NDASMU!

- Penulis

Kamis, 2 Juli 2026 - 20:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG
Pak Guru…”
“Iya, Nadin.”
Kalau orang bilang ndasmu, itu pelajaran Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa?”

Pak Guru menghentikan kapurnya. Menatap papan tulis. Lalu menatap murid kelas lima yang wajahnya lebih serius daripada soal pecahan desimal.

Kenapa bertanya begitu?”
“Soalnya kemarin saya dengar di televisi.”
“Di acara lawak?”
“Bukan.”
“Di sinetron?”
“Bukan juga.”
“Di debat mahasiswa?”
“Lebih tinggi lagi, Pak.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pak Guru menghela napas.
Ooh…

Nadin melanjutkan, “Teman-teman jadi ikut-ikutan bilang ndasmu. Katanya sekarang itu kata yang terkenal.”

Pak Guru berdiri dari duduknya.
Nadin, kamu tahu arti ndas?”
“Kepala.”
“Kalau ditambah–mu?”
“Kepalamu.”
“Nah. Tapi dalam percakapan, kata itu sering dipakai bukan untuk menunjuk kepala. Melainkan untuk menolak, mengejek, atau merendahkan lawan bicara.”
Nadin mengangguk.

Berarti seperti kalau saya bilang ke Budi, ‘Matematikamu jelek.'”
“Bukan.”
“Kalau saya bilang, ‘Jawabanmu salah.?'”
“Bukan juga.”
“Lalu, Pak?”
“Kalau kamu bilang ndasmu, kamu sebenarnya tidak sedang membantah pendapat. Kamu sedang menyerang orangnya.”
“Oh…”

Kelas mulai sunyi.
Pak Guru melanjutkan.
Dulu, waktu Bapak masih kecil, orang tua mengajarkan satu hal. Kalau tidak punya kata-kata yang baik, lebih baik diam.”
“Kalau sekarang pak?”
“Sekarang kadang yang dicari bukan lagi kata yang baik.”
“Yang dicari tepuk tangan.”

Anak-anak mulai saling pandang.
Pak, memang tepuk tangan lebih penting daripada sopan santun?”
“Tidak.”
“Lho, kok banyak orang begitu?”

Pak Guru tersenyum pahit.
Itulah pelajaran yang tidak ada di buku.”
Nadin kembali bertanya.
“Pak, kalau orang besar ngomong kasar, apakah otomatis jadi benar?”
“Tidak.”
“Kalau banyak yang tertawa?”
“Tidak juga.”
“Kalau banyak yang membela?”
“Masih tetap tidak.”
“Kalau viral?”

Pak Guru tertawa kecil.
Nak, viral hanya menunjukkan banyak yang melihat. Bukan banyak yang benar.”
Nadin mencatat sesuatu.
“Apa yang kamu tulis?”
‘Jumlah penonton tidak sama dengan kualitas tontonan.’

Baca Juga :  Pancasila, Pilar Kebangsaan dalam Menghadapi Tantangan

Pak Guru mengangguk pelan.
Lalu kenapa orang tetap melakukannya, Pak?”
“Karena kata-kata kasar itu seperti petasan.”
“Ramai?”
“Iya.”
“Cepat menarik perhatian?”
“Iya.”
“Tapi?”
“Setelah meledak, tinggal asap.”

Nadin kembali mengangkat tangan.
Pak, kalau begitu kenapa orang yang sekolahnya tinggi masih suka memakai kata seperti itu?”
Pak Guru terdiam cukup lama.
Karena ternyata…
ijazah bisa membuat orang pandai.
Tetapi tidak otomatis membuat orang beradab.

Baca Juga :  PHK Massal Seluruh Karyawannya, Begini Perjalanan Panjang Stasiun Televisi ANTV

Bel berbunyi.
Anak-anak berhamburan keluar.
Sebelum pintu kelas tertutup, Nadin menoleh lagi.
Pak…”
“Iya?”
“Besok kita belajar Bahasa Indonesia lagi?”
“Iya.”
“Belajar memilih kata?”
“Iya.”
“Soalnya saya baru tahu…”
“Apa?”
“Ternyata yang paling sulit dalam berbahasa bukan menyusun kalimat.”
“Lalu?”
Menahan lisan.”

Pak Guru tersenyum.
Hari itu tidak ada pekerjaan rumah.
Selain satu.
Menjaga kepala…
agar tidak lebih cepat daripada hati.
Karena kepala memang diciptakan untuk berpikir.
Bukan untuk dilemparkan kepada orang lain dalam bentuk kata: ‘Ndasmu.’ (Red)

Penulis : Ali Achmadi, aktivis dari Pati, Jawa Tengah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
Menyulam Kebhinekaan dalam Irama Borneo
Berita ini 75 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Jumat, 11 September 2026 - 13:22 WIB

TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB