Presiden, Kata “Bajingan”, dan Marwah Kepemimpinan

"Satu kata dari seorang presiden bisa menjadi simbol ketegasan, tetapi juga memantik perdebatan tentang etika, budaya, dan standar komunikasi seorang kepala negara di ruang publik"

- Penulis

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto (gambar: pinterest)

Presiden Prabowo Subianto (gambar: pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap pemimpin memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang formal, diplomatis, ada pula yang dikenal lugas dan ‘ceplas-ceplos’.

Namun, ketika seseorang sudah menduduki kursi presiden, setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak lagi sekadar mewakili pribadi, melainkan juga mencerminkan sebuah negara.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa di setiap partai politik ada “patriot” sekaligus “bajingan” saat peringatan Hari Koperasi Nasional beberapa waktu lalu, sontak memunculkan diskusi yang menarik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai ungkapan spontan khas Betawi yang menunjukkan ketegasan. Sebagian lainnya menilai pilihan diksi tersebut kurang pantas disampaikan dalam forum resmi kenegaraan.

Lalu, sebenarnya komunikasi seperti apa yang ideal bagi seorang pemimpin?

Ilmu komunikasi politik memberikan jawaban yang cukup jelas. Menurut Harold D. Lasswell, komunikasi politik bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk persepsi publik melalui pilihan simbol, bahasa, dan narasi yang digunakan pemimpin (Lasswell, 1948: 37).

Artinya, satu kata saja dapat menghasilkan makna politik yang jauh lebih besar daripada niat awal pembicaranya.

Baca Juga :  Kegiatan Berbagi Bahagia Ramadhan 1446 H Bersama Sahabat Tuli LAZNAS Nurul Hayat Sukses Digelar, Simak!

Hal senada juga dikemukakan Doris A. Graber. Ia menjelaskan bahwa bahasa politik memiliki kekuatan membangun citra, menciptakan emosi, bahkan memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah (Graber, 2003: 18).

Karena itu, pemimpin dituntut mampu memilih diksi yang efektif tanpa mengurangi kewibawaan institusi yang diwakilinya.

Di sisi lain, komunikasi yang terlalu kaku juga bukan menjadi sebuah solusi. Stephen P. Robbins menilai bahwa komunikasi yang efektif justru harus mampu menciptakan kedekatan emosional antara pemimpin dan publik melalui bahasa yang mudah dipahami masyarakat (Robbins & Judge, 2017: 336).

Dengan kata lain, seorang presiden boleh berbicara santai, tetapi tetap menjaga batas kepantasan.

Perspektif etika komunikasi juga memberikan rambu yang tegas. Richard L. Johannesen menyatakan bahwa etika komunikasi menuntut setiap komunikator mempertimbangkan dampak moral dari setiap pesan yang disampaikan kepada publik, terutama ketika memiliki posisi kekuasaan (Johannesen, Valde, & Whedbee, 2008: 31). Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab etikanya.

Di Indonesia sendiri, budaya politik sangat menghargai kesantunan berbahasa. Franz Magnis-Suseno mengingatkan bahwa etika politik tidak hanya diukur dari keputusan yang diambil, tetapi juga dari cara seorang pemimpin memperlakukan masyarakat melalui tutur katanya (Magnis-Suseno, 1987: 67).

Baca Juga :  Bagaimana Jika Perusahaan Gak Ngasih THR kepada Karyawan?

Bahasa yang santun bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan penghormatan kepada sebuah bangsa, kepada rakyat yang dipimpinnya.

Karena itu, polemik mengenai kata “bajingan” sebetulnya bukan semata soal satu diksi. Yang diperdebatkan publik adalah standar komunikasi seorang kepala negara.

Sebagian orang memahami konteks budaya Betawi yang dijelaskan Presiden Prabowo. Namun, sebagian lainnya lebih menekankan bahwa pidato kenegaraan memiliki standar etik yang berbeda dengan percakapan sehari-hari.

Pada akhirnya, masyarakat tentu menginginkan pemimpin yang autentik, tidak dibuat-buat, dan berani berbicara apa adanya. Namun, keberanian itu akan lebih bernilai jika dibarengi dengan kebijaksanaan dalam memilih kata.

Sebab, dalam politik, ucapan bukan sekadar suara, melainkan simbol kepemimpinan. Dan bagi seorang presiden, setiap kata selalu memiliki gema yang jauh lebih panjang daripada sekadar tepuk tangan di akhir pidato. (Red)

Penulis : Didik T. Atmaja, mahasiswa dan peneliti

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bediding Mulai Menggigit! Dini Hari di Wilayah Sugio Bisa Bikin Menggigil, Warga Diminta Siaga Hadapi Puncak Kemarau
Dinasti Sepak Bola Runtuh! Jerman dan Brasil Tersingkir, Spanyol Melaju ke Final Piala Dunia 2026
Tentang TERAS 67
Lagi-Lagi, Pebalap Muda Indonesia Juara! Kiandra Ramadhipa Bikin Indonesia Raya Bergema di Jerman
O!Save Makin Ramai Diburu! Minimarket Oranye Ini Siap Goyang Dominasi Alfamart dan Indomaret?
Belajar Meracik Peluang Usaha dari Tepung Kentucky di Balerejo
Kerennya China! Sudah Tanam 66 Miliar Pohon, Pertumbuhannya Malah Ngebut Kalahkan Hutan Alami
NDASMU!
Berita ini 25 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 15 Juli 2026 - 15:43 WIB

Dinasti Sepak Bola Runtuh! Jerman dan Brasil Tersingkir, Spanyol Melaju ke Final Piala Dunia 2026

Selasa, 14 Juli 2026 - 09:22 WIB

Presiden, Kata “Bajingan”, dan Marwah Kepemimpinan

Selasa, 14 Juli 2026 - 06:00 WIB

Tentang TERAS 67

Senin, 13 Juli 2026 - 09:09 WIB

Lagi-Lagi, Pebalap Muda Indonesia Juara! Kiandra Ramadhipa Bikin Indonesia Raya Bergema di Jerman

Minggu, 12 Juli 2026 - 13:10 WIB

O!Save Makin Ramai Diburu! Minimarket Oranye Ini Siap Goyang Dominasi Alfamart dan Indomaret?

Berita Terbaru