SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Urusan kuliner bukan cuma soal rasa yang bikin nagih. Kehalalan bahan, kebersihan proses pengolahan, dan kejujuran pedagang juga menjadi kunci agar bisnis makin dipercaya pelanggan.
Pesan inilah yang dibawa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukoharjo melalui kegiatan Makan Malam & Bincang Santai di Pendopo Balai Desa Madegondo, Kecamatan Grogol, Minggu (25/10/2026) malam.
Mengusung tema “Gerakan Masyarakat Menjual & Mengonsumsi Kuliner Halal”, kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tokoh masyarakat, serta warga setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan seminar formal yang kaku, acara ini dikemas dengan suasana akrab melalui jamuan makan malam bersama, dilanjutkan diskusi seputar pentingnya kuliner halal bagi konsumen maupun keberlanjutan bisnis.
Tagline yang diusung pun cukup menggelitik: “Datang Awal Dapat Konsumsi, Datang Akhir Dapat Relasi.” Selain menjadi pemantik antusiasme peserta, konsep ini membawa pesan bahwa ruang pertemuan warga bisa menjadi tempat membangun jejaring sosial sekaligus membuka peluang kemitraan usaha.
Kuliner Halal Bukan Sekadar Label
Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah & Hubungan Antarumat Beragama MUI Kabupaten Sukoharjo, H. Sofwan Faizal Sifyan, S.AP., yang bertindak sebagai moderator, menekankan pentingnya pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dalam menyampaikan pesan keagamaan.
Menurutnya, makan malam bersama dan diskusi santai menjadi cara untuk menghubungkan nilai-nilai syariat dengan aktivitas ekonomi warga sehari-hari.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat edukasi halal terasa lebih membumi, tanpa kesan menggurui. Warga juga memiliki ruang untuk bertanya, bertukar pengalaman, dan membangun relasi yang mendukung kegiatan usaha.
Bagi pelaku UMKM kuliner, pemahaman tentang halal menjadi penting karena berkaitan dengan kepercayaan pelanggan. Konsumen bukan hanya mencari makanan yang enak, tetapi juga ingin merasa aman dan yakin terhadap bahan serta proses pengolahannya.
Sertifikasi Halal Bisa Jadi Modal Naik Kelas
Perspektif akademis disampaikan Dr. H. Mohtar Yunianto, S.Si., M.Si., perwakilan Peer Group Pusat Studi Halal Center Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Ia mengulas hubungan antara sertifikasi halal, higienitas pangan, dan daya saing UMKM di tengah persaingan pasar yang semakin terbuka.
Menurut Mohtar, pemahaman halal perlu dilihat bukan hanya sebagai pemenuhan kewajiban agama, tetapi juga bagian dari upaya menjaga mutu dan keamanan produk.
Bagi pedagang, kejelasan bahan baku dan proses produksi dapat membantu membangun kepercayaan konsumen. Sementara itu, sertifikasi halal dapat menjadi nilai tambah bagi usaha yang ingin memperluas jangkauan pasar.
Karena itu, pelaku UMKM didorong untuk mulai memperhatikan aspek kehalalan secara menyeluruh, dari pemilihan bahan hingga proses penyajian. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mendorong usaha kuliner lokal agar semakin profesional dan kompetitif.
Jujur Berdagang, Konsumen Makin Tenang
Selain aspek produksi dan bisnis, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya etika berdagang dalam Islam.
Drs. H. Ibad Sutono, M.Ag., Ketua Majelis Mujahidin LPW Jawa Tengah yang hadir sebagai narasumber pendamping, menekankan bahwa kejujuran harus menjadi fondasi utama dalam menjalankan usaha kuliner.
Prinsip tersebut perlu diterapkan sejak memilih bahan baku, mengolah makanan, hingga menyajikannya kepada pelanggan. Pedagang juga dituntut terbuka mengenai bahan yang digunakan dan tidak melakukan manipulasi yang dapat merugikan konsumen.
Di sisi lain, masyarakat sebagai pembeli perlu lebih cermat dalam memilih makanan. Bertanya mengenai bahan dan memastikan kejelasan produk menjadi bagian dari sikap konsumen yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, gerakan kuliner halal bukan hanya menjadi urusan pedagang atau lembaga keagamaan, melainkan tanggung jawab bersama untuk menciptakan ekosistem pangan yang aman, jujur, dan sesuai ketentuan.
Dari Bincang Santai Menuju Ekonomi Umat
Diskusi berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab. Sejumlah pedagang lokal memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai pemilihan bahan baku dan proses pengurusan sertifikat halal.
MUI Kabupaten Sukoharjo berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperluas gerakan menjual dan mengonsumsi kuliner halal di berbagai wilayah.
Jika dilakukan secara konsisten, edukasi semacam ini dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat kepercayaan konsumen.
Pada akhirnya, membangun bisnis kuliner yang berkah membutuhkan lebih dari sekadar resep andalan. Ada kejujuran, kebersihan, kepastian bahan, dan komitmen menjaga kepercayaan pelanggan yang harus berjalan beriringan.
Dari meja makan di Madegondo, pesan itu mengemuka yakni kuliner yang enak bisa mengundang pelanggan, tetapi kualitas, kejujuran, dan kehalalanlah yang membantu menjaga kepercayaan mereka. (Red)













Komentar