaan teknologi, lebih kreatif, cepat beradaptasi, dan terbuka terhadap perubahan.
Akan tetapi, sebagian masyarakat dan perusahaan menilai bahwa Gen Z memiliki ekspektasi kerja yang terlalu tinggi, kurang pengalaman, serta cenderung memilih pekerjaan yang fleksibel dan nyaman.
Banyak perusahaan menganggap bahwa Gen Z lebih mudah berpindah pekerjaan dan kurang mampu bertahan dalam tekanan kerja dibandingkan generasi sebelumnya.
Di sisi lain, kondisi pasar kerja saat ini memang mengalami perubahan yang sangat besar akibat perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Dalam konsep analisis pasar tenaga kerja dijelaskan bahwa pasar tenaga kerja dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Permintaan tenaga kerja bergantung pada kebutuhan perusahaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan, sedangkan penawaran tenaga kerja berasal dari individu yang siap bekerja pada tingkat upah tertentu.
Ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan kebutuhan perusahaan menyebabkan persaingan kerja semakin tinggi, terutama bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja.
Perkembangan teknologi juga membuat perusahaan semakin selektif dalam merekrut tenaga kerja. Saat ini perusahaan tidak hanya membutuhkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan tambahan seperti kemampuan digital, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan pengalaman kerja.
Banyak lulusan perguruan tinggi yang belum memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri sehingga sulit bersaing di dunia kerja modern.
Dalam analisis pasar tenaga kerja dijelaskan bahwa pendidikan, keterampilan, teknologi, dan kondisi ekonomi makro menjadi faktor penting yang memengaruhi penawaran dan permintaan tenaga kerja.
Selain itu, sistem pendidikan di perguruan tinggi masih lebih banyak menekankan teori dibandingkan praktik lapangan. Akibatnya, banyak lulusan memiliki kemampuan akademik yang baik tetapi kurang memiliki pengalaman dan keterampilan praktis yang dibutuhkan perusahaan.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Perusahaan saat ini membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi juga dipengaruhi oleh jumlah pencari kerja yang terus meningkat setiap tahun. Sementara itu, pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak selalu mampu mengimbangi jumlah lulusan baru.
Banyak perusahaan lebih memilih kandidat yang sudah memiliki pengalaman kerja dibandingkan fresh graduate. Hal ini menyebabkan lulusan baru semakin sulit memperoleh pekerjaan meskipun memiliki pendidikan tinggi.
Perkembangan digitalisasi juga menyebabkan beberapa jenis pekerjaan mulai berkurang bahkan tergantikan oleh sistem otomatisasi.
Namun di sisi lain, muncul pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan khusus di bidang teknologi seperti digital marketing, programmer, data analyst, content creator, dan desain grafis.
Sayangnya, tidak semua lulusan memiliki kemampuan tersebut sehingga terjadi kesenjangan keterampilan atau skill gap antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.
Meskipun demikian, sulitnya lulusan memperoleh pekerjaan tidak sepenuhnya dapat disalahkan kepada Gen Z maupun kondisi pasar kerja saja. Permasalahan ini terjadi karena adanya kombinasi berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.
Dari sisi internal, sebagian lulusan masih kurang memiliki pengalaman kerja dan keterampilan praktis. Sementara dari sisi eksternal, pasar kerja saat ini semakin kompetitif akibat perkembangan teknologi, tingginya jumlah pencari kerja, dan perubahan kebutuhan industri.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, mahasiswa perlu meningkatkan kemampuan tambahan di luar akademik seperti kemampuan digital, komunikasi, bahasa asing, dan pengalaman organisasi maupun magang.
Perguruan tinggi juga perlu menyesuaikan kurikulum pembelajaran dengan kebutuhan dunia kerja serta memperbanyak program praktik dan pelatihan keterampilan.
Selain itu, perusahaan dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi fresh graduate melalui program pelatihan dan pengembangan karier.
Pemerintah juga memiliki peran penting dalam memperluas lapangan pekerjaan dan meningkatkan program pelatihan tenaga kerja berbasis teknologi.
Dengan demikian, fenomena lulusan kuliah yang sulit mendapatkan pekerjaan bukan hanya kesalahan Gen Z ataupun pasar kerja semata, melainkan akibat perubahan dunia kerja yang semakin kompleks dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara mahasiswa, perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah agar lulusan perguruan tinggi lebih siap menghadapi persaingan kerja di era modern. (Red)
Editor : DT Atmaja













Komentar