SUARAMUDA.NET, BLORA — Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh menegaskan bahwa dakwah harus menjadi ruh dalam setiap gerak perjuangan Pagar Nusa.
Kekuatan kader, menurutnya, perlu berpijak pada nilai keagamaan, akhlak, dan pengabdian untuk menjaga ulama serta melindungi umat.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Ubaid dalam Konferensi Wilayah IV Pagar Nusa Jawa Tengah di Pendopo Bupati Blora, Ahad (18/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kekuatan terbesar Pagar Nusa terletak pada dakwah. Pagar Nusa mempunyai tanggung jawab menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, membentuk akhlak, dan membangun karakter generasi muda. Karena itu, dakwah harus menjadi ruh dalam setiap gerak dan perjuangan Pagar Nusa,” tuturnya.
Kiai Ubaid mengingatkan bahwa pembentukan kader Pagar Nusa memiliki kaitan erat dengan tanggung jawab keagamaan dan kemasyarakatan. Keberanian dan kemampuan yang dimiliki harus diarahkan untuk menghadirkan manfaat bagi umat.
“Kekuatan kita harus dibangun di atas nilai-nilai keagamaan, akhlak, dan komitmen pengabdian. Dengan begitu, Pagar Nusa dapat terus menjalankan perannya sebagai bagian dari perjuangan Nahdlatul Ulama dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan masyarakat,” ujarnya.
Meneladani Sayyidina Umar
Dalam sambutannya, Kiai Ubaid mengangkat doa Rasulullah SAW tentang penguatan Islam melalui salah seorang dari dua tokoh, yakni Abu Jahal atau Umar bin Khattab.
Ia kemudian menyampaikan redaksi doa lain yang secara khusus menyebut Umar bin Khattab.
Melalui penjelasan tersebut, ia mengajak kader memahami pentingnya sosok yang kuat dan berani dalam memperjuangkan agama. Keteladanan Sayyidina Umar, menurutnya, perlu menjadi rujukan nilai bagi kader Pagar Nusa.
“Pada zaman Nabi memang belum ada organisasi Pagar Nusa, tetapi nilai-nilai Pagar Nusa sudah ada. Maka, sanad perjuangan Pagar Nusa harus sampai kepada Sayyidina Umar bin Khattab,” katanya.
Kiai Ubaid menekankan bahwa keberanian harus disertai keteguhan dan kesediaan mengabdi. Kekuatan memperoleh arah ketika digunakan untuk menjaga agama, ulama, dan keselamatan umat.
“Kader Pagar Nusa harus meneladani keberanian, keteguhan, dan pengabdian beliau. Kekuatan itu digunakan untuk membela agama, menjaga ulama, serta melindungi umat,” tuturnya.
Menjaga Kebersihan Organisasi
Kiai Ubaid juga memberikan apresiasi terhadap Pagar Nusa sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga jati diri organisasi.
“Pagar Nusa ini bisa saya sampaikan bahwa sampai hari ini adalah badan otonom yang—saya tidak ingin menyebut paling ikhlas—tapi paling clean, paling bersih. Ini harus terus dijaga,” ujarnya.
Ia meminta seluruh jajaran mewaspadai kepentingan politik yang dapat menggeser orientasi perjuangan. Menurutnya, nilai keagamaan dan pengabdian harus tetap menjadi dasar dalam menjalankan organisasi.
“Jangan sampai ada kepentingan-kepentingan politik yang justru menyelimutinya dan menggeser jati diri serta tujuan perjuangan organisasi,” pesannya.
Turut Berdiri dalam Ikrar Kader
Kebersamaan Kiai Ubaid dengan para kader juga terlihat ketika Ketua Umum PP Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil memandu sumpah dan janji setia kepada Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama.
Saat Gus Nabil meminta seluruh hadirin yang merasa sebagai kader Pagar Nusa untuk berdiri, Kiai Ubaid turut berdiri mengikuti prosesi bersama para kader.
Gus Nabil kemudian mengajak hadirin hening, memejamkan mata, dan mengikuti setiap kalimat yang dipandunya.
“Ucapkan tidak dengan keras, tapi dengan ikhlas,” pesannya.
Prosesi diawali pembacaan dua kalimat syahadat, dilanjutkan ikrar kesetiaan kepada Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama serta kesiapsiagaan mengabdi demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gus Nabil memberikan penjelasan bahwa kepatuhan kepada pimpinan dalam sumpah tersebut merujuk pada perintah yang benar.
“Yang dimaksud patuh dan setia pada perintah pimpinan dalam sumpah tadi adalah mengikuti perintah yang haq (benar), bukan yang bathil (salah),” jelasnya.
Memperluas Pengabdian
Dalam arahannya, Gus Nabil menegaskan bahwa kehadiran Pagar Nusa harus membuat masyarakat merasa aman, terlindungi, dan terbantu.
“Pagar Nusa harus hadir menjadi solusi di tengah masyarakat. Kehadiran kader kita harus membuat masyarakat merasa aman, terlindungi, dan terbantu. Jangan sampai justru menjadi sumber masalah,” ujarnya.
Untuk mendukung pengabdian tersebut, ia menyampaikan upaya penguatan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan Dewan Pengacara Nasional Indonesia.
Kerja sama itu membuka akses Pendidikan Khusus Profesi Advokat bagi 2.000 kader Pagar Nusa.
Gus Nabil juga memaparkan rencana pengembangan e-Pagar Nusa yang diperkirakan selesai dalam 12 hingga 14 bulan ke depan.
Sistem tersebut dirancang untuk mendukung administrasi organisasi, terintegrasi dengan e-KTA, serta mengembangkan dukungan pendataan prestasi atlet melalui PRIMA dan pengajuan pendampingan hukum melalui LABH.
Menurutnya, penguatan kemampuan kader dan pembenahan tata kelola harus memudahkan organisasi dalam melayani anggota serta masyarakat.
Arief Rohman Terpilih Kembali
Konferwil IV Pagar Nusa Jawa Tengah menghasilkan terpilihnya kembali Arief Rohman secara aklamasi sebagai ketua wilayah. Ia mengajak seluruh jajaran menjaga kesolidan dan memperkuat komunikasi dari wilayah hingga struktur di bawahnya.
“Kesolidan adalah modal utama untuk memajukan Pagar Nusa Jawa Tengah. Kekuatan organisasi ada pada kebersamaan seluruh jajaran, mulai dari wilayah, cabang, hingga struktur di bawahnya,” katanya.
Arief menekankan pentingnya musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan pandangan. Kebersamaan tersebut diperlukan untuk menjalankan kaderisasi, pembinaan atlet, penguatan kelembagaan, dan pengabdian kepada NU.
Kegiatan yang didahului prakonferwil pada 17 Oktober 2026 itu diikuti pengurus PW dan seluruh PC Pagar Nusa se-Jawa Tengah. Hadir pula Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah H Agus Riyanto, serta unsur Ketua DPRD, Kapolres, Dandim, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Blora. (Red)















Komentar