SUARAMUDA.NET, SERANG — Jempol memang bisa bergerak dalam hitungan detik. Namun, kalau informasi yang dibagikan ternyata hoaks, dampaknya bisa merembet ke mana-mana.
Mulai dari bikin keluarga panik, memicu salah paham antartetangga, hingga merusak kerukunan warga.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan mengecek kebenaran berita sebelum menekan tombol forward menjadi semakin penting.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apalagi, aplikasi pesan instan seperti WhatsApp sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, dari kalangan anak muda hingga orang tua.
Sayangnya, kemudahan berbagi informasi belum selalu diimbangi kemampuan memilah fakta dan kabar palsu.
Pesan dengan judul provokatif, narasi yang bikin panik, atau ajakan untuk segera menyebarkan informasi kerap diteruskan begitu saja tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pamulang Serang, menghadirkan pendampingan literasi digital bagi masyarakat di Kelurahan Kedaleman.
Bukan Sekadar Bisa Pakai Gawai
Melalui program bertajuk “Pendampingan Bijak Bermedia Sosial dan Pencegahan Berita Hoax pada Kalangan Masyarakat di Kelurahan Kedaleman”, mahasiswa mengajak warga lebih kritis saat menerima maupun membagikan informasi.
Tim pengabdian ini dipimpin Viky Ramadhan, bersama Syekhul Hiqni Salam, Muhammad Danish Affarel Tanjung, dan Nayla Syakhila Nurfaiza. Kegiatan tersebut berada di bawah bimbingan dosen Ahmad Syukri, S.I.P., M.I.P.
Pendampingan dirancang dengan pendekatan partisipatif. Alih-alih menggunakan metode pembelajaran yang kaku, mahasiswa mengedepankan dialog terbuka, diskusi santai, dan pembahasan contoh pesan yang beredar di masyarakat.
Lewat cara ini, warga diajak mengenali tanda-tanda informasi mencurigakan. Misalnya, pesan dari sumber yang tidak jelas, penggunaan kata-kata berlebihan untuk memancing emosi, hingga desakan agar informasi segera diteruskan ke banyak orang.
Peserta juga diperkenalkan pada langkah-langkah sederhana untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.
Pesan utamanya jelas: jangan buru-buru percaya, jangan langsung menyebarkan, dan biasakan cek fakta.
Hoaks Bisa Ganggu Kerukunan Warga
Berita bohong bukan sekadar persoalan di dunia maya. Ketika informasi yang keliru masuk ke grup keluarga, lingkungan RT, atau komunitas warga, dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kesalahpahaman dapat berkembang menjadi keresahan, saling curiga, bahkan konflik antarwarga. Karena itu, membangun kecakapan digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang tanggung jawab dalam berkomunikasi.
Seseorang yang terbiasa memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya turut membantu menjaga ruang digital tetap sehat. Sebaliknya, satu pesan yang diteruskan tanpa verifikasi berpotensi memperpanjang rantai penyebaran kabar palsu.
Pendampingan ini menjadi pengingat bahwa setiap pengguna media sosial punya peran dalam menentukan kualitas informasi yang beredar di lingkungannya.
Literasi Digital Harus Membumi
Membangun masyarakat yang bijak bermedia digital tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam. Dibutuhkan kebiasaan yang terus dipraktikkan serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Melalui kegiatan di Kelurahan Kedaleman, mahasiswa Universitas Pamulang Serang mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif agar warga lebih cermat menghadapi banjir informasi.
Harapannya, literasi digital tidak berhenti sebagai teori di ruang kuliah, tetapi benar-benar menjadi keterampilan yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, melawan hoaks tidak selalu harus dimulai dengan teknologi canggih. Terkadang, langkah paling sederhana justru menjadi yang paling penting: berhenti sejenak, periksa sumbernya, bandingkan informasinya, lalu putuskan apakah kabar tersebut layak dibagikan.
Jadi, sebelum menekan tombol forward, pastikan dulu kebenarannya. Jempol boleh cepat, tetapi pikiran harus tetap cermat. (Red)
Penulis: Viky Ramadhan, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pamulang Serang













Komentar